Label

Tampilkan postingan dengan label SINOPSIS BUKU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SINOPSIS BUKU. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Mei 2018


Judul Buku     :    Self-Leadership: Seni Memimpin Diri bagi Orang Lain
Penulis            :    Anand Krishna
Penerbit          :    Gramedia Pustaka Utama - Jakarta
Tahun Terbit  :    2017

Untuk menjadi seorang Pemimpin yang sejati, di mana pun, di bidang apa pun dan dalam skala apa pun, tak ada jalan lain bagi kita selain memulai dari dalam diri sendiri. Itu dapat tercapai dengan memulainya dari diri sendiri, dengan belajar memimpin diri, menguasai diri dan mengendalikan hawa nafsu yang kadang ingin menguasai diri. Jika kita belum dapat memimpin diri sendiri, maka jangan berharap bisa menjadi pemimpin bagi orang lain.
 Self-Leadership: Seni Memimpin Diri bagi Orang Lain menjadi panduan untuk dapat menuju pencapaian menjadi pemimpin sejati yang dimulai dari dalam diri sendiri. Karya Anand Krisna ini mengajak untuk menyadari bahwa setiap orang dapat menjadi pemimpin, hanya saja, untuk mencapainya dibutuhkan latihan dan seni. Latihan dan seni itu dipraktikkan dengan memimpin diri sendiri terlebih dahulu.
Latihan dan seni memimpin diri sendiri dimulai dengan belajar dari alam semesta sebagai Perguruan Tertinggi. Universe atau alam raya adalah universitas terbuka nan terbesar (hal. 6). Dari alam raya manusia dapat belajar sebagaimana yang pernah dibuat oleh para leluhur pada jaman dahulu. Para leluhur mampu membaca tanda-tanda alam sebab mereka hidup selaras dengan alam. Mereka belajar dari alam, mereka mencintai alam, mereka tidak pernah merusak alam – dan alam pun memberi respon serupa (hal. 7). “Nilai-nilai luhur hasil pengamatan mereka terhadap kinerja alam yang kemudian dijadikan pedoman hidup (hal. 17)” inilah yang disebut dengan Asta Brata atau Ashta Vrata (Sanskrit).
Mastery over self atau menguasai diri merupakan jalan utama untuk belajar memimpin diri: “It is absurd that a man should rule others who cannot rule himself” (hal. 61). Inilah pengendalian diri. Inilah sebuah perjuangan tinggi. Hal yang perlu dibuat adalah mengendalikan hawa nafsu, barulah terjun ke tengah masyarakat bukan untuk memimpin, tetapi untuk melayani. Seorang pemimpin sejati sesungguhnya seorang pelayan, seorang pengabdi tanpa pamrih (hal. 65)! Selain menjadi pelayan, seorang pemimpin hendaknya memiliki pendidikan yang berwawasan. Pendidikan di sini tidak hanya sebatas pendidikan pada konsep logika atau penalaran, namun juga memuat pendidikan yang bernuansa character building.
Seorang pemimpin sejati juga adalah orang yang berbudaya. Seorang yang berbudaya adalah seorang yang berpikiran jernih, berperasaan halus dan wataknya berlandaskan kasih (hal. 130). Ia pun memiliki kepercayaan diri. Seorang pemimpin sejati tidak takut menghadapi orang-orang yang berpandangan lain, berpandangan berbeda bahkan yang berseberangan dengan dirinya, karena ia percaya diri (hal. 155). Meski demikian, ia tetap berusaha untuk terbuka; belajar dari setiap orang dan tidak keras kepala. Ia tidak takut mengubah pandangannya jika memang terbukti bahwa pandangan lain lebih tepat atau lebih baik (hal. 155).  
Dari pelbagai latihan dan seni yang termuat dalam buku ini, Anand berharap akan banyak lahir para pemimpin sejati yang baru. Para pemimpin itu diharap memiliki pengendalian diri, semangat untuk melayani, kemampuan untuk mengoreksi diri serta menguasai seni kepemimpinan yang pada akhirnya akan membuat masyarakat, bangsa dan negara menjadi lebih beradab dan sejahtera.
Mau menjadi Pemimpin Sejati?

Senin, 09 April 2018


Judul Buku     :    The 7 Habits of Highly Effective People  (terj.)
Penulis            :    Stephen R. Covey
Penerbit          :    Dunamis Intra Sarana - Jakarta
Tahun Terbit  :    2015

Salah satu buku paling menginspirasi dan berpengaruh yang pernah ditulis, The 7 Habits of Highly Effective People (7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif) telah memikat para pembacanya selama 25 tahun. Karya tulis yang digarap oleh Stehen R. Covey ini menghadirkan “tips” bagi pribadi manusia untuk dapat menjadi pribadi yang terus berkembang secara lebih maksimal supaya tidak mengalami kemandegan kepribadian.
Stephen, dalam karyanya ini menghadirkan tujuh jalan yang dapat dijadikan sebagai pedoman perkembangan kepribadian. Dari ketujuh jalan atau lebih tepatnya “kebiasaan” itu dibagi ke dalam 3 bagian utama. Bagian pertama adalah “Kemenangan Pribadi” yang meliputi kebiasaan-kebiasaan: Jadilah Proaktif, Mulai dengan Tujuan Akhir dan Dahulukan yang Utama. Bagian kedua adalah “Kemenangan Publik” yang meliputi kebiasaan-kebiasaan: Berpikir Menang-menang, Berusaha Mengerti Lebih Dahulu Baru Dimengerti dan Wujudkan Sinergi. Bagian ketiga adalah “Pembaruan” yang tercapai dengan melakukan kebiasaan ketujuh, yakni: Asahlah Gergaji.
 Bagian pertama yang memuat pencapaian untuk Kemenangan Pribadi, dimulai dengan meng-konkretkan Kebiasan 1: Jadilah Proaktif. Salah satu tindakan yang dapat dilatih terus menerus yang berkaitan dengan menjadi pribadi yang proaktif adalah berani untuk berinisiatif, entah dengan ide-ide atau pun tindakan yang menginspirasi. Proaktivitas merupakan bagian dari sifat manusia, dan walaupun otot-otot proaktivitas kita mungkin sedang tertidur, namun otak proaktif itu tetap ada (hal. 102). Selain menjadi pribadi yang proaktif, kebiasaan selanjutnya – kebijakan kedua – dikonkretkan melalui Mulai dengan Tujuan Akhir. Kebiasaan ini dibuat untuk melatih jiwa kepemimpinan dalam diri yang termuat dalam prinsip-prinsip pokok. Kebiasaan ketiga sebagai penutup dari bagian pertama adalah Dahulukan yang Utama. Prinsip-prinsip yang tertuang dalam kebiasaan ketiga memuat beberapa prinsip tentang manajemen diri. Penekanan yang ingin disampaikan adalah “hal-lah yang paling penting jangan sampai dikalahkan oleh hal-hal yang sepele (Goethe)” (hal. 191).
Bagian kedua dalam The 7 Habits of Highly Effective People (7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif) adalah Kemenangan Publik. Kebiasaan keempat yang diasah dalam bagian ini adalah Berpikir Menang-menang. Seni kepemimpinan ini digunakan untuk menjalin relasi sosial antar pribadi. Kebiasaan keempat ini membuat seorang pribadi untuk dapat menjadi orang yang mampu mengerti yang lain, tanpa harus menjadikan dirinya “kalah”. Kebiasaan ini berkaitan dengan kebiasaan yang kelima, yakni: Berusaha Mengerti Lebih Dahulu, Baru Dimengerti. Prinsip-prinsip komunikasi yang empatik dipakai dalam pelaksanaan kebiasaan ini. Apa yang dibuat dalam kebiasaan ini adalah berusaha untuk menjadi pendengar supaya dapat mengerti dalam sebuah pengalaman perjumpaan. Meskipun berisiko dan sulit, berusaha memahami lebih dahulu, atau mendiagnosis sebelum membuat resep adalah prinsip yang tepat yang diwujudkan dalam berbagai bidang kehidupan (hal. 316). Dengan melakukan kebiasaan keempat dan kelima, harapan yang terwujud adalah akan membantu untuk mewujudkan kebiasaan yang keenam, yakni: Wujudkan Sinergi. Sinergi dapat dibuat jika dalam hubungan antar pribadi terdapat semangat kerja sama yang baik dan kreatif.
Kebiasaan ketujuh yang menjadi penutup dalam buku ini adalah Asahlah Gergaji; memuat prinsip pembaruan diri yang seimbang. Kebiasaan ini mengelilingi kebiasaan-kebiasaan yang lainnya pada paradigma Tujuh Kebiasaan karena kebiasaan ini adalah kebiasaan yang menjadikan kebiasaan-kebiasaan lainnya mungkin (hal. 374). Ada 4 dimensi yang akan selalu terbarui dengan selalu “mengasah gergaji”: fisik, spiritual, mental dan sosial/emosional.
The 7 Habits of Highly Effective People (7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif) adalah karya yang menginspirasi. Buku  ini sangat baik dibaca bagi semua orang, secara khusus bagi mereka yang ingin selalu membarui diri dengan memberdayakan potensi yang sebenarnya sudah ada dan perlu untuk selalu “dibangungkan”.
Selamat membaca!

Jumat, 17 November 2017

Judul Buku     :    Soul Awareness: Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi
Penulis            :    Anand Krishna
Penerbit          :    PT Gramedia Pustaka Utama - Jakarta
Tahun Terbit  :    2016

Kita semua berada dalam kolam, atau, barangkali lebih tepat disebut Lautan Energi (hal ix). Anand Krishna dalam bukunya kali ini mengundang setiap pembaca untuk menyadari kesadaran roh. Dengan menyadari kehadiran diri di tengah lautan energi yang begitu luas, pembaca diajak untuk – pertama-tama – memiliki kesadaran materi. Dari kesadaran materi ini diharap berjalan – dalam proses – menuju kesadaran rohani. Lewat buku ini, Anand ingin berbagi beberapa pengalaman pribadinya, bahwa ada kekuatan mahadasyat di dalam diri setiap manusia (hal. xii).
Langkah pertama yang ditawarkan dalam proses penyadaran roh adalah dengan melakukan meditasi. Anand menekankan bahwa apa pun kepercayaan seseorang, ia boleh saja melakoni meditasi, boleh ber-“semedi”; tidak menjadi soal; tidak ada yang melarang; seorang pelaku tidak perlu menutup-nutupi hal tersebut (hal. 65). Meditasi “menghancurkan mind, kemudian mendaur-ulangnya kembali menjadi intelegensi. Prosesnya persis sama seperti menghancurkan kertas bekas, misalnya kertas koran, kemudian mendaur ulang hancurnya menjadi kertas baru. Mind, yang berubah menjadi intelegansi sudah berubah karakter secara menyeluruh., secara total. Mind mengikat kita dengan kebendaan, intelegensi membebaskan kita (hal. 89).
Proses meditasi sebagai jalan menuju kesadaran jiwa bermodalkan pada nafas, waktu-ruang dan gugusan pikiran-perasaan (mind). Intinya, memang mesti mengendalikan mind (hal. 92). Namun pertanyaannya adalah apakah semudah membalikkan telapak tangankah, bila kita mengendalikan mind? Memang tidak mudah. Mengulang jawaban Krishna: “... niscaya pikiran memang liar – pun sulit ditaklukkan; namun ia dapat dikendalikan dengan upaya tanpa henti, dan dengan mengembangkan ketidakterikatan (pada segala pemicu di luar yang menambah keliarannya), demikian adanya....” (hal. 93).
Dalam penjelasan selanjutnya, buku keempat, Anand Krishna membahas tentang Reinkarnasi. Pada bagian ini, ia menekankan bahwa setiap pembaca tidak perlu memperdebatkan apakah konsep tersebut bertentangan dengan beberapa ajaran agama yang ada. Bahkan dengan bebas Anand menghormati posisi setiap pembacanya: Anda tidak harus percaya pada konsep reinkarnasi, tetapi setidaknya membuka diri terhadap kemungkinan itu (hal. 401). Latihan-latihan yang dimaksud berada pada bagian ketiga dari buku yang keempat.
Soul Awareness: Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi merupakan karya yang bermanfaat bagi setiap insan yang ingin mengembangkan kualitas diri dengan jalan memiliki kesadaran diri.
“Buddha” bukanlah nama seseorang. Buddha adalah tahap kesadaran, tingkat kesadaran (hal. 403). Setiap orang – termasuk mereka yang menganut agama tertentu pun – diundang untuk sampai pada tingkat kesadaran diri; memiliki tingkat kesadaran “Buddha” atau “... yang sudah terjaga”. Rasanya dengan demikian, pribadi akan tercerahkan, memiliki tingkat kesadaran bahwa hidup ini adalah sebuah proses menjadi lebih baik; dan itu ditunjukkannya dengan semakin mencintai diri dan kehadirannya bermanfaat bagi sesama.


Salam Kasih, Wassalam, Shalom, Aum Namo Buddhaya, Om Shanti.




Selasa, 10 Oktober 2017

Judul Buku     :    The Flat-Earth Conspiracy (Terj.)
Penulis            :    Eric Dubay
Penerbit          :    Bumi Media
Tahun Terbit  :    2017

Terbongkar! Bentuk bumi sebenarnya bukan bulat, tetapi datar.
Selama ini kita meyakini bahwa bentuk bumi yang kita huni ini berbentuk bulat. Pengetahuan tentang bumi bulat diajarkan di semua ruang pendidikan atau sekolah di seluruh dunia. Bahkan sejak kita masih dalam usia anak-anak pun sudah “dijejali” dengan gambaran bahwa bumi itu bulat seperti bola. Konsep bumi yang berbentuk bulat sudah menjadi sistem kepercayaan yang tertanam begitu kuat di otak. Namun, ilmu pengetahuan terus berkembang. Apa yang kita yakini sekarang ini bisa jadi berubah kemudian. Keyakinan bahwa bumi itu bulat, yang sudah mapan selama ratusan tahun, mulai digugat. Selama hampir lima ratus tahun, masyarakat telah benar-benar tertipu oleh dongeng kosmik proposisi astronomi (hal. 5).
Seorang peneliti nasional, Eric Dubay, mengungkapkan fakta bahwa teori bumi bulat adalah ilusi yang ditanam di otak kita lewat kebohongan sains dan propaganda media selama lebih dari 500 tahun. Dalam bukunya, The Flat-Earth Conspiracy, Eric memberikan penjelasan konsep bumi datar beserta bukti-bukti ilmiah yang mengungkapkan bahwa bentuk bumi itu bukan bulat, tapi datar. Baginya, teori bumi bulat merupakan bentuk konspirasi terbesar sepanjang sejarah manusia. Selama lima ratus tahun, dengan menggunakan segala bentuk media mulai dari buku, majalah, televisi, hingga gambar hasil rekayasa komputer, konspirasi multi-generasi ini telah berhasil mengubah pemikiran massa dengan mencomot citra bumi yang bergeming, mengubah bentuk bumi menjadi bulat, membuatnya berputar dalam lintasan berbentuk lingkaran dan membuatnya beredar mengelilingi matahari pada orbitnya (hal. 20).
Dalam penelitian yang dituangkan di buku ini, Eric Dubay mengungkapkan fakta-fakta mencengangkan yang membuktikan bahwa bumi itu datar, bukan bulat. Banyak fakta yang dikupas dari pelbagai disiplin ilmu pengetahuan. Beberapa fakta ilmiah yang kuat dan belum bisa di bantah di antaranya adalah non-kurvatur bumi datar yang dapat diukur; pencerahan bumi datar melalui mercusuar; berbedanya situasi antara Antartika dan Arktika; fenomena gerhana matahari dan bulan dan beberapa bukti ilmiah lainnya.
Bersatu dengan Komunitas Flat-Earth Society, Eric Dubay berusaha untuk memberikan pemahaman real kepada dunia bahwa apa yang banyak orang pahami selama ini – tentang bentuk bumi – adalah sesuatu yang keliru. Dalam menyebarkan pemahamannya, Eric Dubay bersama dengan anggota dalam komunitas pun mendapat tantangan dari beberapa orang – dapat dikatakan sebagai kelompok Tatangan Dunia “globalis” – yang berusaha untuk membungkam agar “rahasia besar penipuan” mereka tidak terbongkar.
Buku ini baik untuk dibaca sebagai penambah wawasan dan sekaligus sebagai pemberi perspektif baru dalam memandang konsep dunia yang sudah terpatri di pikiran kita. Selamat membaca!



Jumat, 29 September 2017

Judul Buku     :    How to Win Friends & Influence People In The Digital Age (terj.)
Penulis            :    Dale Carnagie & Associates
Penerbit          :    PT Gramedia Pustakan Utama - Jakarta
Tahun Terbit  :    2017

Pada tahun 1963, Dale Carnegie melontarkan pernyataan yang menarik kepada para pembaca: “Kemungkinan besar, masalah terbesar yang Anda hadapi adalah berusuan dengan orang lain”. Pernyataan ini menjadi fondasi dari How to Win Friends and Influence People, dan pernyataan ini masih berlaku pada zaman sekarang (hal. x).
Adalah baik untuk mendalami pernyataan tersebut sebagai pijakan untuk membangun sebuah hubungan-relasi komunikasi antar manusia pada era digital seperti sekarang ini. How to Win Friends and Influence People memberikan penjelasan dan sekaligus mengulas kesempatan untuk mendapatkan teman dan memengaruhi orang lain pada masa kini. Dulu, kedua hal itu dapat dicapai dengan tiga cara yang biasa dilakukan, yakni: bertemu secara langsung, melalui surat dan melalui telepon. Orang-orang pada zaman itu menekankan pentingnya pertemuan secara langsung – eksistensi di hadapan yang lain – karena tidak ada sarana lain yang dapat dipakai untuk menggantikannya. Pada zaman sekarang, hal itu menjadi pengecualian. Media sosial yang terbalut dalam koneksi digital menjadi sarana utama. Melalui media ini, kesempatan untuk mendapat teman dan memengaruhi orang lain dapat dilakukan tanpa ada pertemuan dan kehadiran secara langsung.
Memang, karya Carnege ini adalah karya yang ditulis beberapa tahun yang lalu. Namun, dengan beberapa tambahan yang diberikan, pada intinya membuat karya ini dapat diterapkan pada era sekarang. Ada beberapa prinsip utama yang menjadi dasar karya ini dalam membangun hubungan-relasi. Carnage memberikan beberapa resep membangun relasi yang kemudian ia rumuskan ke dalam beberapa cara membangun dan menjaga hubungan-relasi.
Ada enam cara untuk memberikan kesan yang bertahan lama: tunjukkan minat terhadap minat orang lain, tersenyumlah, berkuasa dengan nama, simak lebih lama, bahas apa yang penting bagi mereka, buat orang lain merasa lebih baik. Keenam cara ini adalah resep di mana setiap pribadi diajak untuk menjadi orang yang mampu memberikan kesan baik bagi orang lain yang hadir di depannya. Mungkin di antara itu semua, tersenyum adalah satu hal yang mudah dilakukan. Senyuman, hal itu meningkatkan nilai wajah Anda (hal. 67).
Setelah mendapat kesan dari orang lain, selanjutnya relasi diharapkan mulai terbangun. Selanjutnya, proses terbangunnya relasi itu hendaknya dibarengi dengan mendapatkan dan menjaga kepercayaan yang didapat dari orang lain. Proses ini dapat dilakukan dengan beberapa hal berikut: mengakui kesalahan dengan cepat dan sungguh-sungguh, membiarkan orang lain mendapat pengakuan, memberikan sikap yang ramah dan jangan berkata “Kau salah”; sebab memberitahu orang bahwa mereka atau dia salah hanya akan membuat orang atau pribadi memusuhi Anda (hal. 129).
Pada bagian akhir, diulas seni menuntun perubahan tanpa penolakan atau kebencian. Bagian ini lebih menekankan upaya untuk menjaga hubungan-relasi yang sudah terbangun, lebih sekadar dari penerimaan kepercayaan dari orang lain. Satu hal yang menjadi bagian dari seni ini adalah senantiasa memberian pujian. Pujian menjadi pijakan utama di saat kita akan memberikan masukan atau kritik yang membangun. Pada praksisnya, sebagian besar dari kita tidak harus bersusah payah mencari kesempatan untuk memuji; kita hanya perlu memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang ada setiap harinya (hal. 234).
Meski membutuhkan ketekunan dalam membaca, How to Win Friends and Influence People memberikan sumbangan luar biasa bagi siapa saja yang telah membacanya. Karya ini sungguh dimaksudkan bagi siapa saja yang mau menjadi pribadi yang lebih cerdas dalam membangun dan menjadi hubungan-relasi yang telah dibangun. 

Kamis, 24 Agustus 2017

Judul Buku     :    Fokus (Terj.)
Penulis            :    Daniel Goleman
Penerbit          :    PT Gramedia Pustaka Utama - Jakarta
Tahun Terbit  :    2016

Apakah Anda memberikan atensi? Apakah Anda benar-benar berfokus pada buku di tangan Anda? Ataukah Anda sudah mengalihkan perhatian dengan mengecek jam tangan, e-mail, SMS, Facebook, dan sebagainya? Masih menahan dorongan untuk membiarkan pikiran Anda mengembara? Beberapa pertanyaan tersebut merupakan penyadaran kembali terhadap kehadiran Anda kini dan sekarang.
Mungkin setelah kita terhenyak dan sadar, pertanyaan-pertanyaan di atas menyadarkan kembali kehadiran Anda. Anda pun sadar bahwa kadang pikiran mengembara entah ke mana. Itu sangatlah wajar. Mengapa? Karena pada praktiknya, pikiran seorang pembaca pun biasanya mengembara sebanyak 40% dari total waktu saat dia membaca teks. Namun, apa manfaat dari memberikan atensi untuk jangka waktu yang lama? Dalam buku Fokus, Daneil Goleman menunjukkan mengapa fondasi kesuksesan di segala bidang kehidupan kita adalah kemampuan untuk berfokus.
Kesadaran diri salah satu resep yang disebut Goleman dalam memiliki keter-fokus-an. Kesadaran diri, khususnya ketepatan dalam menguraikan petunjuk-petunjuk internal dari gumaman batin kita, memegang kuncinya. Kesadaran diri merupakan lambang fokus yang hakiki, sesuatu yang bisa menyelaraskan diri kita dengan gumaman haus dari batin kita, yang bisa membantu jalan hidup kita (hal. 73). “Radar mental” (baca: kesadaran diri) dapat dijadikan sebagai kunci pengelolaan apa yang kita lakukan; dan tak kalah pentingnya, apa yang tidak kita lakukan. Prinsipnya adalah bahwa kesadaran diri membawa diri kita pada penyadaran, ke-kini-an.
Kesadaran diri sebagai salah satu resep untuk fokus juga harus disertai dengan kemampuan “membaca orang lain”. Kemampuan ini yang menurut Goleman dipahami sebagai kepekaan sosial. Kepekaan sosial memampukan untuk memiliki kesadaran mengenai apa yang pantas secara sosial yang mendatangi kita sebagai perasaan di tubuh; yang memberikan sinyal-sinyal atau perasaan tertentu yang datang dari orang yang sedang bersama dengan kita. Kesadaran akan konteks (sosial) juga membantu di level yang berbeda: memetakan jaringan sosial di suatu kelompok atau sekolah baru atau tempat kerja; kecakapan yang membuat kita bisa mengelola relasi-relasi itu dengan baik (hal. 139).
Untuk menutup bukunya, Goleman berharap bahwa kualitas keter-fokus-an itu dapat menjadikan seseorang menjadi pemimpin. Kepemimpinan itu sendiri bergantung pada kemampuan menarik dan mengarahkan atensi kolektif secara efektif (hal. 245). Adapun atensi yang mengemuka menuntut adanya unsur-unsur: pemusatan pada diri sendiri (fokus diri), menarik dan mengarahkan perhatian dari pihak lain, serta memperoleh dan menjaga perhatian yang dipimpin.
Karya Goleman yang tertuang dalam buku yang berjudul Fokus ini sangat baik dibaca bagi mereka yang menginginkan perubahan dalam diri menjadi lebih baik. Salah satu dasar utama untuk itu adalah membangun kesadaran diri, saat ini dan sekarang.

Selamat membaca!

Jumat, 24 Februari 2017

Judul Buku     :    Vocation Management: Opening Heart to Life Transformation, Revolusi Mental, Seni Berperang Mengalahkan Diri Sendiri
Penulis            :    Andreas Hartono
Penerbit          :    Sinergi Aksara - Jakarta
Tahun Terbit  :    2016

Dalam buku ini, Andreas Hartono menyajikan kepada para pembaca informasi yang dijadikan sebagai “amunisi” untuk melakukan peperangan mengalahkan diri sendiri. Memahami strategi peperangan mengalahkan diri sendiri, pertama-tama harus mendalami beberapa pandangan filosofis yang selanjutnya diinternalisasikan ke dalam diri. Dua pandangan filosofis yang dijadikan pijakan adalah: 1) Manusia bukanlah makhluk fisik yang mengalami pengalaman spirit tetapi manusia adalah makhluk spirit yang mengalamai pengalaman fisik; 2) Siapapun dan apapun yang dapat menyakiti hati atau melukai hati kita, dia adalah guru spiritual kita (hal. 2).
Pada bagian awal, penulis menjelaskan bahwa apapun kepercayaan atau agama kita, kita semua dipanggil Tuhan untuk melakukan sesuatu sepanjang hidup agar spirit kita bisa tumbuh dewasa sehingga layak untuk bersama kembali dengan-Nya. Untuk mendukung tugas pelaksanaan panggilan Tuhan, penulis mengajak pembaca untuk menggunakan potensi diri yang telah diberikan Tuhan, yakni kecerdasan emosi dan spiritual (yang dibahas dalam bab Tiga). Panggilan untuk melaksanan sesuatu sepanjang hidup harus dibekali dengan “kecerdasan yang memampukan seseorang untuk mengenali, menyadari, merasakan dan mengalami adanya pertalian antara pikiran, perasaan, tubuh dan spirit serta kesanggupan untuk melakukan pemulihan keterhubungan kembali untuk mendewasakan spirit-nya” (hal. 107).
Setelah memberikan informasi yang menjadi bahan pijakan pengenalan diri yang mendalam, pada bagian selanjutnya penulis menjelaskan tentang transformasi diri. Tidak hanya menjelaskan pada tataran teori, penulis juga menyampaikan contoh kasus bagaimana proses transformasi diri itu berlangsung dan menyampaikan bukti bagaimana kecerdasan emosional maupun kecerdasan spiritual, berproses dalam diri seseorang.
Selanjutnya, pada bab-bab akhir, disajikan tentang kemanfaatan vocation management dalam pelbagai keperluan dan ragam kehidupan: rumah tangga, sekolah, dunia kerja dan lainnya. Pada bagian terakhir, penulis menyajikan artikel yang bertajuk “Indonesia Generasi Baru” sebagai puncak mimpi dan cita-citanya. Itulah mimpinya, mimpi yang hendak diwujudkan sebagaimana yang dikatakan oleh Walt Disney: “If you can dream it, you can do it”. Selogan itu ingin mengajak penulis sendiri dan para pembaca untuk memiliki niat bersama: “Setelah kita bermimpi bersama maka selanjutnya kita harus mulai memikirkan, merenungkan, merencanakan dan bahkan melakukan kegiatan untuk mewujudkan mimpi besar itu” (hal. 278).
Siapapun Anda, apa pun kedudukan Anda dalam lingkungan masyarakat dan jabatan apa pun dalam korporasi, apabila Anda ingin lebih maju dalam memahami dan mengembangkan diri, sangat baiklah jika meluangkan waktu sejenak membaca buku ini. Keputusan itu sangat membantu penulis untuk meneruskan “mimpi besar” tidak hanya pada tataran teoritis, tapi sampai pada tataran praksis.

Jadilah pelopor yang ber-revolusi mental dengan opening heart to life transformation.

Senin, 23 Januari 2017

Judul Buku     :    This is Truth, That too is Truth: Perpetual Spiritual Diary
Penulis            :    Anand Krishna
Penerbit          :    PT Gramedia Pustaka Utama – Jakarta
Tahun Terbit  :    2014

“Kebenaran memiliki banyak sisi....” (hal. 5), tepat seperti itu yang dituliskan Anand Krishna diawal buku. Melalui karya tulis ini, Anand Krsihna ingin mengajak setiap insan untuk mengenal dan menggali lebih jauh realitas kebenaran yang ada dalam kehidupan. Memang, kebenaran memiliki banyak sisi – jika ditilik dari pelbagai sudut pandang – namun sebenarnya itu semua menambah keindahan dan kilauannya. Namun, kebanyakan dari kita hanya menerima satu sisi dan menolak yang lainnya; dan inilah penyebab segala konflik, segala perselisihan, segala kesalahpahaman, dan segala pertempuran dan peperangan (hal. 5).
Dalam buku This is Truth, That too is Truth: Perpetual Spiritual Diary, Anand mengajak para pembaca untuk merefleksikan kehidupan dengan deretan singkat kata-kata bermakna. Mungkin lebih tepatnya, kata-kata itu seperti untaian syair lagu yang tidak hanya memberikan makna mendalam, tetapi juga menampilkan “paduan nada kehidupan” yang memberikan pencerahan. Dengan memberikan pokok permenungan di setiap lembarnya, Anand membantu pembaca untuk memahami apa yang sebenarnya hendak disampaikan. Setiap pokok permenungan memberikan pencerahan yang diharap menjadi langkah awal untuk mentransformasikan diri menjadi pribadi yang tercerahkan; dan untuk memulainya harus dari diri sendiri serta menjadi guru untuk diri sendiri: “...adalah lebih baik bila Anda berjalan sendiri” (hal. 273).
Anand Krishna menuliskan bahwa hampir separuh kutipan-kutipan dari bukunya ini merupakan hasil inspirasi dari apa yang pernah dibaca, dilihat dan didengarnya. Kutipan-kutipan itu merupakan buah dari apa yang selama ini ia pelajari; sementara lainnya lagi sebagai buah dari permenungan dari apa yang ia pelajari. Ia berharap semoga karyanya ini membuat para pembaca dan banyak insan menjadi sadar akan sisi-sisi Kebenaran Tunggal yang beragam, dan mencegah banyak orang terperangkap dalam perdebatan, kesalahpahaman dan konflik yang tak berguna tentang sisi mana yang lebih benar (hal. 377).
Om Saha Naa-vavatu
Saha Nau Bhunaktu
Saha Viiryam Karavaavahai
Tejasvi-naavadhii-tamastu Maa Vidvishaavahai
Om Shaantih Shaantih Shaantih

Jumat, 09 Desember 2016

Judul Buku     :    Kecerdasan Emosional: Mengapa EI Lebih Penting dari pada IQ (Terj.)
Penulis            :    Daniel Goleman
Penerbit          :    PT Gramedia Pustaka Utama - Jakarta
Tahun Terbit  :    2016

Ada realitas dalam kehidupan yang menunjuk pertanyaan: “Bagaimana mungkin seseorang yang jelas-jelas cerdas melakukan sesuatu yang tak rasional – sesuatu yang betu-betul bodoh”? Jawaban atas pertanyaan itu adalah bahwa kecerdasan akademis sedikit saja kaitannya dengan kehidupan emosional. Di sini ingin ditegaskan “yang paling cerdas di antara kita dapat terperosok ke dalam nafsu tak terkendali dan impuls meledak-ledak; orang dengan IQ (kecerdasan intelektual) tinggi dapat menjadi ‘pilot’ yang tak cakap dalam kehidupan pribadi mereka” (hal. 42).
Goleman dalam bukunya ingin menunjukkan bahwa seseorang hidup tidak hanya mendasarkan diri pada kecerdasan IQ saja, tetapi juga membutuhkan kecerdasan emosional (EQ). Orang bisa saja, di satu sisi, mengagungkan kemampuan intelektualnya dengan melihat tata dunia sebagai “aturan logika” yang dapat dimengerti secara nalar. Meski demikian, kemampuan intelektual kadang bisa saja “terbajak” dengan kungkungan emosi. Jika yang terjadi demikian, pikiran logis tidak bekerja dengan baik, bahkan terkalahkan dengan kuatnya daya emosi – suasana hati – yang lebih menguasai. Contoh konkret: seseorang dapat merasa cemas dan takut luar biasa berhadapan dengan realitas yang akan terjadi berkaitan dengan konsekuensi apa yang telah dilakukannya. Padahal ketakutan dan kecemasannya itu, bila dipikir secara rasional, tidak dapat dipertanggunjawabkan. Ia sudah “dibajak” oleh kecemasan dan ketakutan dengan mengafirmasi secara membabi-buta alasan-alasan atas pengandaian supaya keceamasan dan ketakutannya dapat dinalar secara logis. Di sini letak kesalahannya, yakni: bahwa pikirang logis “terbajak” oleh emosi.
Dalam pelbagai realitas kehidupan, manusia sebagai pribadi yang memiliki dua kemampuan sekaligus – IQ dan EQ – seharusnya mampu menggunakannya dengan baik serta bijaksana. Di satu sisi, memang dibutuhkan IQ, namun di sisi lain, juga patut mengikutsertakan EQ.
Yang ingin dicapai oleh Goleman adalah bahwa seseorang harus memiliki, mengembangkan dan menggunakan kecerdasan emosional semaksimal mungkin. Beberapa aspek kecerdasan emosial adalah “kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi; mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan; mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir; berempati dan berdoa” (hal. 43). Menurut Goleman, kecerdasan emosional seseorang dapat diajarkan dan dikembangkan sebagaimana juga dengan kecerdasan intelektual. Di sini, ia menyarankan bahwa salah satu jalan yang dapat dilakukan untuk mengajar dan mengembangkan kecerdasan emosional melalui peningkatan peran sekolah, yakni dengan “meninjau ulang peran sekolah: mengajar dengan kerelaan, komunitas yang peduli” (hal. 394).
Karya Goleman sangat bersifat akademis dan dapat dipertanggungjawabkan. Ia tidak hanya mendasarkan tulisannya pada tataran teori belaka, tetapi juga memasukkan data-data penelitian yang telah dilakukan. Sebagai tulisan yang apik dengan bahasa yang mudah dimengerti, buku ini baik dibaca bagi semua yang ingin mengembangkan dan mengajarkan kecerdasan emosional, baik bagi diri sendiri maupun untuk yang lain. 

Senin, 07 November 2016

Sadar Kaya

Judul Buku     :    Sadar Kaya
Penulis            :    Mardigu WP
Penerbit          :    TransMedia Pustaka - Jakarta
Tahun Terbit  :    2015

“Aku bisa”! Seruan ungkapan itu memuat kesadaran diri bahwa tujuan atau capaian yang hendak diinginkan pasti dapat dimiliki. Itulah salah satu sisi motivasi diri yang ingin ditekankan Mardigu dalam bukunya yang berjudul Sadar Kaya. Ketika kita mengatakan bahwa “Aku Bisa”, hal itu menunjukkan kemampuan dan kapasitas diri sebagai pribadi yang memiliki kualitas. Kualitas yang dimiliki berkaitan dengan talenta atau bakat-bakat yang disadari dan dijadikan sebagai modal dalam bertindak aktif.
Ketika berbicara mengenai kesadaran diri sebagai pribadi yang kaya atau pribadi yang makmur (prosperity consciousness), seseorang diingatkan bahwa dalam diri setiap manusia – setidaknya dalam dirinya – memiliki kemampuan. Hanya saja yang patut menjadi perhatian adalah pada titik pengambilan keputusan: Apakah dia mau menggunakannya atau tidak. Seseorang yang menyadari diri sebagai pribadi yang kaya dan bernilai, sebenarnya bertitik pada orang itu sendiri, tergantung cara kerja otaknya: “Jadi, bagaimana Anda bisa memprogram otak Anda untuk menjadi orang kaya, Anda-lah yang menentukannya” (hal 1).
Kualitas pribadi yang kaya juga terletak pada kemampuan yang dimiliki untuk berfikir jauh ke depan; bahkan mampu untuk mengatasi dan mendobrak situasi sekarang menuju lebih baik. Dengan kata lain, pribadi demikian berani untuk “bermimpi”. Ia berani untuk membuat cita hidup dan itu yang akan menjadi “rel” perjalanan langkahnya. Ia meyakini bahwa dengan berani bermimpi sebenarnya ia pun sudah memulai mengubah hidup: “Impian bisa mengubah fakta, selama kamu percaya dan tidak menyerah” (hal 171).
Dalam pemrograman pikiran bawah sadar, ada satu kunci yang harus dipahami dalam cara otak bekerja. “Peranti lunak” dalam pikiran itu hanya mengenal kalimat “sekarang” atau “present tense”. Otak kecil manusia yang berada di belahan dalam, amigdala yang membuat pemrograman, tidak mengenal kata “akan”, “seandainya”, “mudah-mudahan”, “nanti” dan sebagainya. Yang dikenal adalah kekinian, sekarang. Untuk itu, pribadi sadar kaya mengetahui celah ini. Ia akan mengerjakan apa yang menjadi impian atau tujuan hidupnya, seakan ia sudah memilikinya. “Apa pun yang Anda percayai dan inginkan dalam pikiran, Anda ulangi berkali-kali bahwa Anda sudah di sana dan sudah memilikinya” (hal 183).
Buku Sadar Kaya tulisan Mardigu WP ini sangat baik dibaca untuk siapa saja yang memiliki keyakinan pada perkembangan diri. Baik untuk siapa saja karena semua orang memiliki hak untuk menyadari diri sebagai pribadi yang kaya. Hanya saja, tidak semua orang bisa menyadarinya dan butuh disadarkan oleh yang lain. 

Rabu, 19 Oktober 2016

Etika Umum: Kajian tentang Beberapa Masalah Pokok dan Teori Etika Normatif


Judul Buku        : Etika Umum: Kajian tentang Beberapa Masalah Pokok dan Teori Etika Normatif
Pengarang         : J. Sudarminta
Penerbit            : Kanisius
Tempat terbit    : Yogyakarta
Tahun               : 2013
Tebal buku        : 186 halaman

Etika sebagai salah satu cabang ilmu filsafat yang secara khusus mengkaji perilaku manusia dari segi baik-buruknya atau benar-salahnya tindakan manusia sebagai manusia, dewasa ini telah cukup berkembang dan memiliki pelbagai cabang atau spesialisasi. Di antara pelbagai cabang atau spesialisasi itu, secara umum dapat dibedakan dua cabang besar etika, yakni etika umum dan etika khusus. Etika umum adalah etika yang menyajikan beberapa pengertian dasar dan mengkaji beberapa masalah pokok dalam filsafat moral. Sedangkan etika khusus adalah etika yang mengkaji beberapa permasalahan moral dalam bidang-bidang khusus, misalnya: etika sosial, etika biomedis, etika bisnis, etika profesi dan etika jurnalistik.
Buku Etika Umum: Kajian tentang Beberapa Masalah Pokok dan Teori Etika Normatif merupakan sebuah karya tulis yang secara khusus membicarakan salah satu dari cabang besar dari etika, yakni etika umum. Seperti yang tertulis dari anak judul, buku ini dibagi ke dalam dua bagian utama. Bagian pertama membahas tentang beberapa persoalan pokok yang dikaji dalam etika umum. Bagian yang kedua menyajikan garis besar pemikiran beberapa teori etika normatif pokok yang berpengaruh dalam sejarah etika dan mencoba untuk memberikan tanggapan kritis atasnya.
Bagian pertama terdiri dari enam bab. Bab pertama berbicara tentang “Beberapa Pengertian Dasar dan Relevansi Etika”. Bagian ini menyajikan keterangan tentang pelbagai  pengertian dasar dalam etika dan menunjukkan relevansi untuk mempelajari etika. Bab kedua berbicara mengenai “Moralitas, Hukum dan Agama” yang menyajikan uraian penjelasan tentang norma umum dalam masyarakat. Bab ketiga menjelaskan “Relativisme Moral” sebagai salah satu aliran pemikiran yang belakangan ini cukup memberikan pengaruh terhadap perkembangan konsep etika. Bab keempat menyajikan pembahasan tentang “Kebebasan dan Tanggung Jawab Moral”. Bagian ini memberikan konsep pemikiran bahwa pengertian ‘tanggung jawab moral’ mengandaikan adanya kebebasan dari pelaku tindakan moral. “Suara Hati” menjadi pokok pembahasan dalam bab kelima. Bab ini menjelaskan apa itu suara hati, manakah ciri pokok yang menandainya serta bagaimana cara dan mengembangkannya. Bagian pertama dalam buku ini ditutup dengan bab yang keenam. Bab keenam mengkaji tentang “Tahap-tahap Perkembangan Kesadaran Moral munurut L. Kohlberg”.
Bagian kedua dalam buku ini secara khusus membahas beberapa teori etika normatif yang berpengaruh dalam sejarah etika. Bagian kedua ini mengulas tentang enam teori etika normatif dan dicoba untuk dijelaskan serta ditunjukkan, baik kekuatan maupun kelemahannya. Enam teori etika normatif itu adalah: 1) Egoisme etis sebagai paham yang menilai baik-buruknya perilaku orang dari apa yang paling menguntungan atau menunjang pengembangan dirinya sendiri sebagai individu; 2) Eudaimonisme atau paham yang menekankan pencarian kebahagiaan sebagai tujuan hidup manusia; 3) Utilitarianisme atau paham yang dalam melakukan penilaian moral menekankan keuntungan yang lebih besar bagi semakin banyak orang; 4) Teori etika deontologis dari Immanuel Kant yang mendasarkan penilaian moral pada motif dasar sikap hormat terhadap kewajiban atau hukum moral yang secara mutlak mengikat manusia sebagai makhluk rasional dan otonom; 5) Teori etika nilai dari Max Scheler yang menggarisbawahi sumbangan dan kelemahan etika deontologis Immanuel Kant; 6) Etika keutamaan, dari model Aristoteles dan Thomas Aquinas, yang mengutamakan kualitas kemanusiaan berikut watak luhur yang layak untuk menjadi cita-cita. Bagian kedua dalam buku ini ditutup dengan bab yang kedelapan sebagai penyimpulan dari pelbagai teori etika normatif yang dibahas dalam bab-bab sebelumnya. Bab kedelapan ini juga memuat beberapa prinsip moral dasar yang layak diperhatikan dalam menilai moralitas suatu tindakan atau kebijakan serta menilai baik-buruknya perilaku manusia sebagai manusia.
Buku ini sungguh memberikan sumbangan khusus karena mengantar pembaca ke pelbagai persoalan pokok yang dikaji dalam etika umum. Selain itu, buku ini juga memperkenalkan teori-teori etika normatif kepada pembaca yang dalam perjalanan sejarah filsafat banyak dirujuk untuk menilai moralitas suatu tindakan atau kebijakan. Tanggapan penulis pada setiap akhir kajian tentang etika normatif diharapkan dapat merangsang pembaca untuk secara kritis mengambil butiran gagasan yang disumbangkan oleh setiap teori pembahasan dan sekaligus melihat keterbatasannya.
Pada akhirnya, buku ini sungguh sangat berguna bagi siapa saja yang menaruh perhatian terhadap pemikiran etika. Harapannya adalah bahwa buku ini menyediakan ‘alat intelektual’ bagi pembaca untuk menganggapi masalah-masalah moral baru yang muncul sebagai dampak modernisasi dan perkembangan pesat ilmu pengetahuan serta teknologi.




Tip Membina Hubungan dengan Orang Lain

Judul Buku     :    Tip Membina Hubungan dengan Orang Lain
Penulis            :    Bayu W. Ayogya
Penerbit          :    Psikopedia – Yogyakarta
Tahun Terbit  :    2016

No man is an island” merupakan sebuah ungkapan bijak yang mau mengatakan bahwa manusia hidup tidak bisa sendiri, tanpa kehadiran yang lain. Dalam praksis hidup sosial, manusia selalu membutuhkan kehadiran orang lain. Orang lain dipandang sebagai rekan kerja di mana setiap manusia memiliki dan memainkan perannya. Peran yang dimiliki setiap manusia – dalam hal ini dimengerti sebagai peran manusia pekerja – adalah keikutsertaan setiap manusia untuk memenuhi kebutuhan manusia lainnya. Singkatnya, manusia ada karena ia adalah untuk yang lain.
Untuk hadir dan berada bersama dengan yang lain, tentu manusia – yang adalah kita – ingin menjadi pribadi yang dapat bersosial. Dalam ranah ini, manusia membutuhkan keterampilan menjalin relasi yang baik. Kemampuan ini perlu dilatih dan bahkan terus dikembangkan supaya ia mampu berelasi secara maksimal dengan sesamanya. Titik poinnya adalah cara membina hubungan yang baik dengan orang yang akan memberikan kepuasan pribadi kepada rekan relasinya, dan di saat yang sama, tidak menyakiti: “Hubungan antar manusia merupakan cara membina hubungan, yaitu ketika egomu dan ego orang lain tetap utuh” (hal. 8).
Tip Membina Hubungan dengan Orang Lain karya Bayu W. Ayogya memberikan inspirasi dalam membangun hubungan-relasi antar manusia. Dalam bukunya, Bayu memberikan dua langkah penting ketika kita ingin membangun relasi yang baik dengan orang lain.
Pertama, sebelum menjadi pribadi yang mampu berelasi dengan yang lain – artinya adalah menjadi pribadi yang menarik – ia harus sadar akan kebutuhan egonya sendiri. Tidak dipungkiri bahwa kita semua “lapar terhadap ego”. Hanya setelah ego terpuaskan, barulah kita dapat menggeser fokus dari diri sendiri, melepaskan perhatian terhadap diri sendiri dan memberi perhatian pada yang lain. Setelah orang sudah belajar menyukai diri sendiri, dengan memuaskan egonya, ia berkembang menjadi pribadi yang bermurah hati dan bersahabat dengan orang lain: “Ia akan sadar bahwa orang lain pun ingin dihargai seperti dirinya” (hal. 19).
Kedua, setelah sadar untuk menyukai dirinya sendiri, beberapa langkah berikut dapat dilakukan sebagai bentuk konret bahwa ia pun akan menyukai dan menghargai orang lain: membuat orang lain merasa penting, mengendalikan tindakan dan sikap orang lain, menciptakan kesan yang baik, menarik simpati orang lain, berbahasa secara tepat, mendengarkan secara aktif, membuat orang sependapat, memuji serta mengkritik tanpa melukai.
Tip Membina Hubungan dengan Orang Lain adalah karya tulis yang sangat membantu bagi siapa saja yang ingin mengembangkan kemampuan berelasi. Dengan penulisan dan gaya bahasa menarik, penulis memudahkan setiap pembaca untuk mehamai apa yang hendak disampaikan. Satu hal penting yang patut diingat adalah “penyebab kegagalan paling besar dalam hidup adalah kekeliruan dalam memahami cara membina hubungan yang baik” (hal. 113).




La présence de Dieu qui accompagne toujours nos vies est un mystère. Sa présence réelle qu'Il soit là ou ici, nous ne pourrons peut-être...