Sabtu, 17 November 2018


Menjadi Pribadi Istimewa di Hati-Nya
    
Luk 21: 1-4


Sahabat Dehonian yang terkasih, pada Injil, janda miskin mendapatkan pujian dari Tuhan. Tuhan melihat bagaimana ia memberikan persembahan di atas kekurangan. Kekurangan di sini dapat dipahami bahwa ia tidak memiliki uang lagi sebagai kepunyaan setelah memberikan semuanya itu untuk persembahan. Yang patut mendapat pujian di sini adalah bagaimana ia tidak mementingkan diri. Meski kekurangan, namun ia tetap memberi. Karena tindakan yang terpuji itu, Tuhan melihatnya sebagai bentuk keteladanan. Maka tidak heran, Ia -setelah melihat janda miskin memasukkan dua peser uang ke dalam peti persembahan- langsung memberikan pengajaran kepada orang-orang di sekitar-Nya untuk mencontoh laku baik yang dibuat oleh si janda miskin.
Bagi Tuhan, janda miskin itu adalah pribadi yang mendapat nilai lebih di Hati-Nya. Ia mendapat penghargaan istimewa di Hati Tuhan. Melalui janda miskin itu, Tuhan sekaligus mengajar orang-orang di sekitarnya untuk berusaha memberi di atas kekurangan. Dan inilah yang menjadi poin penting untuk menjadi “pribadi yang istimewa” di hadapan Tuhan.
Sahabat Dehonian yang saya kasihi, undangan memiliki semangat seperti janda miskin; memberi di atas kekurangan, merupakan undangan untuk setiap orang yang ingin menjadi “pribadi yang istimewa” di hadapan Tuhan. Memang, ini bukan sesuatu yang mudah; tapi akan menjadi mudah bila didasari dengan niat. Pertanyaannya adalah maukah untuk tetap memberi meski jarang mendapatkan pemberian; maukah untuk memuji orang lain meski kadang pujian bagi diri tidak didapatkan; maukah untuk tetap memberi sapaan meski diri sendiri tidak disapa; maukah untuk membantu orang lain meski di atas keterbatasan waktu atau tenaga yang di miliki? Itu semua merupakan pertanyaan dan juga dorongan untuk berbagi di atas kekurangan diri.
Sahabat Dehonian yang terberkati, saya yakin, pada hari ini masih tetap ada “pribadi-pribadi istimewa” yang mau berbagi; dan Anda, bisa jadi di antaranya.

Semoga, Hati Kudus Yesus senantiasa merajai hati saudara dan saudari sekalian. Amin!

Jumat, 19 Oktober 2018


Luc 12: 8-12

“Car l’Esprit Saint vous enseignera à cette heure-là ce qu’il faudra dire”.
L’invitation à témoigner de Dieu est un appel aujourd’hui. Cela peut être réalisé en étant reconnaissant pour chaque second du temps.

Selasa, 16 Oktober 2018



BERSYUKUR DAN MENJADI TANDA KASIH




Luk 12: 54-59

Saudara-saudariku yang diberkati Tuhan, saya tertarik ketika memerhatikan beberapa penumpang dalam bis yang biasa saya naiki ketika berangkat atau pulang kuliah. Sebagian besar dari mereka ketika sudah sampai di stasiun yang dituju, dan saat hendak meninggalkan bis, berkata kepada sopir: “Merci” (“Terimakasih”) atau juga dengan berkata “Merci, au revoir” (“Terima kasih, jumpa kembali”). Begitulah kebiasaan penumpang yang ada di sini, yakni selalu mengucap terima kasih atas tanda kasih yang telah diberikan sopir bis berupa pelayanan jasa transportasi.
Ucapan penumpang kepada sopir “Terima kasih” atau “Terima kasih, jumpa kembali”, merupakan ungkapan syukur atas tanda kasih yang telah mereka terima. Tanda kasih itu diterima karena kebaikan jasa sopir, atas kenyamanan perjalanan dan pencapaian tujuan yang diinginkan. Para penumpang sadar betul akan tanda kasih yang sudah mereka terima dan memang sudah layak jika tanda kasih itu dibalas dengan ucapan kasih pula.
Atas pengalaman itu, saya teringat akan nilai hidup yang sudah ditanamkan oleh kedua orang tua saya sejak kacil. Saya ingat bagaimana kedua orang tua selalu mengingatkan: “Jenli, jangan lupa mengucapkan terima kasih kepada orang yang sudah memberi kamu sesuatu atau sudah membantu kamu”. Saya melihat bahwa nilai hidup yang ditanamkan oleh kedua orang tua saya itu sebenarnya ingin mengajarkan supaya selalu sadar; sadar untuk mensyukuri jika setiap saat saya menerima tanda kasih dari orang lain.
Kesadaran untuk mengalami dengan betul bahwa saya dikasihi adalah poin penting untuk menjadi orang yang selalu bersyukur. Rasanya, Tuhan Yesus dalam Injil hari ini ingin mendobrak kesadaran orang-orang pada jaman-Nya yang mungkin kesadaran untuk mensyukuri rahmat yang mereka terima belum dialami. Sebenarnya mereka -yakni orang-orang yang mendengar Yesus pada Injil hari ini- dihadapkan dengan rahmat agung yang sedang mereka lihat, dengar dan alami. Hanya saja, mereka kurang sadar akan kehadiran Yesus, Mesias, yang saat itu ada bersama dengan mereka. Betul bahwa mereka memang sadar akan tanda-tanda alam, tetapi mereka kurang peka untuk sadar terhadap tanda kasih kehadiran Allah yang berada di tengah mereka. Jika saja mereka sadar akan rahmat agung di hadapan mereka, yakni dalam kehadiran Yesus Tuhan, pasti mereka akan mensyukuri rahmat itu dan pada saat itu pula percaya kepada-Nya.
Saudara-saudariku yang diberkati, Tuhan dalam Injil hari ini sejatinya mengundang kita untuk memiliki kesadaran akan begitu banyak rahmat yang sudah kita terima dari-Nya dan yang juga disalurkan melalui sesama kita, yakni melalui orang tua, anggota keluarga, rekan sekomunitas, rekan kerja, teman sekolah dan lainnya. Kesadaran ini diharap menjadi gerakan hati untuk menunjukkan tanda terima kasih kita kepada Tuhan dengan selalu bersyukur pada-Nya; dan juga kepada sesama yang kita tunjukkan melalui tindakan serta kata-kata yang terpuji. Dengan demikian, kita pun diharap dapat menjadi tanda kasih itu sendiri bagi sesama.

Semoga, Hati Kudus Yesus senantiasa merajai hati saudara dan saudari sekalian. Amin!

Senin, 10 September 2018


ANDALKAN TUHAN DALAM PERUTUSAN
    
Renungan Singkat Dehonian
Luk 9: 1-6


Vivat cor Iesu per cor Mariae
Terpujilah Hati Yesus melalui hati Maria.

Saudara-saudariku yang diberkati Tuhan, ketika saya menjalankan tugas perutusan di sebuah paroki dalam lingkup Keuskupan Agung Palembang – Sumatera Selatan, ada sebuah kisah menarik yang saya miliki. Kisah itu merupakan pengalaman kebersamaan dengan komunitas atau paguyuban para prodiakon paroki yang selalu mengadakan pertemuan rutin. Dalam pertemuan rutin itu, mereka belajar bersama untuk mendalami ajaran iman Katolik. Yang baik dari pertemuan rutin itu adalah bagaimana para prodiakon itu konsisten berkumpul sebagai sebuah tim yang saling menguatkan dan meneguhkan.
Di balik pengalaman kebersamaan dalam paguyuban itu, ada seorang prodiakon yang berkisah. Ia menceritakan tentang bagaimana ia menjalankan setiap tugas perutusan yang dipercayakan kepadanya; baik itu memimpin ibadat Sabda di stasi maupun ibadat-ibadat di lingkungan. Yang menarik adalah bahwa setiap sebelum menjalankan tugas perutusan, ia berdoa. Ia berdoa kepada Tuhan agar memberkati dan mendampingi tugas yang akan ia laksanakan. Bagi saya, pengalaman tersebut merupakan sebuah pengalaman iman; pengalaman iman penyerahan. Ia berdoa berarti menyerahkan segala rencana perutusan sembari memohon agar Tuhan pun memberikan berkat pendampingan.
Saudara-saudariku yang terkasih, jika Tuhan pada hari ini mengatakan kepada para murid yang Ia utus: “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju”; itu hendak mengatakan bahwa setiap orang yang diutus oleh Tuhan hendaknya tidak hanya mengandalkan keperluan-keperluan duniawi, melainkan pertama-tama hendaknya mengandalkan Tuhan yang akan senantiasa mencukupi kebutuhan dalam tugas perutusan. Mengandalkan Tuhan dalam tugas perutusan itulah yang sejatinya dilakukan oleh prodiakon tadi. Bagi saya, kesadarannya sebagai manusia biasa – awam yang dipercaya untuk membantu tugas pewartaan dan pelayanan Gereja – menjadikannya mampu untuk mengandalkan kuasa Tuhan yang tidak akan meninggalkannya sendirian. Ia melepas keegoan yang kadang ingin mengandalkan diri dan keperluan-keperluan duniawi saja.
Lantas, adakah tantangan yang dihadapi prodiakon itu dalam melaksanakan tugas perutusan? Sabda Tuhan pada hari ini mengatakan: “Dan apabila kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ. Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka”. Dari sabda ini mau mengatakan bahwa setiap orang yang menjadi utusan Tuhan pasti akan mengalami banyak tantangan; misalnya tantangan untuk tidak diterima. Begitu pula dengan prodiakon yang saya kisahkan. Mengingat jalan atau medan pewartaan yang cukup sulit dan juga kurang mendukungnya situasi keamanan merupakan bagian dari tantangan yang harus dihadapi.
Pertanyaannya adalah “Apakah pengalaman itu membuatnya mundur” Tidak! Sebagai seorang yang diutus untuk menjadi pewarta iman, sebagai seorang yang memiliki keyakinan iman dan sebagai seorang beriman yang menyadari kehadiran Tuhan yang menyertai dalam setiap tugas perutusan, menjadikannya tetap terus berkarya.
Saudara-saudariku yang terkasih, kisah prodiakon tadi menjadi inspirasi bagi kita. Kita diundang untuk siap menjadi pelaksana pelanjutan karya Tuhan pada situasi serta tempat kita masing-masing, baik itu dalam keluarga, komunitas, lingkungan, tempat kerja, di mana serta dengan siapa saja kita berada. Contoh menjadi pewarta pelanjutan karya Tuhan adalah menghadirkan diri sebagai pemimpin yang baik, sebagai orang yang mewujudkan kata dan tindakan yang patut dicontoh, dan sebagai orang yang memiliki hati lapang untuk mampu mengatakan: “terima kasih, aku memafkankanmu, aku meminta maaf”.
Kita tidak sendirian, ada keluarga, teman dan sahabat yang selalu ada mendukung kita. Di atas mereka semua, ada Dia, Yesus Tuhan yang akan siap membantu jika kita tetap mengandalkan-Nya.

Semoga, Hati Kudus Yesus senantiasa merajai hati saudara dan saudari sekalian. Amin!

Jumat, 17 Agustus 2018


EKARISTI ADALAH BERKAT UNTUK BERBAGI
    
Renungan Singkat Dehonian (26 Agustus 2018)
Yoh 6: 60-69


Ketika awal masuk di seminari menengah, saya bersama dengan para seminaris yang lain diajari lagu adorasi dan atau salve (penyembahan atau pujian) kepada Sakramen Mahakudus, yang diambil dari madah “Tantum Ergo” karya Santo Thomas Aquias. Kutipan dari lagu itu adalah sebagai berikut:

Sakramen seagung ini, kusembah dan kupuji
Cara lama telah ganti, telah diperbarui
Iman yang menolong budi, indera tidak mencukupi

Allah Bapa serta Putera, dipujilah bersama
Salam sembah dan kuasa, serta hormat pada-Nya
Roh Kudus yang diutus-Nya, pujaan yang setara.

Lagu tersebut ingin mengatakan bahwa Yesus Kristus yang dihadirkan dalam Hosti Kudus adalah Sakramen Mahakudus. Kehadiran Kristus dalam Sakramen adalah kehadiran yang dapat dialami bukan dalam penalaran atau pemahaman manusia, melainkan dalam pemahaman iman. Dalam iman akan kehadiran Kristus secara nyata dalam Ekaristi, Gereja (kita) menyembah dan menghormati Sakramen Mahakudus. Dalam hal ini, Santo Yohanes Paulus II memberi kesaksian bahwa penyembahan (kepada Sakramen Mahakudus) tidak boleh berhenti; tidak ada waktu yang lebih berharga dari pada datang kehadapan Sakramen cinta kasih Yesus, dalam penyembahan dan kontemplasi, dengan penuh iman; dan siap menjadi silih atas dosa-dosa dunia.
Dalam setiap Perayaan Ekaristi, Kristus hadir secara istimewa. Di dalam Ekaristi itu pula, Kristus hadir dalam rupa roti dan anggur. Dalam doa konsekrasi, Kristus sendiri hadir untuk mengubah bahan persembahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah-Nya. Imam, yang mengucapkan doa konsekrasi, bertindak in persona Christi (bertindak dalam pribadi Kristus), sehingga di sini Kristus sendirilah yang merubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah-Nya. Roti dan anggur diubah karena berkat; daya berkat yang melampaui pemahaman kodrat manusiawi.
Di hadapan Tubuh dan Darah Kristus, yang berupa roti dan anggur, indera manusiawi tidak lagi mencukupi untuk memahami. Di hadapan misteri ini, kemampuan pemahaman manusiawi tidak dapat diandalkan. Hanya iman yang bisa menolong. Tanpa adanya iman, tidak mungkin kita bisa memiliki keyakinan akan kehadiran Yesus Kristus dalam Ekaristi. Yang ingin ditekankan di sini adalah bahwa kehadiran Kristus bukan dipahami secara logika pemahaman manusia, tetapi berdasarkan pada iman. Jika berhadapan dengan misteri Ilahi itu, manusia hanya berusaha memahaminya dengan pemahaman manusiawi, maka yang terjadi adalah akan ada banyak orang yang menolak: “Mana mungkin roti dan anggur itu adalah Tubuh dan Darah-Nya”? Akan ada banyak orang yang menolak Sabda Yesus: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia”. Orang-orang yang menolak dan tidak memahami kehadiran Kristus dalam Ekaristi akan berkata: “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya”?
Injil pada hari ini mengundang kita agar memiliki kesadaran iman untuk memahami Tuhan Yesus Kristus dalam Sakramen Ekaristi setiap kali kita merayakannya. Kita diundang untuk menggunakan mata iman kita, memahami kehadiran Kristus, Tubuh dan Darah-Nya, dalam rupa roti dan anggur. Kehadiran-Nya itulah yang dalam setiap Perayaan Ekaristi dihadirkan supaya kita dapat mengalami, mencecap dan menerima-Nya sehingga kehadiran-Nya (dalam komuni yang kita terima) dapat memberikan berkat keselamatan bagi kita. Berkat itulah yang memberikan kita keselamatan.
Kehadiran Kristus tersebut disantap oleh kita, kaum beriman, dalam komuni suci, sehingga masuk dan menyatu dengan kita. Kehadiran Kristus itu pula yang diharapkan menjadi daya pacu dan picu kita untuk membagikan rahmat Kristus kepada sesama. Sebagaimana Yesus Kristus telah memberikan rahmat keselamatan kepada kita, maka kita pun diundang untuk membagikan rahmat itu kepada sesama.
Berdasarkan permenungan Injil pada hari ini, ada dua pertanyaan yang patut kita renungkan. Pertama adalah: Apakah kita sungguh mencintai Perayaan Ekaristi? Memiliki waktu untuk merayakannya? Pertanyaan kedua: Apakah Ekaristi sudah menggerakkan kita untuk juga berbagi berkat kepada sesama? Berkat dapat dilakukan dengan berbagi senyum, berbagi pengampungan, berbagi makanan, berbagi dari apa yang kita miliki kepada yang lebih membutuhkan.

Semoga Hati Kudus Yesus senantiasa merajai hati kita. Amin!

Selasa, 17 Juli 2018


SADAR RAHMAT TUHAN
    
Renungan Singkat Dehonian (26 Juli 2018)
Mat 13: 16-17


Saudara-saudari yang diberkati, Yesus Tuhan kita pada hari ini mengundang para murid untuk menyadari kehadiran rahmat Allah yang sudah mereka terima. Rahmat Allah itu nyata di hadapan dan bersama mereka, yakni kehadiran Yesus sendiri. Yesus Kristus, Sang Mesias yang dinantikan, kala itu sudah hadir di hadapan dan bahkan menjalani kebersamaan hidup selama beberapa tahun bersama dengan mereka.
Penegasan Yesus kepada mereka: “Berbahagialah matamu karena telah melihat, berbahagialah telingamu karena telah mendengar” menunjuk pada undangan penyadaran secara manusiawi. Kehadiran rahmat Allah yang para murid sudah miliki adalah kehadiran rahmat manusiawi; kehadiran rahmat yang bukan tidak dapat dialami, tetapi kehadiran yang sungguh dapat dialami secara inderawi (dengan mata dan telinga).
Mata dan telinga adalah dua alat tubuh manusia yang mempunyai fungsi untuk mengetahui keadaan luar dari tubuh manusia itu sendiri. Mata adalah indera yang memiliki fungsi untuk melihat lingkungan sekitarnya dalam bentuk gambar. Menggunakan mata, manusia bisa mengenali dan mendefinisikan benda-benda serta orang-orang yang ada di sekitarnya dengan cepat. Telinga merupakan alat indera manusia yang berfungsi untuk mendengar bunyi atau suara yang ada di sekitar. Telinga adalah indera pendengar yang menerima rangsangan berupa bunyi atau suara. Untuk menunjang kerja telinga, Tuhan memberikan daun telinga yang mempunyai fungsi untuk menangkap dan mengumpulkan gelombang bunyi atau suara sehingga bunyi atau suara dapat didengar dengan lebih jelas.
 Penegasan Yesus kepada murid untuk menggunakan mata dan telinga dengan baik merupakan bentuk undangan agar mereka sungguh menyadari apa yang sudah mereka lihat dan apa yang sudah mereka dengar dari kehadiran Guru Sejati mereka. Kesadaran akan Rahmat yang saat itu berada dan bersama dengan mereka – yang dapat dialami melalui alat inderawi – menjadi modal utama untuk berbahagia. Mereka berbahagia karena bisa melihat kehadiran Allah secara manusiawi; dapat dilihat dengan mata. Mereka berbahagia karena bisa mendengar Sabda Allah secara manusiawi; dapat didengar menggunakan telinga.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, ada teladan dari dua orang kudus yang mampu menggunakan mata dan telinga mereka untuk menyadari kehadiran rahmat dalam hidup. Mereka adalah Santo Yoakim dan Santa Anna, orang tua Santa Perawan Maria yang kita rayakan pada tanggal ini. Dalam buku-buku umat Kristen abad kedua, nama Anna sangat harum. Diceritakan bahwa sejak perkawinannya dengan Yoakim, Anna tiada henti mengharapkan rahmat karunia Allah berupa seorang anak. Cukup lama ia menantikan karunia anak itu. Karena itu diceritakan bahwa ia tiada putus asa berdoa kepada Allah agar mendengar harapannya. Setiap tahun, Anna bersama Yoakim, suaminya, berziarah ke Bait Allah (Yerusalem) untuk berdoa. Dalam doa ia berjanji kalau Tuhan menganugerahkan anak kepada mereka, maka anak itu akan dipersembahkan kembali kepada Allah. Allah mendengar doa Anna dan juga Yoakim. Allah menganugerahkan rahmat kepada mereka dengan melahirkan seorang anak perempuan yang manis. Inilah kehadiran rahmat Allah yang dapat dilihat dan didengar secara manusiawi. Bayi itu diberi nama Maria yang kemudian dipersembahkan kembali kepada Allah. Maria inilah yang akan mengandung dan melahirkan Putera Allah, yakni Yesus Kristus, Tuhan kita.
Saudara-saudariku yang diberkati, dalam kesempatan hari ini kita pun mendapat undangan Tuhan Yesus: “Berbahagialah matamu karena telah melihat, berbahagialah telingamu karena telah mendengar”. Ia mengajak kita untuk menggunakan mata dan telinga supaya menyadari kehadiran rahmat yang sudah kita terima. Kadang karena kesibukan dan keinginan-nafsu yang tanpa batas, kita lupa bahwa setiap kali Allah mengasihi kita dengan memberikan rahmat-Nya. Kita kadang lebih tak acuh terhadap rahmat-Nya.
Pertanyaan yang patut kita renungkan adalah: “Sadarkah kita terhadap rahmat Allah yang sudah kita terima selama ini? Rahmat itu dapat berupa kehidupan, kesehatan, keluarga, pekerjaan, makanan, sahabat dan lainnya. Kita patut sadar akan rahmat itu semua. Kesadaran itu yang membuat kita untuk selalu bersyukur dan kemudian menggerakkan hati mengucap terima kasih kepada-Nya dengan berkata: Tuhan, terima kasih atas rahmat-Mu selama hari yang lalu, hari ini dan esok.

Semoga Hati Kudus Yesus senantiasa merajai hati saudara dan saudari. Amin!


Senin, 18 Juni 2018


Menunjukkan sebagai Orang yang Diselamatkan

Renungan Singkat Dehonian 
Yoh 6: 36-38


Sahabat dehonian yang terkasih, saya paling tidak setuju jika dalam sebuah upacara kematian umat Katolik, ada orang Katolik sendiri yang berdoa dan berharap: “Semoga, saudara kita diterima di sisi Tuhan, sesuai dengan amal dan ibadahnya”. Yang menjadi ketidaksetujuan saya adalah syarat untuk masuk ke surga adalah amal dan ibadah. Jika benar-benar dihitung atau ditimbang, amal dan ibadah manusia pasti tidak sebanding dengan dosa karena kedosaan yang lebih berat.
Kita sebagai orang Katolik mengimani dan mengamini Yesus Kristus sebagai Juru Selamat. Keyakinan iman ini yang mengantarkan kita bahwa jaminan hidup setelah kematian duniawi ini adalah surga, yakni hidup bersama Bapa. Sebab Yesus sendiri mengatakan kepada kita bahwa Dialah Jalan, Kebenaran dan Kehidupan; melalui dan hanya lewat Dia, kita dapat sampai kepada Bapa.
Dengan menyadari nama baptis yang kita miliki, kita diingatkan akan rahmat dan sekaligus martabat jaminan kepastian hidup setelah kematian duniawi. Dengan menyematkan diri sebagai anak-anak Bapa, kita sudah mendapatkan jaminan dari Bapa melalui Yesus Kristus, Putera-Nya. Kesadaran ini yang kemudian menjadi tugas kita untuk menunjukkannya dalam praksis hidup keseharian. Sebagai orang yang sudah diselamatkan dengan menerima jaminan hidup ke surga, kita memiliki tanggung jawab menunjukkan diri sebagai orang yang sudah diselamatkan. Cara dan tindak hidup kita semestinya menunjukkan jati diri orang-orang yang sudah diselamatkan.
Yesus pada Injil hari ini mengatakan: “Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah, dan kamu akan diberi;....”. Cara dan tindak hidup untuk tidak menghakimi, tidak menghukum, mengampuni dan memberi diharap menjadi model hidup kita, sebagai orang Katolik jaman sekarang; yakni orang-orang yang sudah diselamatkan. Kadang untuk mewujudkannya, kita berhadapan dengan keegoan diri yang maunya ingin menang sendiri. Pertanyaan dasar yang patut kita renungkan adalah: “Mau, apa tidak, kita melakukannya sebagai wujud bahwa aku adalah orang-orang yang diselamatkan; orang-orang yang sudah mendapatkan jaminan hidup setelah kematian”? Jika jawabannya “ya”, berarti kita pun meng-iya-kan dan menjaga martabat hidup ke surga. Namun, jika sebaliknya, berarti kita pun menolaknya.
Tuhan memberkati. Amin!

La présence de Dieu qui accompagne toujours nos vies est un mystère. Sa présence réelle qu'Il soit là ou ici, nous ne pourrons peut-être...