Label

Tampilkan postingan dengan label FILSAFAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FILSAFAT. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 April 2017





FALL: IBU, TENGOKLAN KAMI!
Analisa Narasi (Labov)
Atas Karya Mutaroh Akmal






1.      Abstraksi
Ragil adalah anak bungsu dari empat bersaudara dalam keluarga Pak Pandi (13). Sebagai seorang anak, ia sangat senang memiliki teman sepermainan. Teman sepermainannya adalah Suci yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Ragil (10). Kehadiran Suci dalam keseharian Ragil sungguh memberikan suasana kasih sayang sebagai pengganti kasih sayang orang tuanya yang kadang jarang ditemui.
Pak Pandi dan Bu Pandi adalah orang yang sibuk sehingga mereka jarang sekali memiliki waktu untuk bercengkerama dengan keempat anak mereka (secara berurutan: Darma, Dewi, Meity dan Ragil). Bagi Ragil, ia merindukan kehadiran ayah dan ibunya seperti yang dialami oleh Suci. Keadaan tersebut membuatnya iri terhadap Suci, “Aku malah ingin seperti kamu, Ci” (9). Kebersamaan dengan kedua orang tua merupakan dambaan Ragil dan ketiga kakaknya. Namun karena pulang larut malam dan berangkat pagi-pagi buta, menyebabkan kejengkelan hati dalam diri mereka, yang salah satunya diungkapkan Meity, “Yaa… pulang nggak pulang kan sama saja. Nggak ada bedanya” (12). Bagi Ragil, perjumpaan dengan kedua orang tua merupakan sebuah kerinduan, “Padahal aku kan beneran pengen ketemu Bapak sama Ibu….”; “Buk…. Ragil kangen…. Pengen ditemenin tidur” (15).

2.      Orientasi
Kerinduan untuk mengalami kasih dari orang tua sebagaimana anak-anak kebanyakan, merupakan kerinduan empat bersaudara itu: Darma, Dewi, Meity dan Ragil. Hanya saja, dibutuhkan usaha untuk mencari jalan yang terbaik. Salah satunya adalah usaha yang dilontarkan Dewi, “Hei! Siapa yang tahu besok minggu depan ulang tahun siapa…” (12)? Hal itu disadari Ragil, “Ulang tahunmu, Mbak. Memang kenapa” (12)? Namun karena merasa bahwa hal itu merupakan jalan yang sia-sia, Darma kemudian mengejeknya, “Jangan harap, deh….” (13). Ungkapan itu muncul karena Darma merasa bahwa ayah dan ibu mereka juga tidak merayakan ulang tahunnya, bahkan memberikan kado pun tidak: “Kenapa? Memang bener kan. Ulang tahunku kemaren aja nggak dirayain sama sekali, kok! Dikasih hadiah juga enggak. Ya kan” (13).

3.      Komplikasi
Keesokan harinya, Dewi bangun sangat pagi-pagi sekali agar dapat berbicara dengan ibunya (16) mengenai harapan supaya Pak Pandi dan Bu Pandi merayakan hari ulang tahunnya. Rasanya Dewi tahu bahwa sosok sang ibu merupakan kunci berhasil atau tidaknya rencana. Dengan penuh rengekan, Dewi memohon kepada ibunya, “Bu… ayo, dong! Masaultahku nggak dirayain” (16). Bu Pandi ternyata menolak permintaan Dewi, “Nggak bisa! Berkali-kali juga nggak bisa” (16); “Pokoknya enggak! Titik” (17)! Melihat bahwa sang suami, Pak Pandi, bertanya mengapa mereka berdua ribut, Bu Pandi menolak dengan tegas permintaan Dewi, “Ini si Dewi kepengen ngerayain ultah. Kita kan nggak ada dana buat kayak gituan. Ya kan, Pak” (17)!
Kerinduan untuk mengalami kasih dari kedua orang tua merupakan harapan keempat anak itu, setidaknya diperlihatkan oleh Dewi yang memperjuangkan perayaan hari ulang tahunnya. Kerinduan itu pupus seketika hanya karena masalah ekonomi yang tidak memungkinkan Bu Pandi mengeluarkan uang untuk mengadakan pesta (19).
Ada sebuah harapan, harapan untuk mengalami kasih orang tua ketika keluarga Pak Pandi pindah ke Jogjakarta (26). Usaha untuk menjadi keluarga yang bahagia – setidaknya dalam hal ekonomi – membulatkan niat Pak Pandi dan Bu Pandi untuk memulai usaha di Jogja. Awalnya kelurga itu hanya memiliki rumah kecil seperti warung (32). Namun, karena usaha kerja yang keras, Pak Pandi dan istrinya mampu membeli rumah yang baru dan lebih besar dari sebelumnya (46). Rumah itu kemudian dipakai sebagai usaha warung makan dengan nama “Lesehan Pesona Wisata” (47).
Keluarga itu semakin berkecukupan. Bahkan, pegawai Pesona Wisata bertambah dari 8 orang menjadi 24 orang (48). Bu Pandi menjadi pengelola utama usaha keluarga itu, sedangkan Pak Pandi sendiri lebih mengalah dan memilih untuk menjadi orang nomor dua dalam pengelolaan warung lesehan. Pak Pandi merasa kalah dari istrinya yang mengurusi begitu banyak bisnis, sementara dirinya hanya menunggui lesehan (157).
Kesuskesan keluarga dalam mengelola usaha warung lesehan, memampukan keluarga tersebut membeli rumah yang baru lagi beserta dengan seisinya Hal itu sungguh memberikan kebahagiaan bagi Darma, Dewi, Meity dan terlebih Ragil (67). Kesuksesan itu tidak hanya memberikan dampak positif bagi kehidupan ekonomi keluarga, tetapi juga memiliki dampak negatif. Dampak negatif bagi keluarga adalah bahwa ayah dan ibu mereka semakin sibuk dan sibuk (47). Ketiga kakak Ragil juga sama (47), mereka mencari kesibukan masing-masing sebab tidak ada yang perlu dipikirkan oleh karena keadaan ekonomi yang berkelimpahan. Nampaknya, kehidupan ekonomi yang lebih baik tidak menjamin untuk mengalami kasih orang tua. Hal itu dirasakan oleh Darma, Dewi, Meity dan Ragil. Mereka sibuk sendiri-sendiri sehingga melupakan kebersamaan dalam keluarga.
Kesibukan meliputi keluarga Pak Pandi, terlebih ia dan istrinya. Mereka berdua sangat sibuk karena mengurusi pengelolaan warung lesehan (47). Hal yang sangat kentara terlihat dalam diri Bu Pandi. Sebagai seorang ibu, ia lebih menghabiskan waktu hanya dengan kerjanya dan melupakan betapa pentingnya untuk berada dengan suami serta keempat anaknya. Untuk saat itu, ia sibuk pada persiapan acara promosi warung lesehan Pesona Wisata – diganti nama menjadi “Lesehan Bu Pandi” (100) – dengan mengadakan maraton berskala nasional di Malioboro (86).
Kesibukan kerja dan hasil yang diperoleh pada kenyataannya dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Hanya saja, sentuhan sebagai seorang ibu kepada anak-anak dilupakan oleh Bu Pandi. Ia merasa bahwa anak-anaknya sudah besar (87). Ia telah memberi mereka kebutuhan materi yang lebih dari cukup, juga pendidikan yang baik (87). Sesekali ibu mereka pulang ke rumah hanya untuk melihat keadaan rumah, setelah itu meninggalkan anak-anak lagi. “Ibu mau kerja lagi. Kalian rawat rumah baik-baik, ngerti”, perintah Bu Pandi kepada Meity dan Ragil yang kemudian meninggalkan rumah tanpa menoleh lagi (110).
Keadaan ekonomi yang baik karena kesuksesan dalam pengelolaan usaha warung lesehan ternyata juga berakibat buruk bagi keempat anak itu. Bagi Darma, Dewi, Meity dan Ragil, kesibukan orang tua menjauhkan mereka untuk memiliki kesempatan bertemu atau untuk mengalami kasih langsung dari orang tua. Pak Pandi dan Bu Pandi jarang di rumah dan lebih banyak menghabiskan waktu di tempat usaha. Rasanya, harapan keempat anak itu untuk mengalami kasih orang tua, terlebih dari sang ibu, hanyalah harapan belaka. Sepertinya mereka tidak memiliki orang tua yang senantiasa menjaga.
Kesibukan dalam pengelolaan usaha warung lesehan itu ternyata juga memberi dampak negatif pada hubungan perkawinan Pak Pandi dan Bu Pandi. Kesibukan Bu Pandi dalam mencurahkan hampir seluruh waktu, ternyata mengabaikan kehadiran sang suami: “Ibu (Bu Pandi) tidak pernah meminta izin Bapak (Pak Pandi) atau berusaha untuk mendiskusikan dengan Bapak untuk hal apapun juga. Padahal dia seorang istri. Ibu berjalan sendiri” (157). Karena alasan itu, Pak Pandi lebih mencari perempuan lain yang bisa menghargai dan membuatnya merasa benar-benar sebagai seorang suami (157). Keputusan Pak Pandi itu ditentang keras Bu Pandi. “Mereka bertengkar hebat; Penuh dengan kata-kata kotor” (141), hingga akhirnya, pertengkaran tersebut berujung pada perceraian (156).
Perceraian itu ternyata awal dari keruntuhan keluarga. Selang beberapa waktu kemudian, bangunan warung lesehan Bu Pandi akan digusur (148). Ia bersama para pemilik usaha kecil dan menengah yang mendapat peringatan penggusuran melakukan aksi protes kepada pemerintah (149). Namun, usahanya itu tanpa arti setelah mengetahui bahwa aksi tersebut tidak membuahkan hasil. Akhirnya, penggusuran pun terjadi (159). Darma, Dewi, Meity dan Ragil memandangi dinding Pesona Wisata roboh satu persatu. Bu Pandi melihat dengan ratapan tak berdaya (159). Pemerintah memberikan sedikit ganti rugi, tapi itu belum cukup untuk menutupi hutang-hutangnya di bank; setengahnya saja tidak. Bu Pandi terpaksa menjual semua hartanya untuk menutupi hutang-hutang itu dan juga untuk memberikan pesangon pada karyawan (159).

4.      Resolusi
Peristiwa kebangkrutan Bu Pandi memaksanya untuk berpindah, “Besok kita pindah, Rumah ini sudah ibu jual” (159). Melihat hal itu, Darma sebagai anak sulung, lebih memilih untuk tidak ikut dengan ibunya dan berusaha akan hidup mandiri (159). Kini tinggallah Dewi (yang saat itu sedang hamil karena pergaulan bebas), Meity dan Ragil yang bersama dengan Bu Pandi. Mereka tinggal dalam sebuah rumah kecil di Mangkubumi (162). Bu Pandi menggunakan sebagian rumah itu untuk membuka warung makan (162). Di balik peristiwa kebangkrutan itu, sebenarnya Bu Pandi memiliki kesempatan untuk tinggal bersama anak-anaknya. Harapan anak-anak untuk mengalami kasih dari sang ibu berada di depan mata!
Berada pada situasi yang sangat sederhana bersama dengan keempat anaknya, ternyata membentuk sikap dan tindakan Bu Pandi menjadi kasar dan mudah marah. Kemarahan itu memuncak pada Meity yang membuat anak ketiga itu lebih memilih untuk pergi dari ibunya (163-164). “Bagus! Minggat sana! Ibu tidak butuh anak malas seperti kamu!”, teriak Bu Pandi bagai kesetanan atas kepergian Meity (164). Kepergian Meity atas kekasaran dan sikap yang mudah marah itu juga membujuk Dewi untuk pergi (164). Hingga pada akhirnya, Ragil pun juga meninggalkan ibunya: “Tanpa pikir panjang lagi, Ragil melarikan diri. Ia berlari sekuat tenaga hingga nafasnya seolah habis dan lehernya terasa tercekik” (167).

5.      Evaluasi
Meninggalkan Bu Pandi merupakan keputusan bulat keempat anaknya. Darma memang lebih memilih untuk hidup mandiri ketimbang hidup bersama sang ibu (159). Meity tinggal bersama Cakra, teman dekatnya (164). Dewi dan Ragil tinggal bersama dengan kakak laki-laki mereka, Darma.
Lima tahun pun berlalu atas peristiwa itu. Sekarang, Darma sudah menikah, begitu juga dengan Dewi (175). Bahkan Meity telah mendahului mereka berdua (175). Kini tinggallah Ragil yang belum menikah. Kapan ia menyusul menikah seperti kakak-kakanya? Ia sendiri tidak tahu. Semua ia pasrahkan kepada Tuhan. Meski tidak dapat ia pungkiri, terdapat perasaan bimbang dan cemas mengenai hal itu. Ia cemas jika nanti berakhir seperti ayah dan ibunya. Cemas bila menjadi hilang kendali seperti ibunya. Kenangan akan sosok ibu ternyata membekas dalam diri Ragil. Bila mengingatnya, kesedihan dan kebencian menyergapnya. Membuat tubuhnya terasa nyeri. Ia teringat perlakuan ibunya.
Tentang ibu, Ragil mendengar bahwa ibunya tinggal dengan seorang pria (175). Tidak ada yang tahu apakah ibunya itu menikah secara sah atau tidak. Mengingat tentang ibu, memunculkan perasaan sedih dan benci dalam sudut ruang hatinya yang paling gelap. Ia tidak membiarkan orang lain mengetahui kesedihan dan kebencian akan ibunya. Ia menyimpan rapat dan hanya untuk dirinya sendiri (175). Sebenarnya, Ragil-lah yang mampu meredam ketidak-sukaan pada ibunya dibandingkan dengan kakak-kakanya. “Bohong kalau ia tidak ingin pergi. Ia ingin sekali ke sebuah tempat yang bisa membuatnya merasa nyaman. Tapi jika ia pergi, ke mana ia harus pergi? Tak mungkin ia mengikuti kakaknya, Darma, karena ia tidak mau menambah beban kakaknya lagi. Tak mungkin pula ia mengikuti Meity, karena hidupnya juga sudah susah. Ayahnya? Dari lubuk hatinya yang paling dalam, terbesit rasa tidak suka pada ayahnya yang telah meninggalkannya itu. Sebesar rasa benci pada sikap ibunya yang makin tidak sanggup ia hadapi lagi” (166).

6.      Coda
Akhirnya, Ragil tinggal bersama dengan Darma. Ia memilih untuk tetap tidak tinggal dengan ibunya. Bahkan, untuk bertemu dengan ibunya pun ia enggan (175). Ibunya telah memperlakukan Ragil dengan sangat kasar. Hal itulah yang sungguh membekas dalam hati Ragil, seperti juga anak-anak lain yang memiliki luka batin atas tindakan kasar orang tua mereka.
Dalam seluruh kisah, sosok Ragil mewakili ketiga kakaknya yang kehilangan asa untuk mengalami kasih orang tua dalam keluarga. Dengan tinggal bersama Darma, kakaknya tertua, ia mengalami kebahagian karena “tinggal di sebuh tempat yang bisa membuatnya merasa nyaman” (166). Itulah kebahagian seorang anak yang seharusnya ia dapatkan dari ayah dan ibu.






FALL: IBU, TENGOKLAN KAMI!
Analisa Narasi (Biasa)
Atas Karya Mutaroh Akmal








Sinopsis Kisah
Novel ini mengisahkan sebuah perjalanan kehidupan keluarga yang berlangsung selama lima tahun, 1990-1995. Perjalanan itu meliputi pelbagai rintangan dan cobaan dalam hidup berkeluarga. Usaha dan gairah untuk menyejahterakan keluarga dengan hidup dan bekerja keras kadang memiliki dua konsekuensi, yakni: kelimpahan dalam bidang ekonomi; atau bahkan kehancuran rumah tangga yang mengakibatkan terbengkalainya anggota keluarga.
Perjalanan kehidupan keluarga Pak Pandi, yang terdiri dari istri dan keempat anaknya, merupakan pusat dari cerita dalam novel yang berjudul Fall, Ibu Tengoklah Kami! Keluarga Pak Pandi yang terdiri dari Bu Pandi dan keempat anaknya (secara berurutan): Darma, Dewi, Meity dan Ragil, awalnya adalah keluarga yang sederhana. Usaha untuk meningkatkan taraf kehidupan ekonomi keluarga untuk menjadi lebih baik mengharuskan Pak Pandi dan Bu Pandi bekerja keras dan menghabiskan hampir seluruh waktu hanya untuk bekerja.
Gairah untuk bekerja terlihat dalam diri Pak Pandi dan Bu Pandi. Demi kerja, mereka melupakan kewajiban sebagai orang tua, yakni memberikan kasih sayang kepada keempat anak mereka. Berangkat pagi dan pulang larut malam sudah menjadi bagian dari rutinitas pasangan itu. Hal tersebut menyebabkan sedikitnya kesempatan – bahkan tidak ada sama sekali – bagi anak-anak untuk berjumpa dengan kedua orang tua mereka. Bagi Darma, Dewi, Meity dan Ragil, hal tersebut tentunya menjadi kesedihan hati karena tidak adanya kesempatan untuk bercengkrama dengan kedua orang tua. Keadaan itulah yang membuat mereka, terlebih Ragil, berusaha mengisi kerinduan hati dengan mencari teman dekat, Suci.
Persahabatan dengan Suci berakhir ketika Ragil dan keluarganya pindah ke Jogjakarta untuk membangun kehidupan ekonomi keluarga agar lebih baik. Hidup di Jogja dengan tempat tinggal yang sangat sederhana mengharuskan keluarga Pak Pandi hidup dengan se-sederhana mungkin. Niat dan gairah bekerja keras tetap mereka miliki, sekalipun mengorbankan waktu kebersamaan dengan anak-anak. Terlebih Bu Pandi, kesempatan bekerja keras baginya merupakan jalan untuk memiliki hidup yang sukses. Walaupun sudah berpindah tempat tinggal, Pak Pandi dan Bu Pandi tetap saja melupakan tugas mereka untuk meluangkan waktu bercengkrama dengan keempat anak mereka dengan alasan biasa: bekerja!
Keadaan inilah yang bagi anak-anak mereka membuat keputusan untuk mencari teman-teman terdekat sebagai pengganti kehadiran orang tua. Darma lebih memilih sering bermain ke tempat teman-temannya; Dewi memilih untuk pergi ke diskotik yang penuh keramaian sebagai pengganti kesepian hatinya; Meity tertarik dengan kehadiran Cakra; dan Ragil, si bungsu, menaruh hati akan kehadiran Shasa yang umurnya selisih jauh dengan dirinya. Kehadiran orang-orang lain dalam diri keempat anak itu sebenarnya bentuk ungkapan kerinduan hati sebagai pengganti kehadiran orang tua, terlebih sang ibu, atas hidup mereka.
Seiring dengan berjalannya waktu, usaha yang ditekuni Pak Pandi dan Bu Pandi dengan mendirikan warung Lesehan Pesona Wisata menuju kesuksesan. Kesuskesan itu membawa keluarga Pak Pandi menuju kesejahteraan ekonomi yang luar biasa. Mereka memiliki rumah  yang bagus dengan beberapa bangunan-warung Lesehan Pesona Wisata. Namun, kesuksesan itu membutakan Bu Pandi terhadap kehadiran Pak Pandi dan keempat anaknya. Kesuksesan itu membawa Bu Pandi pada kesibukan yang menguras seluruh waktu. Keadaan itu membuat Pak Pandi tidak betah dan mengakhiri hubungan dengan istrinya dan meninggalkannya serta menikah dengan perempuan lain. Bagaimana dengan keempat anaknya? Darma, Dewi, Meity dan Ragil berusaha meredam ketidak-nyamanan bersama dengan ibunya, sekalipun sang ibu sibuk dan bersikap keras.
Terjadilah penggusuran! Penggusuran dari pihak pemerintah menggusur semua bangunan warung lesehan Bu Pandi. Penggusuran itu membuatnya mengalami kebangkrutan, beban hutang pada bank, dan hilangnya semua harta. Pengalaman kejatuhan itu membuat Bu Pandi menjadi semakin kasar terhadap anak-anaknya. Setelah ditinggal pergi oleh suami, pada akhirnya keempat anaknya lebih memilih untuk juga pergi dari ibunya seperti yang dilakukan oleh ayah mereka. Sebenarnya, tinggal Bu Pandi-lah harapan akhir Darma, Dewi, Meity dan Ragil untuk mengalami kasih orang tua. Namun, sikap kasar dan kesibukan kerja yang memenuhi kehidupan sang ibu membuat mereka memupuskan harapan itu. “Ibu, tengoklah kami”, rasanya seruan itu hanya sebatas pada rangkaian kata-kata sebagai bentuk harapan belaka.

1.      Eksposisi
Ragil adalah anak bungsu dari empat bersaudara dalam keluarga Pak Pandi (13). Sebagai seorang anak, ia sangat senang memiliki teman sepermainan. Teman sepermainannya adalah Suci yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Ragil (10). Kehadiran Suci dalam keseharian Ragil sungguh memberikan suasana kasih sayang sebagai pengganti kasih sayang orang tuanya yang kadang jarang ditemui.
Pak Pandi dan Bu Pandi adalah orang yang sibuk sehingga mereka jarang sekali memiliki waktu untuk bercengkerama dengan keempat anak mereka. Bagi Ragil, ia merindukan kehadiran ayah dan ibunya seperti yang dialami oleh Suci. Keadaan tersebut membuatnya iri terhadap Suci, “Aku malah ingin seperti kamu, Ci” (9). Kebersamaan dengan kedua orang tua merupakan dambaan Ragil dan ketiga kakaknya (Darma, Dewi dan Meity). Namun karena pulang larut malam dan berangkat pagi-pagi buta, menyebabkan kejengkelan hati dalam diri mereka, yang salah satunya diungkapkan Meity, “Yaa… pulang nggak pulang kan sama saja. Nggak ada bedanya” (12). Bagi Ragil, perjumpaan dengan kedua orang tua merupakan sebuah kerinduan, “Padahal aku kan beneran pengen ketemu Bapak sama Ibu….”; “Buk…. Ragil kangen…. Pengen ditemenin tidur” (15).

2.      Momen yang Menggugah (Inciting Moment)
Kerinduan untuk mengalami kasih dari orang tua sebagaimana anak-anak kebanyakan, merupakan kerinduan empat bersaudara itu. Hanya saja, dibutuhkan usaha untuk mencari jalan yang terbaik. Salah satunya adalah usaha yang dilontarkan Dewi, “Hei! Siapa yang tahu besok minggu depan ulang tahun siapa…” (12)? Hal itu disadari Ragil, “Ulang tahunmu, Mbak. Memang kenapa” (12)? Namun karena merasa bahwa hal itu merupakan jalan yang sia-sia, Darma kemudian mengejeknya, “Jangan harap, deh….” (13). Ungkapan itu muncul karena Darma merasa bahwa ayah dan ibu mereka juga tidak merayakan ulang tahunnya, bahkan memberikan kado pun tidak: “Kenapa? Memang bener kan. Ulang tahunku kemaren aja nggak dirayain sama sekali, kok! Dikasih hadiah juga enggak. Ya kan” (13).
Berhadapan dengan pendapat yang menjatuhkan dari kakaknya, Dewi tidak putus harapan. “Pokoknya aku mo dirayain! Aku mo minta ke Ibu” (13). Hal itu tetap saja disanggah oleh Darma, “Coba aja” (13). Dengan tekad yang bulat dan keinginan yang teguh, Dewi tetap tegar dengan kemauannya, “Lihat ntar” (13)! Sependapat dengan kakanya tertua, namun ada sedikit harapan, Meity menilai bahwa usaha Dewi perlu usaha, “Selamat berusaha, deh” (13).

3.      Komplikasi I
Keesokan harinya, Dewi bangun sangat pagi-pagi sekali agar dapat berbicara dengan ibunya (16) mengenai harapan supaya Pak Pandi dan Bu Pandi merayakan hari ulang tahunnya. Rasanya Dewi tahu bahwa sosok sang ibu merupakan kunci berhasil atau tidaknya rencana. Dengan penuh rengekan, Dewi memohon kepada ibunya, “Bu… ayo, dong! Masaultahku nggak dirayain” (16). Bu Pandi ternyata menolak permintaan Dewi, “Nggak bisa! Berkali-kali juga nggak bisa” (16); “Pokoknya enggak! Titik” (17)! Melihat bahwa sang suami, Pak Pandi, bertanya mengapa mereka berdua ribut, Bu Pandi menolak dengan tegas permintaan Dewi, “Ini si Dewi kepengen ngerayain ultah. Kita kan nggak ada dana buat kayak gituan. Ya kan, Pak” (17)!
Merasa usahanya kurang berhasil, di hari selanjutnya, Dewi melancarkan kembali usaha itu. Kali ini ia menggunakan jalan lain, yakni dengan mengobrak-abrik kamar dan isi lemari di ruang tamu (17). Hal itu dilihat oleh Bu Pandi, sang ibu. Ternyata perbuatan Dewi menyulut emosi Bu Pandi (18). Pertengkaran itu dilihat oleh Pak Pandi yang merasa sejak kemarin hal itu berlanjut hingga sekarang, “Apa sih pagi-pagi dari kemarin kok ribut saja”; “Sudahlah, Bu… dikasih saja apa maunya anak” (19). Permintaan Pak Pandi – yang sebenarnya memberikan celah terkabulnya permintaan Dewi – langsung ditolak oleh Bu Pandi, “Bapak ini gimana, sih? Kan nggak ada dana buat itu, Pak. Mending buat bayar sekolahnya anak-anak dari pada pesta-pesta yang nggak ada manfaatnya” (19)!

4.      Titik Puncak dan Titik Balik (Climax and Turning Point)
Kerinduan untuk mengalami kasih dari kedua orang tua merupakan harapan keempat anak itu, setidaknya diperlihatkan oleh Dewi yang memperjuangkan perayaan hari ulang tahunnya. Kerinduan itu pupus seketika hanya karena masalah ekonomi yang tidak memungkinkan Bu Pandi mengeluarkan uang untuk mengadakan pesta (19).
Ada sebuah harapan, harapan untuk mengalami kasih orang tua ketika keluarga Pak Pandi pindah ke Jogjakarta (26). Usaha untuk menjadi keluarga yang bahagia – setidaknya dalam hal ekonomi – membulatkan niat Pak Pandi dan Bu Pandi untuk memulai usaha di Jogja. Awalnya kelurga itu hanya memiliki rumah kecil seperti warung (32). Namun, karena usaha kerja yang keras, Pak Pandi dan istrinya mampu membeli rumah yang baru dan lebih besar dari sebelumnya (46). Rumah itu kemudian dipakai sebagai usaha warung makan dengan nama “Lesehan Pesona Wisata” (47).
Keluarga itu semakin berkecukupan. Bahkan, pegawai Pesona Wisata bertambah dari 8 orang menjadi 24 orang (48). Bu Pandi menjadi pengelola utama usaha keluarga itu, sedangkan Pak Pandi sendiri lebih mengalah dan memilih untuk menjadi orang nomor dua dalam pengelolaan warung lesehan.  Pak Pandi merasa kalah dari istrinya yang mengurusi begitu banyak bisnis, sementara dirinya hanya menunggui lesehan (157).
Kesuskesan keluarga dalam mengelola usaha warung lesehan, memampukan keluarga tersebut membeli rumah yang baru lagi beserta dengan seisinya, hal itu sungguh memberikan kebahagiaan bagi Darma, Dewi, Meity dan terlebih Ragil (67). Kesuksesan itu tidak hanya memberikan dampak positif bagi kehidupan ekonomi keluarga, tetapi juga memiliki dampak negatif. Dampak negatif bagi keluarga adalah bahwa ayah dan ibu mereka semakin sibuk dan sibuk (47). Ketiga kakak Ragil juga sama (47), mereka mencari kesibukan masing-masing sebab tidak ada yang perlu dipikirkan oleh karena keadaan ekonomi yang berkelimpahan. Nampaknya, kehidupan ekonomi yang lebih baik tidak menjamin untuk mengalami kasih orang tua. Hal itu dirasakan oleh Darma, Dewi, Meity dan Ragil. Mereka sibuk sendiri-sendiri sehingga melupakan kebersamaan dalam keluarga.

5.      Komplikasi II
Kesibukan meliputi keluarga Pak Pandi. Mereka berdua sangat sibuk karena mengurusi pengelolaan warung lesehan (47). Hal yang sangat kentara terlihat dalam diri Bu Pandi. Sebagai seorang ibu, ia lebih menghabiskan waktu hanya dengan kerjanya dan melupakan betapa pentingnya untuk berada dengan suami serta keempat anaknya. Untuk saat itu, ia sibuk pada persiapan acara promosi warung lesehan Pesona Wisata – diganti nama menjadi “Lesehan Bu Pandi” (100) – dengan mengadakan maraton berskala nasional di Malioboro (86).
Kesibukan kerja dan hasil yang diperoleh pada kenyataannya dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Hanya saja, sentuhan sebagai seorang ibu kepada anak-anak dilupakan oleh Bu Pandi. Ia merasa bahwa anak-anaknya sudah besar (87). Ia telah memberi mereka kebutuhan materi yang lebih dari cukup, juga pendidikan yang baik (87). Sesekali ibu mereka pulang ke rumah hanya untuk melihat keadaan rumah, setelah itu meninggalkan anak-anak lagi. “Ibu mau kerja lagi. Kalian rawat rumah baik-baik, ngerti”, perintah Bu Pandi kepada Meity dan Ragil yang kemudian meninggalkan rumah tanpa menoleh lagi (110).
Keadaan ekonomi yang baik karena kesuksesan dalam pengelolaan usaha warung lesehan ternyata juga berakibat buruk bagi keempat anak itu. Bagi Darma, Dewi, Meity dan Ragil, kesibukan orang tua menjauhkan mereka untuk memiliki kesempatan bertemu atau untuk mengalami kasih langsung dari orang tua. Pak Pandi dan Bu Pandi jarang di rumah dan lebih banyak menghabiskan waktu di tempat usaha. Rasanya, harapan keempat anak itu untuk mengalami kasih orang tua, terlebih dari sang ibu, hanyalah harapan belaka. Sepertinya mereka tidak memiliki orang tua yang senantiasa menjaga.
Kesibukan dalam pengelolaan usaha warung lesehan itu ternyata juga memberi dampak negatif pada hubungan perkawinan Pak Pandi dan Bu Pandi. Kesibukan Bu Pandi dalam mencurahkan hampir seluruh waktu, ternyata mengabaikan kehadiran sang suami: “Ibu (Bu Pandi) tidak pernah meminta izin Bapak (Pak Pandi) atau berusaha untuk mendiskusikan dengan Bapak untuk hal apapun juga. Padahal dia seorang istri. Ibu berjalan sendiri” (157). Karena alasan itu, Pak Pandi lebih mencari perempuan lain yang bisa menghargai dan membuatnya merasa benar-benar sebagai seorang suami (157). Keputusan Pak Pandi itu ditentang keras Bu Pandi. “Mereka bertengkar hebat; Penuh dengan kata-kata kotor” (141), hingga akhirnya, pertengkaran tersebut berujung pada perceraian (156).
Perceraian itu ternyata awal dari keruntuhan keluarga. Selang beberapa waktu kemudian, bangunan warung lesehan Bu Pandi akan digusur (148). Ia bersama para pemilik usaha kecil dan menengah yang mendapat peringatan penggusuran melakukan aksi protes kepada pemerintah (149). Namun, usahanya itu tanpa arti setelah mengetahui bahwa aksi tersebut tidak membuahkan hasil. Akhirnya, penggusuran pun terjadi (159). Darma, Dewi, Meity dan Ragil memandangi dinding Pesona Wisata roboh satu persatu. Bu Pandi melihat dengan ratapan tak berdaya (159). Pemerintah memberikan sedikit ganti rugi, tapi itu belum cukup untuk menutupi hutang-hutangnya di bank; setengahnya saja tidak. Bu Pandi terpaksa menjual semua hartanya untuk menutupi hutang-hutang itu dan juga untuk memberikan pesangon pada karyawan (159).

6.      Resolusi
Peristiwa kebangkrutan Bu Pandi memaksanya untuk berpindah, “Besok kita pindah, Rumah ini sudah ibu jual” (159). Melihat hal itu, Darma sebagai anak sulung, lebih memilih untuk tidak ikut dengan ibunya dan berusaha akan hidup mandiri (159). Kini tinggallah Dewi (yang saat itu sedang hamil karena pergaulan bebas), Meity dan Ragil yang bersama dengan Bu Pandi. Mereka tinggal dalam sebuah rumah kecil di Mangkubumi (162). Bu Pandi menggunakan sebagian rumah itu untuk membuka warung makan (162). Di balik peristiwa kebangkrutan itu, sebenarnya Bu Pandi memiliki kesempatan untuk tinggal bersama anak-anaknya. Harapan anak-anak untuk mengalami kasih dari sang ibu berada di depan mata.
Berada pada situasi yang sangat sederhana, ternyata membentuk sikap dan tindakan Bu Pandi menjadi kasar dan mudah marah. Kemarahan itu memuncak pada Meity yang membuat anak ketiga itu lebih memilih untuk pergi dari ibunya (163-164). “Bagus! Minggat sana! Ibu tidak butuh anak malas seperti kamu!”, teriak Bu Pandi bagai kesetanan atas kepergian Meity (164). Kepergian Meity atas kekasaran dan sikap yang mudah marah itu juga membujuk Dewi untuk pergi (164). Hingga pada akhirnya, Ragil pun juga meninggalkan ibunya: “Tanpa pikir panjang lagi, Ragil melarikan diri. Ia berlari sekuat tenaga hingga nafasnya seolah habis dan lehernya terasa tercekik” (167).

7.      Kesimpulan
Meninggalkan Bu Pandi merupakan keputusan bulat keempat anaknya. Darma memang lebih memilih untuk hidup mandiri ketimbang hidup bersama sang ibu (159). Meity tinggal bersama Cakra, teman dekatnya (164). Dewi dan Ragil tinggal bersama dengan kakak laki-laki mereka, Darma.
Lima tahun pun berlalu atas peristiwa itu. Sekarang, Darma sudah menikah, begitu juga dengan Dewi (175). Bahkan Meity telah mendahului mereka berdua (175). Kini tinggallah Ragil yang belum menikah. Kapan ia menyusul menikah seperti kakak-kakanya? Ia sendiri tidak tahu. Semua ia pasrahkan kepada Tuhan. Meski tidak dapat ia pungkiri, terdapat perasaan bimbang dan cemas mengenai hal itu. Ia cemas jika nanti berakhir seperti ayah dan ibunya. Cemas bila menjadi hilang kendali seperti ibunya. Kenangan akan sosok ibu ternyata membekas dalam diri Ragil. Bila mengingatnya, kesedihan dan kebencian menyergapnya. Membuat tubuhnya terasa nyeri. Ia teringat perlakuan ibunya.
Tentang ibu, Ragil mendengar bahwa ibunya tinggal dengan seorang pria (175). Tidak ada yang tahu apakah ibunya itu menikah secara sah atau tidak. Mengingat tentang ibu, memunculkan perasaan sedih dan benci dalam sudut ruang hatinya yang paling gelap. Ia tidak membiarkan orang lain mengetahui kesedihan dan kebencian akan ibunya. Ia menyimpan rapat dan hanya untuk dirinya sendiri (175). Sebenarnya, Ragil-lah yang mampu meredam ketidak-sukaan pada ibunya dibandingkan dengan kakak-kakanya. “Bohong kalau ia tidak ingin pergi. Ia ingin sekali ke sebuah tempat yang bisa membuatnya merasa nyaman. Tapi jika ia pergi, ke mana ia harus pergi? Tak mungkin ia mengikuti kakaknya, Darma, karena ia tidak mau menambah beban kakaknya lagi. Tak mungkin pula ia mengikuti Meity, karena hidupnya juga sudah susah. Ayahnya? Dari lubuk hatinya yang paling dalam, terbesit rasa tidak suka pada ayahnya yang telah meninggalkannya itu. Sebesar rasa benci pada sikap ibunya yang makin tidak sanggup ia hadapi lagi” (166).
Akhirnya, Ragil masih tetap tinggal bersama dengan Darma. Ia memilih untuk tetap tidak tinggal dengan ibunya. Bahkan, untuk bertemu dengan ibunya pun ia enggan (175). Ibunya telah memperlakukan Ragil dengan sangat kasar. Hal itulah yang sungguh membekas dalam hati Ragil, seperti juga anak-anak lain yang memiliki luka batin atas tindakan kasar orang tua mereka. Dalam seluruh kisah, sosok Ragil mewakili ketiga kakaknya yang kehilangan asa untuk mengalami kasih orang tua dalam keluarga. Dengan tinggal bersama Darma, kakaknya tertua, ia mengalami kebahagian karena “tinggal di sebuh tempat yang bisa membuatnya merasa nyaman” (166). Itulah kebahagian seorang anak yang seharusnya ia dapatkan dari ayah dan ibu.

Selasa, 21 Maret 2017

Rama sebagai Konselor

Rama sebagai Konselor adalah sebuah tulisan yang bagi saya adalah sebuah pengalaman dan hasil pendidikan selama kuliah konseling. Dalam tulisan ini saya berusaha untuk menyampaikan beberapa hal penting yang diterima selama proses perkuliahan konseling. Beberapa hal itu dikatakan penting tidak hanya sebatas pada ranah pemenuhan nilai saja melainkan yang lebih utama adalah saya dapat men-share-kan sebuah pemahaman yang sangat berguna bagi tugas pelayanan saya sebagai pribadi yang akan menjadi imam-religius. Dengan kata lain, materi yang akan saya sampaikan ini merupakan suatu hal yang relefan bagi perjalanan panggilan imamat saya kelak!

1.      Latar Belakang
Romo …, bisakah saya berbicara dengan Romo sebentar. Soalnya, saya  sedang mengalami masalah dengan isteri saya”! Keluhan pengalaman seperti itu sepertinya telah menjadi hal yang sangat familiar bila mengaitkannya dengan keberadaan seorang romo/pastor yang berkarya di mana pun, terlebih yang berkarya di paroki. Seorang semanaris/frater yang telah ditahbiskan menjadi seorang romo adalah sebuah anugerah yang menjadikan pribadi itu menjadi pribadi yang memiliki nilai lebih di mata umat Gereja. Romo menjadi pribadi yang lebih di mata umat karena ia menjadi pribadi yang dinomor satukan; seorang pribadi yang sesuai dengan tugas perutusan menjadi gembala bagi umat Allah.
Romo adalah figur utama Gereja yang menjadi orang kepercayaan bagi umat. Maka menjadi hal yang lumrah dan biasa bila menemukan sebuah keluhan seperti pada paragraf awal tadi yang menceritakan kedatangan seorang umat kepada romonya. Umat yang sedang mengalami masalah (dengan istrinya itu) berharap bahwa pastornya dapat membantu dan mengatasi masalah yang sedang dihadapi. Romo telah mendapatkan nilai kepercayaan di mata umat! Mungkin, pengalaman atau kasus seperti pada bagian awal tadi adalah satu di antara banyak kasus yang dihadapai oleh seorang romo dalam karyanya. Berhadapan dengan situasi familiar - bahwa romo adalah seorang figur kepercayaan - yang sering dijumpai dalam pengalaman pastoral, maka bagi saya secara pribadi menilai bahwa seorang romo harus membekali dirinya tidak hanya dengan pengetahuan filsafat-teologi saja! Seorang romo haruslah juga membekali dirinya dengan pengetahuan tentang dunia konseling karena ia akan berhadapan dengan situasi Gereja yang kompleks, di antaranya adalah menghadapi umat yang sedang mengalami permasalahan dengan kehidupan duniawi-dengan sesama, seperti pada contoh kasus di atas. Situasi demikianlah yang menuntut seorang romo untuk harus juga menjadi seorang konselor!
Situas di lapangan pastoral memanglah situasi yang tak terduga. Seorang romo tidak dapat secara eksplisit memperkirakan permasalahan umat yang akan dihadapinya. Dengan memiliki potensi sebagai konselor, seorang romo diharapkan mampu untuk dapat menghadapi situasi insidental yang dialami oleh umat. Pengetahuan yang cukup tentang dunia konseling setidaknya memberikan sumbangan lebih bagi seorang romo untuk memberikan pelayanan “insidental” kepada umat (klien) yang mengalami masalah bila meminta bantuan. Lantas, manuver apa yang seharusnya dapat diberikan oleh seorang romo-konselor dalam “kamar tamu”-nya bila berhadapan dengan umat yang memiliki masalah cukup kompleks? Langkah apa yang secara tepat dapat dilakukan bila umat yang datang kepada romo (dengan masalahnya) dalam keadaan insidental? Pada bagian selanjutnya akan ditampilkan beberapa poin yang bagi saya memberikan sumbangan pengatahuan konseling untuk membantu dalam tugas pelayanan-pastoral ke depan, terutama bagi saya!

2.      Rama sebagai Konselor
Ketika seorang romo berkecimpung dalam dunia karya, entah yang bertugas di dunia pendidikan, karya kategorial, formasio (masa pembentukan bagi para calon), hingga sampai pada pelayanan pastoral-parokial, akan tidak luput dari perjumpaan dengan umat Gereja. Perjumpaan dengan umat inilah yang tidak menutup kemungkinan atas pandangan bahwa sosok seorang romo adalah sosok yang diutamakan dalam kehidupan umat. Maka, akan menjadi hal yang dapat diterima bila umat melihat romonya adalah seorang pribadi yang diharapkan mampu untuk membimbing dan mengarahkan perjalanan domba gembalaannya. Bahkan, tidak dapat disangkal pula bila umat yang sedang mengalami permasalahan datang kepada seorang romo. Kepercayaan inilah yang sebenarnya memberi entry point untuk memiliki kepercayaan dari umat yang digembalakannya. Namun permasalahannya, mampukan seorang romo memiliki potensi untuk menghadapai umat dengan pelbagai keperluan dan permasalahannya? Atas dasar inilah menjadi hal yang sangat relevan bila sang romo dengan pelayanan “kamar tamu”-nya memberikan sumbangan positif bagi domba yang datang kepadanya. Atas dasar itu pula yang menuntut seorang romo untuk menyediakan diri untuk menjadi seorang konselor. Tuntutan inilah yang mendasari sebab di jaman yang terus berkembang, umat tidak hanya berhadapan dengan permasalahan iman melainkan juga dengan permasalahan yang bersinggungan langsung dengan kehidupan duniawi (permasalahan dengan keluarga, tetangga, ekonomi, pendidikan, mentalitas pribadi, emosional dan lain sebagainya).
Yang perlu dihindari
Waah …, Romo …, saya sangat kecewa dengan kedua orang tua saya karena mereka tidak mengerti betapa saya sedih tatkala mereka tidak merestui hubungan saya dengan Hana!”, begitulah salah satu dari sekian contoh-contoh permasalahan/kasus yang dimiliki oleh umat yang datang kepada romo. Kasus itu adalah salah satu dari antara mudika yang sedang mengalami masalah dalam praksis kehidupan. Permasalahan yang dimiliki umat semakin kompleks dan beraneka ragam sesuai dengan umur serta status sosialnya dalam masyarakat. Maka yang datang untuk meminta bimbingan kepada romo sangatlah sulit untuk diprediksikan. Oleh karena itu, romo pun harus siap untuk menghadapi umat yang datang kepadanya!
Menghadapai situasi yang menuntut romo untuk memberikan bantuan kepada uamt yang sedang mengalami sebuah masalah bukanlah hal yang mudah. Romo tidak hanya dituntut untuk memberikan sesuatu dan umat pasti puas! Figur romo diharapkan dapat menjadi lebih dari sekadar romo; romo yang mampu menjadi seorang konselor sehingga siap dalam menghadapi umat (klien). Namun sayangnya, bila umat yang bermasalah datang kepada romo dengan pelbagai permasalahannya malah ditanggapi dengan tanggapan yang tidak berbobot! Artinya, umat hanya mendapatkan peneguhan saja sehingga masalah yang seharusnya diselesaikan tidak tersentuh. Begitulah kiranya bila figur seorang romo dalam tugas pelayanannya hanya mengandalkan kemampuan pengetahuan rasio-reflektif saja! Umat yang datang sebenarnya membutuhkan tanggapan empatik akan tetapi dijamu dengan tanggapan non-empatik dari romo. Tanggapan non-empatik itu dapat menghalangi komunikasi yang lebih dalam (the roadblocks to communication) sehingga mengakibatkan terhalangnya umat (sebagai mitra komunikasi-MK/konseli) untuk mengungkapkan perasaan dan persoalannya kepada romo (pembimbing/P). Oleh karena itu, menjadi hal yang penting untuk mengenali tanggapan non-empatik itu sehingga romo tidak mengecewakan umat yang datang kepadanya. Beberapa tanggapan non-empatik itu adalah:
a)      Mempersamakan persoalan MK dengan P sendiri atau dengan persoalan orang lain.
Apabila P berkata: “Saya dulu juga pernah demikian!”, maka MK akan mendapat kesan bahwa persoalannya dianggap tidak istimewa. Demikian pula jika P berkata tentang persamaan pengalaman MK dengan pengalaman orang lain: “Ibu saya dulu juga memiliki pengalaman yang sama denganmu!”, maka yang akan terjadi adalah yang menjadi pusat dalam bimbingan bukan lagi MK melainkan P. Situasi demikian “mematikan” MK untuk mengungkapkan semua perasaan atau persoalaan yang dimiliki.
b)      Menganggap persoalan MK sebagai persoalan umum dan biasa.
Kalau P menanggap dan menilai bahwa permasalahan MK sebagai permasalahan yang umum serta biasa dengan berkata, “Ah …, itu biasa”, maka MK tidak akan melanjutkan pembicaraannya. Tanggapan, “Ah …, itu biasa” tidak akan menghapus perasaan atau persoalan yang dihadapi MK. Tanggapan demikian hanya menghentikan percakapan dalam bimbingan sehingga komunikasi yang diharapkan pun tidak terjadi.
c)      Menyebutkan suatu kebenaran.
Apabila dalam suatu saat umat mengungkapkan kesedihannya karena adiknya meninggal dunia mendengar P berkata: “Allah telah menerima adikmu di surga”! Tanggapan seperti itu rasanya hanyalah nasihat pada tarap pikiran-akal saja dan bukan untuk mengobati perasaan-permasalahan. Tanggapan seperti itu sebenarnya benar namun tidak tepat dengan situasi yang sedang dihadapi oleh umat sebab umat itu tidak membutuhkan nasihat surgawi saja melainkan sebuah perhatian penuh dari sang gembalanya!
d)     Mengadili.
Apabila P memberi tanggapan “Itu benar”, “Saya sangat setuju dan sependapat denganmu”, “Itu sangat bijaksana”, sebenarnya P sudah mengadili MK. Walaupun tanggapan itu sepertinya memberikan pujian terhadap persoalan yang dihadapi MK namun akan berakibat bahwa MK berfikir kembali untuk melanjutkan sharing persoalannya. MK khawatir bahwa apabila dalam pembicaraan selanjutnya ia menungkapkan perasaan/pernyataan negatif, P juga akan mengadilinya dengan pernyataan yang negatif pula. Dalam hal demikian, P seringkali dianggap sebagai romo yang menghakimi atau mengadili orang yang mencurahkan perasaan/persoalan kepadanya.
e)      Memberikan pertolongan rohani sebelum waktunya.
Sebuah kalimat atau pernyataan yang dapat menghentikan pembicaran dalam bimbingan kamar tamu romo adalah kalimat rohani: ayat Kitab Suci, kebenaran Kitab Suci, renungan pendek dan doa. Itu semua adalah baik namun kurang tepatlah bila diungkapkan dalam situasi bimbingan dengan uamt yang sedang mengalami permasalahan. Maka langkah yang lebih baik dalam bimbingan adalah tidak langsung memberikan pertolongan rohani kepada MK melainkan terlebih dahulu perasaan dan pergolakan batin MK ditangkap, dipahami dan dipantulkan dalam bantuan yang tepat. 
f)       Menasihati.
Salah satu yang sering dijumpai dalam kegiatan bimbingan adalah menasihati. P langsung memberikan nasihat kepada MP pada bagian awal pembicaraan tanpa memahami lebih lanjut permasalahan yang dihadapi. Padahal, dalam keadaan seperti itu MK sebenarnya lebih membutuhkan pengertian dan pemahaman dari P (romo) sehingga ia dengan leluasa dapat mengungkapkan perasaan/persoalan yang dihadapinya.
Dengan mengetahu beberapa tanggapan non-empatik dalam bimbingan yang harus dihindari, seorang romo diharapkan mampu untuk memberikan yang terbaik bagi umat yang dibimbingnya. Seorang romo yang berhadapan dengan klien/umatnya sendiri diharapkan tahu akan situasi umat sehingga ia bersedia untuk menjadi pendengar setia untuk memahami apa yang sedang dikeluhkan oleh umat. Oleh karena itu, kecenderungan yang biasa terjadi dalam praktik kamar tamu dengan memberikan tanggapan-tanggapan non-empatik dapat dihindari sehingga umat dengan rela hati untuk mengungkapkan seluruh perasaan akibat permasalahan yang sedang dihadapi. Mengindari beberapa tanggapan non-empatik adalah sebuah manuver tepat bagi seorang romo untuk melangkah maju menjadi konselor bila berhadapan dengan umat-klien yang sedang mengalami permasalahan yang sedang dihadapi.
Menjadi konselor
Adapun langkah selanjutnya (setelah menghindari beberapa tanggapan non-empatik), seorang romo dimampukan untuk memiliki potensi menjadi seorang konselor dengan memperhatikan beberapa aspek pelancar komunikasi. Aspek-aspek itulah yang menjadi sebuah modal untuk membangun komunikasi yang efektif dengan umat yang meminta bimbingan dengannya. Dengan kata lain, selain memperhatikan beberapa tanggapan yang harus dihindari, seorang romo dalam kegiatan bimbingannya juga harus memperhatikan beberapa tanggapan yang konstruktif untuk membangun penerimaan dan pemahaman umat yang dibimbing.
Ketika umat datang kepada romonya dengan meminta agar mendapat bantuan atau setidaknya mendapat perhatian, maka langkah pertama yang seharusnya dilakukan adalah dengan mendengar pasif/diam. Ada pepatah yang mengatakan “silence is golden”. Dengan sikap diam yang dimiliki, seorang romo memberikan kesempatan kepada umat yang sedang mengalami masalah itu untuk mengungkapkan masalahnya, memberi kesempatan untuk mengalami proses katarsis dan meluapkan/mengungkapkan perasaan/emosinya dan yang lebih penting ialah bahwa ia diterima dengan hangat. Selanjutnya, romo berusaha untuk memberikan tanggapan pengakuan-penerimaan (acknowledgment respons) dengan isyarat non-verbal (mengangguk, tersenyum, dan menunduk ke arah depan) maupun verbal (dengan berkata, “Ya …, saya mengerti”, “Oo …, begitu…”). Ketika umat tadi telah merasa nyaman dengan tanggapan penerimaan yang diberikan maka romo kemudian mengajaknya untuk membuka pintu atau mengundang/mengajaknya untuk bicara lebih banyak.
Ketiga langkah di atas adalah cara mendengarkan pengungkapan perasaan/persoalan umat dalam bimbingan yang masih memiliki keterbatasannya. Ketiga langkah dasar dalam bimbingan tadi kurang memperlihatkan interaksi. Bila diperhatikan ternyata konseli yang lebih aktif sehingga ia hanya tahu bahwa ia didengarkan. Namun di lain pihak, ia mungkin belum mengetahui apakah romo/konselor menerima dirinya dengan persoalannya sebab persoalan yang lebih mendalam dan penyebab dari persoalannya belum tergali. Ketiga cara awal itu kiranya masih relatif dan termasuk pasif serta tidak menunjukkan bahwa umat sudah dipahami. Oleh karena itu, akan menjadi tidak lengkaplah bila seorang romo dalam kegiatan bimbingannya hanya mempraktikkan ketiga cara tadi. Seorang romo bila telah mempraktikkan aspek-aspek tanggapan konstruktif - seperti dalam ketiga langkah tadi - sebenarnya telah membangun sebuah komunikasi yang baik dengan konseli. Hanya saja masih dibutuhkan satu hal lagi yang kiranya menjadi senjata utama untuk menghadapi umat yang bermasalah, yakni: mendengarkan aktif (acktve listening)!
Mendengarkan aktif (acktve listening) merupakan sebuah langkah yang sangat diperlukan dalam proses bimbingan yang diberikan romo kepada umat yang datang kepadanya dengan aneka permasalahan. Sekalipun bagi seorang romo, kegiatan bimbingan adalah sebuah kegiatan yang tidak dapat diprediksikan/insidental maka setidaknya mendengarkan aktif harus dimilikinya. Langkah ini sangat penting karena dalam mendengarkan aktif, penerima/ pendengar berusaha mengerti perasaan pembicara serta arti pesan yang dikirimkannya. Kemudian pengertian yang ditangkap itu dirumuskan dalam kalimat dan dikirimkan kembali kepada pengirim. Hal yang perlu diperhatikan adalah penerima (romo) tidak mengirimkan pesannya sendiri (misal: penilaian, nasihat, analisa dan pertanyaan). Yang mejadi tanggapan balik hanyalah apa yang dianggapnya sebagai arti pesan dari si pengirim. Bagian yang menjadi umpan balik adalah untuk menyesuaikan ketepatan si penerima dalam mendengarkan sharing si pengirim. Hal ini yang yang dapat meyakinkan pengirim (umat) bahwa ia dimengerti oleh romo pada saat ia mendengar pesannya ”diumpan balikkan” dengan tepat. Dengan kata lain bahwa umat yang mengungkapkan perasaan atas permasalahan yang dihadapi menyadari ”dipahami” oleh romonya.
Mendengarkan aktif (acktve listening) membantu romo sebagai konselor untuk mengembangkan hubungan hangat dengan umat (klien); mendorong terjadinya katarsis (perasaan negatif berkurang/hilang dengan jalan mengungkapkannya secara terbuka); menolong umat untuk tidak terlalu takut terhadap permasalahan yang dihadapi; dan pada akhirnya melatih umat itu sendiri untuk mengarahkan dirinya, bertanggung jawab dan berdiri sendiri. Dengan demikian, memudahkan umat yang bermasalah untuk memecahkan masalahnya sendiri!
Berikut ini adalah sebuah contoh konkrit yang menunjukkan bagaimana seorang romo yang menolong mudikanya dengan jalan mendengarkan aktif:
Budi   : “Romo ..., Hana tidak bersedia untuk menemani saya pergi ke Gamping untuk                pertemuan mudika!”
Romo  : “Kamu sepertinya marah ya dengan Hana?”
Budi   : “Ya Romo ..., saya tidak ingin berteman lagi dengan dia. Saya tidak sudi untuk                                  menemuinya!” 
Romo  : “Kamu begitu marah sehingga tidak mau untuk berteman dan melihatnya lagi?”
Budi   : ”Em ..., saya kira saya harus tetap berteman dengan dia tapi ..., sulit Romo untuk                menahan emosi marah saya ini!”
Romo  : ”Kamu ingin tetap berteman dengannya tapi merasa sulit untuk tidak marah terhadap                 Hana!”
Budi   : ”Sebenarnya saya tidak perlu untuk marah, kalau dia bersedia untuk menemani saya!”
Romo  : ”Hana tidak mudah untuk diperintah sesuai dengan kehendakmu sekarang!”
Budi   : ”Benar. Ia sekarang bukan anak kecil lagi sebab ia sudah menjadi remaja dewasa dan                        sepertinya dia adalah pribadi yang menyenangkan!”
Romo  : ”Kamu lebih menyukainya?”
Budi   : ”Ya ..., tapi saya merasa sulit untuk mengajaknya. Saya sudah terbiasa untuk selalu                mengajaknya pergi. Em ..., mungkin kami akan tidak saling bermusuhan bila saya                membiarkannya untuk tidak harus menemani saya. Bukankah begitu Romo ...?”
Romo  : ”Ya ..., bila kamu mencoba untuk mengalah kiranya situasi ini akan menjadi lebih                            baik.”
Budi   : ”Ya ..., mungkin saja hal itu dapat terjadi. Saya akan mencobanya!”
Pada bagian percakapan itu terlihat bagaimana romo terus menerus menggunakan mendengarkan aktif sehingga masalah yang dihadapi tetaplah menjadi masalah Budi. Dengan mendengarkan aktif, romo membantu Budi untuk mengurangi/menghilangkan rasa marah dan mengajaknya untuk mulai mengadakan pemecahan persoalan dengan melihat dirinya secara lebih mendalam. Keadaan itulah yang pada akhirnya menghantarkan Budi untuk sampai pada penyelesaian masalah dan berkembang menjadi seorang yang bertanggung jawab serta mengarahkan pemecahan persoalan sendiri. Inilah letak manfaat dalam mendengarkan aktif bila seorang romo menerapkannya dalam kegiatan bimbingan dengan umat yang sedang mengalami sebuah permasalahan.

3.      Siap Menjadi Konselor!
Jaman semakin berkembang dan peradaban komunitas umat Gereja pun tidak akan terlepas dari pengaruhnya. Saya menyadari bahwa kehidupan saya kelak - tatkala setelah ditahbiskan menjadi seorang imam/romo - harus berhadapan dengan situasi umat yang beraneka ragam dengan perlbagai permasalahan hidup yang dihadapi. Memang benar bila seorang romo memiliki kepercayaan di mata umat sehingga tidak dapat disangkal jika suatu saat umat yang digembalakan mengalami permasalahan akan datang kepada gembala, yakni romonya. Situasi demikianlah yang menunjukkan bahwa tidaklah cukup bagi saya (bila telah menjadi imam nanti) hanya mendasarkan pelayanan pada ranah filosofis-teologis saja; hanya berkarya di sekitar altar! Umat tidak hanya membutuhkan siraman rohani saja. Seorang imam pun dalam tugas pelayanannya juga harus memperhatikan seluruh aspek kehidupan umat secara holistik, termasuk bersinggungan dengan kehidupan awam yang berhadapan pada permasalahan hidup (mental, sosial, ekonomi dan lainnya).
Dengan melihat situasi umat ke depan yang demikian dan juga didukung dengan pengetahuan yang telah saya peroleh dalam mata kuliah koseling, secara pribadi saya menyadari betapa pentingnya diri saya untuk juga menerapkan materi ini dalam tugas pelayanan kelak. Saya menyadari pentingnya hal itu karena sudah menjadi hal familiar bila ada umat yang sedang mengalami permasalahan akan datang kepada romonya. Berbekalkan anugerah panggilan dan disertai dengan pengetahuan dasar tentang konseling (seperti beberapa poin yang saya tuliskan dalam bagian atas) menjadikan saya siap untuk memberikan pelayanan kepada umat Allah yang dipercayakan kepada saya kelak. Di samping menjadi seorang imam-religius, saya pun siap untuk menjadi konselor!


*  *  *
Daftar Pustaka
Prayitno, H., - Erman Amti
            1999               Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, Pusat Pembukuan Departemen                              Pendidikan dan Kebudayaan dengan PT Rineka Cipta, Jakarta.
Sinurat, R. H. Dj.,
            2010               Konseling-Hand Out, Fakultas Teologi – Universitas Sanata Dharma,                                   Yogyakarta.


Rabu, 01 Maret 2017

Hal-Hal yang Saya Pelajari dari Buku Hadap


HADAP (Hubungan Dasar Antar Pribadi) merupakan sebuah latihan yang membantu setiap pribadi untuk mempekenalkannya kepada beberapa hal/prinsip yang berguna dalam hubungan antar pribadi. Latihan ini juga memberikan beberapa kesempatan bagi individu (serta kelompok) untuk mencoba cara-cara baru dalam membangun hubungan dengan orang lain. Atas dasar itu, buku Hadap sungguh membantu dalam pengembangan diri agar menjadi pribadi menuju perubahan dan pertumbuhan pada ranah hubungan dengan sesama-orang lain. Adapun beberapa prinsip/hal yang berguna (penting) untuk diingat atau direnungkan dan juga perlu untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari dari Hadap di antaranya: dalam berhubungan dengan orang lain haruslah melihatnya sebagai pribadi dan bukan sebagai benda; perlunya kesadaran akan perasaan-perasaan diri dalam berhubungan dengan orang lain; mengakui perasan merupakan yang membuat diri menjadi lega; menyenangi keadaan diri adalah pertumbuhan sebagai pribadi; hubungan antar pribadi adalah sebuah kunci pertumbuhan diri! Beberapa prinsip itulah yang perlu untuk dihayati dan dikonkritkan dalam praksis kehidupan bersosial.
Manusia adalah makhluk sosial. Oleh karena itu dalam praksis kehidupan ia harus berhadapan dengan sesama. Keadaan inilah yang membuat seseorang  – sebagai manusia – untuk juga memperhatikan sesama sebagai manusia pula. Maka, dalam berhubungan dengan orang lain/sesama haruslah melihatnya sebagai pribadi dan bukan sebagai benda. Orang lain yang dihadapi dalam pergaulan hidup adalah pribadi yang mempunyai perasaan. Kesadaran inilah yang setidaknya mengarahkan diri untuk bercakap-cakap, memandang, dan terus mengingat bahwa orang lain adalah seseorang yang mempunyai perasaan. Kesadaran ini pula yang mengharuskan setia orang dalam mengembangkan hidup bersosialitas untuk tidak memandang orang lain sebagai sarana melainkan lebih melihatnya sebagai pribadi yang memiliki tujuan pada dirinya sendiri.
Aspek lain yang juga sangat penting dalam membangun hubungan antar pribadi adalah perlunya kesadaran akan perasaan-perasaan diri dalam berhubungan dengan orang lain. Hal ini sungguh dipentingkan karena seringkali terabaikan saat kita berinteraksi dengan orang lain. Agar kecenderungan ini dapat teratasi maka diperlukan sebuah hubungan tertentu supaya dapat merasa bebas untuk mengenal lebih dalam dan untuk menghargai perasaan diri sendiri. Menyadari akan perasaan-perasan diri sendiri pada prinsipnya berusaha untuk menerima orang lain – dengan menerima perasaan yang sedang dialaminya – dan juga dengan tidak mengabaikan perasaan yang sedang kita alami di saat sedang berinteraksi dengan orang lain (yang sedang membagikan perasaannya itu).
Dalam latihan Hadap mengetengahkan pentingnya untuk mengakui perasaan. Latihan ini merupakan sebuah langkah yang membuat diri menjadi lega atas perasaan yang sedang dialami, terlebih perasaan-perasaaan yang membuat tidak OK-nyaman! Pada kenyataannya banyak permasalahan yang timbul dalam hubungan kita dengan orang lain karena ketidakmampuan kita dalam mengkomunikasikan perasaan yang dialami secara efektif. Bila kita sedang mengalami perasaan yang tertekan (marah, jengkel, bosan dan lainnya) dan itu disembunyikan, disangkal atau mengkomunikasikannya dengan cara yang tidak tepat maka masalahlah yang timbul dalam hubungan dengan sesama. Oleh karena itu, mengakui perasaan dan mengkomunikasikannya sangatlah penting. Mengakui perasaan tidak hanya menolong kita untuk lebih memahaminya melainkan juga memberikan pengaruh psikologis yang baik pada kita agar mampu untuk mengkomunikasikannya dengan efektif-tepat. Jika perasaan itu dapat diakui dan dikomunikasikan dengan baik akan terungkap dengan kata-kata (biasanya): “Lega rasanya sesudah mencurahkan perasaan saya”!
Menyenangi keadaan diri adalah pertumbuhan sebagai pribadi. Dengan menyenangi keadaan diri yang apa adanya sungguh membantu kita untuk melepaskan diri dari “lingkaran setan” yang dapat mengarahkan terbentuknya perasaan negatif terhadap diri  (tidak berharga) dan hal-hal lain yang dapat menghalangi pertumbuhan kita sebagai pribadi. Dalam Hadap menekankan bahwa dalam kenyataan sering menunjukkan bahwa kerap kali orang mulai berkembang bila ia mulai menerima diri pribadinya. Hal itu sungguh tepat karena dengan menerima diri pribadi mengarahkan seseorang untuk dapat membangun sebuah perasaan positif bagi dirinya sendiri sebagai pribadi yang berharga dan unik di hadapan yang lain.
Akhirnya, begitu banyak prinsip/hal yang dapat saya pelajari dalam Hadap yang di antaranya adalah empat poin di atas. Namun kiranya hal-hal postif yang saya temukan itu hanyalah ide ataupun kerangka teori belaka tanpa adanya sebuah usaha untuk mengkonkritkannya. Untuk itu, dalam bagian terakhir dari Hadap menekankan perlunya langkah realisasi dari beberapa kerangka teori membangun hubungan dengan sesama, yakni: hubungan antar pribadi adalah sebuah kunci pertumbuhan diri. Perlunya menjalin hubungan antar pribadi adalah sebuah media untuk mewujudkan beberapa poin yang didapat dalam latihan Hadap dengan mempraktikkannya langsung dalam hubungan dengan sesama. Langkah terakhir ini sungguh penting karena latihan untuk memproses diri menuju perubahan dan pertumbuhan diri mendapat tempatnya.


*   *   *


La présence de Dieu qui accompagne toujours nos vies est un mystère. Sa présence réelle qu'Il soit là ou ici, nous ne pourrons peut-être...