Senin, 18 Januari 2021

 

He 6, 10-20

Mc 2, 23-28

De la première lecture, je suis intéressé à répéter cette parole : « Quand Dieu fit la promesse à Abraham, comme il ne pouvait prêter serment par quelqu’un de plus grand que lui, il prêta serment par lui- même, et il dit : Je te comblerai de bénédictions et je multiplierai ta descendance. Et ainsi, par sa persévérance, Abraham a obtenu ce que Dieu lui avait promis ». Quand Dieu fit la promesse à Abraham, il ne pouvait prêter serment par quelqu’un de plus grand que lui. Le point principal ici est que Dieu est vraiment grand, encore plus grand que nous ne pouvons le penser.

De l’Évangile, la grande présence de Dieu se manifeste dans le Christ qui dit : « Le sabbat a été fait pour l’homme, et non pas l’homme pour le sabbat. Voilà pourquoi le Fils de l’homme est maître, même du sabbat ».

A partir de ces deux lectures, nous sommes invités à réaliser la grandeur de Dieu ; qu'il est énorme et au-delà de ce à quoi nous pouvons penser. Ce qu'il est intéressant pour nous de réaliser, c'est que Celui qui est vraiment grand, il est présent dans chaque Eucharistie que nous célébrons. Il est présent dans sa Parole, le Corps et le Sang du Christ que nous recevons. Quelle merveilleuse cette expérience que nous pouvons l'appeler grâce. C'est une bénédiction pour nous que Dieu lui-même vienne à nous et nous rend dignes de le recevoir. Telle est l'expérience de Dieu que nous recevons chaque fois que nous célébrons l'Eucharistie. Cette expérience existe par la foi ; la foi en Christ que nous avons. Pour cela, demandons à Dieu que Son Esprit fortifie toujours notre foi. Grâce à cette foi, nous pouvons toujours faire l'expérience de la présence de Dieu qui accompagne toujours la vie.

Minggu, 17 Januari 2021

He 5, 1-10

Mc 2, 18-22

 

En première lecture, nous venons d’entendre que la méditation qui nous est offerte est centrée sur un prêtre. Plus précisément, la Lettre aux Hébreux met l'accent sur l'une des fonctions du prêtre. Cette fonction est liée à l'un des verbes, à savoir "offrir". Offrir un sacrifice à Dieu comme sacrifice pour les péchés est une fonction sacerdotale qui est soulignée dans cette lettre. Et à partir de là, Jésus est présenté comme un prêtre qui accomplit sa fonction sacerdotale en faisant une offrande à Dieu, à savoir lui-même, comme un sacrifice pour racheter les humains. Grâce à ce sacrifice, les humains ont été justifiés par Dieu à la fois moralement et légalement. Nous pouvons trouver et refléter ce dernier dans la lettre de Saint Paul aux Corinthiens.

C'est le Christ en tant que prêtre qui a donné un nouveau sacrifice à Dieu, c'est-à-dire le sacrifice dans son abandon total. Son offrande était totale parce qu'elle était basée sur l'amour divin qui le poussait à tout donner pour la rédemption des péchés humains, même s'il devait souffrir et mourir sur la croix. Le Christ est le vin nouveau parce qu'il fait une nouvelle offrande à Dieu, une offrande qui satisfait Dieu et permet à l'homme d'obtenir le salut.

Et nous, nous sommes aussi des prêtres, c'est-à-dire des gens qui s'offrent à Dieu et aussi aux autres. Le Christ nous a montré un exemple en tant que prêtre. Et nous? Karl Rahner, dans son livre sur la prêtrise, a dit que l'une des caractéristiques d'être prêtre aujourd'hui est d'être une personne qui aime. Aimons d'abord à Dieu, puis aux autres et à l'univers.


Kamis, 16 Juli 2020


Un jour de sabbat, Jésus vint à passer à travers des champs de blé. Ses disciples eurent faim et se mirent à arracher des épis et à les manger.
(Mt 12, 1)


Parce qu'ils avaient faim, les disciples avaient arraché des épis pour les manger. Le problème c'est que c'était un jour de Sabbat. Ce jour-là, tout travail est interdit. Les pharisiens ne manquent pas de le signaler à Jésus.

C'est vrai que la loi du repos absolu avait été donnée par Dieu. Il s'agissait pour lui d'éduquer son peuple et de le faire grandir. Le Sabbat (samedi) était vraiment le jour du Seigneur.

Malheureusement, les pharisiens n'ont rien compris. Ils sont sans doute très respectueux de la loi. Mais leur cœur est loin de Dieu. Alors, Jésus voudrait les inviter à faire un pas de plus sur le chemin de la conversion. Il n'est pas venu abolir la loi mais l'accomplir. Observer des préceptes ne suffit pas. Le plus important c'est que toute notre vie soit remplie de l'amour qui est en Dieu. Pour cela, dans sa première épitre aux corinthiens, saint Paul quand il parle de l’amour fraternel, dit : "Si je n'ai pas l'amour, je ne suis rien" (1 Co 13).

Aux yeux de Dieu, nous ne sommes pas seulement des "observants" mais des fils qui reproduisent l'image de son Fils bien-aimé. C'est son amour que nous devons prendre au sérieux dans les petites choses de la vie. Il s'agit de passer du devoir à l'amour, de la loi à la présence aimante.


Sabtu, 11 Juli 2020


Homili Minggu Biasa ke-XV

Menumbuhkan Benih Sabda

Yes 55: 10-11; Rom 8: 18-23
Mat 13: 1-23
Pada saat saya masih kecil, sebagian besar waktu bermain, secara khusus di waktu sore, saya habiskan bersama dengan teman-teman. Tempat bermain favorit kami adalah di area persawahan padi yang letaknya sangat dekat dengan perumahan penduduk. Menelusuri jalan-jalan kecil, memancing ikan dan belut, bermain layang-layang merupakan bagian dari kegiatan yang kami buat. Karena sangat begitu dekat dengan situasi area persawahan padi, saya mengamati bahwa keberadaan air memang sesuatu hal yang sangat penting bagi para petani. Ketika musim hujan tiba, di mana air hujan berlimpah dan didukung dengan sistem irigasi yang memadai, membuat para petani tahu bahwa itulah saat untuk menanam padi. Air sebagai bagian dari material alami memberikan efek konkrit bagi proses pertumbuhan padi karena dengan mengairi, ia juga membawa nutrisi yang dibutuhkan. Maka, jika itu semua berlangsung dengan baik, kurang lebih tiga bulan kemudian, musim panen akan tiba.
Dari pengalaman itu, saya kemudian dapat memahami arti penting air hujan dan salju sebagaimana yang disebutkan dalam bacaan pertama tadi. Keduanya menjadi sumber air untuk proses pertumbuhan tanaman dan pada akhirnya memberikan makanan, yakni roti sebagai sumber makanan yang dibutuhkan oleh manusia. Apa yang turun dari langit, yakni air, memberikan pengaruh atau efek nyata. Demikianlah, Yesaya menggambarkan itu sebagai Firman yang keluar dari mulut Allah. Sebagai penyalur sada Allah, nabi berkata: “Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya”.
Firman Allah yang keluar dari mulut Allah, di mana Firman itu bertindak aktif dengan memberikan efek nyata, yakni melaksanakan apa yang dikehendaki Allah dan akan berhasil dalam apa yang disuruhkan kepadanya, tak lain menunjuk pada Firman Allah yang menjadi Manusia. Dalam hal ini, Yohanes dalam bagian awal injilnya memberi pewartaan: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh 1, 1-2, 14). Dia-lah Yesus Kristus, yang datang ke dunia, masuk ke dalam sejarah manusia, tinggal di tengah manusia, untuk melaksanakan kehendak Bapa dan untuk keselamatan manusia. Pelaksanaan kehendak Bapa yang berbuah pada keselamatan manusia, ditunjukkan-Nya melalui sabda dan karya, hingga pada pengorbanan hidup-Nya di salib. Pelaksanaan kehendak Bapa dan itu berbuah pada keselamatan manusia pada akhirnya menjadi bentuk konkrit dari misi-Nya, yakni menghadirkan Kerajaan Allah di dunia.
Orang-orang yang percaya dalam nama-Nya diselamatkan, yakni mereka yang berkat ke-Putera-an-Nya diangkat menjadi anak-anak Allah. Mereka adalah kita, ya, kita, bagian dari mereka yang percaya pada Sabda yang menjadi Manusia itu. Atas dasar pengangkatan diri kita sebaga anak-anak Allah, Yesus pun mengundang kita untuk melanjutkan misi-Nya, yakni menghadirkan Kerajaan Allah yang membawa keselamatan di dunia kita sekarang ini. Misi itu sebuah panggilan untuk mewujudkan dalam tindakan konkrit sabda (dan juga ajaran) Yesus sendiri yang menghadirkan keselamatan dan kedamian. Memang, untuk melaksankannya, tentu bukan hal yang mudah. Ibarat benih yang tumbuh dalam beberapa situasi atau keadaan, sebagaimana dalam Injil pada hari ini, Kristus ingin mengatakan bahwa demikianlah dengan situasi dalam hidup kita; bahwa ada selalu tantangan untuk menumbuhkan benih dari Sabda Kristus. Dari tiga situasi pertama dari benih, itu mewakili dua tantangan berkaitan dengan pertumbuhan benih Sabda Tuhan, yakni tantangan dari dalam diri dan dari luar.
Tantangan dari dalam diri menunjuk pada keadaan di mana orang berhadapan dengan kurangnya pengenalan dan pemahaman yang mendalam tentang Sabda Krustus. Itu berdampak pada tidak adanya niat untuk mewujudkan sabda Kristus yang sudah ia dengar dalam hidup. Itulah gambaran benih yang ditaburkan di pinggir jalan.
Tantangan dari luar menunjuk pada keadaan di mana orang berhadapan dengan keadaan di mana ia takut untuk memperjuangkan sabda Tuhan, dengan alasan-alasan dari luar sehingga membuatnya untuk meninggalkan Kristus dan sabda-Nya. Itulah gambaran benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu. Tantangan dari luar ini juga menunjuk pada keadaan di mana orang tunduk pada tawaran akan kemewahan dan material duniawi di mana itu membawanya kepada pemahaman bahwa harta di dunia ini adalah hal yang penting bagi keselamatan jiwa. Inilah yang kemudian bisa membuat sabda yang sudah tertanam dalam dirinya, tidak dapat berbuah karena ia lebih mencari kepentingan duniawi. Inilah gambaran benih yang ditaburkan di tengah semak duri.
Namun, ada hal yang berbeda dengan benih yang jatuh di tanah yang baik. Sebagai benih yang tumbuh, pasti juga berhadapan dengan tantangan, bagaimana ia tetap harus memunculkan tunas dan daun, bagaimana ia tetap harus mencari air dan cahaya; demikianlah benih itu, di tengah perjuangannya, ia bisa tumbuh dan menghasilkan buah. Inilah gambaran bagaimana orang-orang kristiani, di tengah situas dunia yang penuh tantangan, baik itu dari dalam maupun luar, tetap berjuang untuk mengkonkritkan sabda dan ajaran Kristus agar memberikan buah keselamatan dan kedamaian bagi dunia dan sesama yang berada di sekitarnya. Dan bagi orang-orang ini, akan ada kemuliaan yang akan dinyatakan kepada mereka, yakni sebagai anak-anak Allah yang sejati, dan itulah yang ditekankan oleh Santo Paulus dalam suratnya dalam bacaan kedua.
Dan saya yakin dengan penuh harap bahwa, di antara orang-orang ini, yakni orang-orang dari gambaran benih yang tumbuh di tanah yang baik meski tetap menghadapi tantangan dalam kehidupan; (di antara orang-orang ini) ada kita di dalamnya.
Amin.

Rabu, 24 Juni 2020


Menemukan Sebuah Makna Kebaikan

Matius 8: 1-4.

Kisah penyembuhan yang dibuat Yesus dalam Injil hari ini mengingatkan bahwa ada selalu rahmat di tengah penderitaan: bahwa Allah tidak membiarkan umat-Nya, bahwa Ia berserta dan bersama umat-Nya, bahwa ada kasih yang selalu diberikan kepada umat-Nya. Allah yang begitu menaruh perhatian ini, kita kenal dalam seorang Pribadi yang bergitu Agung, Dia-lah Yesus Kristus, seorang Pribadi yang hadir di tengah sejarah manusia. Pribadi ini adalah Allah sendiri yang hadir di tengah umat-Nya. Tujuannya apa? Tak lain di antaranya adalah bahwa Ia ingin tinggal bersama manusia. Kebersamaan dengan Pribadi Ilahi inilah yang kemudian mendatangkan rahmat; dan rahmat itulah yang menjadi salah satu kisah dalam Injil pada hari ini di mana Ia menyembuthkan orang yang menderita penyakit kusta.
Ada hal yang menarik jika kita mengingat ayat ke-empat dalam Injil hari ini. Setelah disembuhkan dari sakitnya, lalu Yesus berkata kepada orang itu: “Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka”. Apa yang diperintahkan Yesus ini mengundang orang yang baru disembuhkan itu untuk memegang perintah Musa. Ini dapat kita temukan dalam kitab Imamat bab 13. Intinya adalah bahwa untuk mendapat pengakuan secara publik, orang yang baru sembuh itu harus pergi ke hadapan imam, karena menurut hukum, imamlah yang harus memeriksanya dan memproklamirkan jika ia benar-benar telah sembuh. Dengan demikian, ia pun dapat diterima kembali ke dalam komunitas atau masyarakat. Hal ini mengingat bahwa dalam masyarakat pada waktu itu, orang yang menderita pengyakit kusta harus diasingkan. Orang melihat bahwa penyakit itu sebagai bentuk dari kenajisan.
Dari apa yang diperintahkan oleh Yesus kita dapat melihat bahwa Tuhan kita adalah contoh orang Yahudi yang sejati. Dia memberikan keteladanan dalam mentaati hukum Musa karena Ia melihat bahwa ada nilai-nilai kebaikan yang terkandung di dalamnya. Dengan menunjukkan diri kepada imam, sebagai bagian dari hukum, Yesus melihat bahwa orang itu pada akhirnya dapat diterima kembali oleh masyarakat dan keluarga. Mengapa? Karena ia mendapatkan pengakuan secara resmi dari pejabat keagamaan. Selain menyembuhkan, ternyata Yesus pun memberikan pengajaran kepada orang itu, untuk menjadi umat Allah yang setia, yakni dengan mematuhi perintah-Nya yang diajarkan Musa. Tentunya, satu hal yang menjadi pertimbangan Yesus dalam pelaksanaan hukum ini adalah bahwa ada nilai-nilai kebaikan yang terkandung di dalamnya, secara khusus bagi orang yang baru disembuhkan itu.
Melaksanakan perintah Allah sebagaimana yang disampaikan oleh Musa merupakan salah satu bentuk ketaatan Tuhan Yesus sebagai orang Yahudi yang sejati. Inilah yang kemudian ia ajarkan kepada orang yang disembuhkan-Nya. Hal ini tentunya juga menginspirasi bagi kita untuk mengingat kembali beberapa peraturan dalam Gereja yang menjadi pendukung dalam kehidupan beriman. Kita sebut misalnya ada lima perintah Gereja yang tentunya kita semua mengingatnya. Terinspirasi pada Injil hari ini, kita pun diundang untuk melaksanakan salah satu bagian dari peraturan Gereja Katolik, yakni lima perintah Gereja. Ada nilai-nilai yang terkandung di dalamanya sehingga itu bukan hanya sekadar perintah belaka. Gereja menawarkan agar dalam melaksanakan itu, kita pun terbantu untuk dapat menjalin relasi dengan Allah dan untuk menghidupi iman dalam persektuan umat. Namun, sebelum jauh masuk ke dalamnya ada satu pertanyaan: “Masihkah kita ingat apa saja lima perintah Gereja itu”?

Semoga rahmat Hati Kudus Yesus, selalu merajai di hati kita. Amin!

Sabtu, 25 April 2020


Perjalanan ke Emaus
Sebuah undangan menjadi saksi Kristus

Kis 2 : 14. 22b-28 ; 1Ptr 1 : 17-21
Luk 24 : 13-35

Kleopas, itulah nama dari salah satu dari kedua murid yang berjalan menuju Emaus. Narasi dalam Injil yang baru saja kita dengar ini mendiskripsikan perjumpaan perjalanan dua murid ke Emaus ketika mereka bertemu dan berjalan bersama Yesus yang sudah bangkit. Dikisahkan bahwa mereka tidak mengenali Yesus. Dan dalam perjalanan itu, mereka mencurahakan kesedihan mereka seputar peristiwa-peristiwa yang belum lama terjadi berkaitan dengan Yesus, Guru mereka. Mereka menceritakan tentang orang dan kepada orang yang sama, yakni Yesus. Mereka kemudian membujuk-Nya untuk tinggal bersama mereka, dan akhirnya mereka mengenali Dia pada saat acara makan bersama.
Meskipun dapat dikatakan bahwa pokoh bahasan utamanya adalah membuktikan peristiwa kebangkitan melalui penampakan atau kemunculan Yesus, namun narasi itu tampaknya tidak menekankan secara radikal pembuktian itu. Di lain pihak, narasi ini dapat dipahami atau dapat dikatakan, menawarkan suatu pemaparan tentang isu penting, yang secara khusus berfokus pada pertanyaan : “Bagaimana seseorang mengenali Kristus yang bangkit dan kemudian bersaksi tentang-Nya”? Dapat dikatakan bahwa narasi Emaus berkaitan dengan proses kesadaran kedua murid, dari keputusasaan karena kematian Kristus menuju keimanan akan kebangkitan-Nya. Pengalaman terhadap Yesus, yakni keputusan iman, membawa kedua murid itu untuk percaya bahwa Guru mereka sungguh bangkit. Itu membuat mereka tergerak untuk kembali ke Yerusalem dan bertemu dengan kesebelas murid yang lain.
Dalam perjumpaan dengan para murid yang lain, mereka menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan, dan bagaimana mereka mengenal Yesus pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. Mereka berbagi pengalaman iman. Dapat dikatakan bahwa itu menjadi bentuk kesaksian yang menguatkan para murid yang lain tentang kebangkitan Yesus. Dalam bacaan pertama pada hari ini, kita mendengar Santo Petrus dan para rasul, dipenuhi dengan Roh Kudus, berbicara di hadapan banyak orang yang berkumpul di Yerusalem. Mereka bangkit dan menyatakan iman kepada Kristus yang Bangkit : Kristus yang sama yang telah mati di kayu Salib tidak tetap mati dan di dalam kubur, tetapi Ia telah bangkit dari antara orang mati. Bahkan, Petrus pun semakin radikal dalam mewartakan Krsitus yang bangkit ini, secara khusus dalam suratnya yang barus saja kita dengar tadi ; Kristus sebagai sumber keselamatan bagi umat manusia berkat pengorbanan-Nya.
Kita kembali dengan narasi perjalanan kedua murid ke Emaus. Narasi ini menunjuk pada pertumbuhan rohani kedua murid, yang kemudian dipandang sebagai suatu model perjalanan atau peziarahan seorang murid menuju keimanan yang lebih dalam, dan kembalinya mereka ke Yerusalam untuk memberikan kesaksian, merupakan sebuah jalan untuk membantu orang lain yang melakukan perjalanan yang sama. Saya memandang bahwa di sini terdapat makna spiritual dari narasi ini. Singkatnya, jika kita menempatkannya dalam kehadiran Gereja sekarang ini, narasi itu memuat sebuah panggilan bagi setiap umat kristiani untuk memberikan kesaksian bagi umat kristiani lainnya, atau bahkan juga untuk dunia.
Panggilan untuk memberi kesaksian tentang iman ini, saya teringat dengas seorang romoIndonesia yang bernama Romo Paulus Sarmono. Sekarang ia adalah anggota dari dewan propinsi Indonesia. Selama hampir selama satu tahun, kami berkerja di sebuah paroki yang sama. Hal inspiratif yang saya dapatkan dari pribadi ini adalah bagaimana ia menjadi pewarta kristiani dengan mempromosikan semangat bahwa Tuhan mencintai dunia; dan dunia ini adalah manusia dalam alam juga. Romo ini, dengan kapasitas yang dimiliki, mempromosikan pupuk organik untuk menggantikan pupuk kimia. Banyak umat yang tertarik dan belajar darinya. Dan itu, tidak hanya umat katolik, tetapi juga ada orang islam dan hindu yang datang ke paroki untuk belajar darinya. Satu pertanyaan pernah saya ajukan padanya: “Romo, apa yang menjadi salah satu tujuan Anda melakukan itu”? Dia menjawab saya: “Dengan melakukan itu, saya dapat mewartakan Kristus kepada semua orang”.
Sahabat yang terkasih, mengkonkritkan semangat spiritual dari kisah atau narasi dua murid dalam perjalanan ke Emaus ini merupakan sebuah panggilan bagi kita sebagai orang-orang yang percaya pada Kristus. Jika kedua murid itu memberikan kesaksian tentang Yesus yang bangkit kepada para rasul, maka kita pun diundang untuk memberi kesaksian yang sama pada jaman ini. Tentunya, hal itu dengan kapasitas dan cara yang berbeda satu dengan yang lain, karena Allah memberikan rahmat yang beragam dalam diri kita masing-masing.

Jumat, 10 April 2020


Renungan: Pemakaman Yesus Kristus


Meneladan Yusuf dari Arimatea

Yusuf akan menjadi penduduk Yerusalem pada saat kematian Yesus, tetapi ia dilahirkan dan hidup sebelumnya di kota Yudea yang disebut Arimatea. Letak secara tepat Arimatea ini masih menjadi bahan perdebatan, namun beberapa ahli menempatkannya di daerah Ramathaim-Zophim di wilayah perbukitan Efraim, di mana di sana nabi Samuel dilahirkan.
Yusuf dari Arimatea adalah salah satu anggota Sanhedrin (dewan Yahudi yang sangat menonjol dan terhormat dan dipimpin oleh para imam besar). Tujuh puluh satu anggota Sanhedrin adalah orang-orang terkaya dan terkuat di Yerusalem dan di wilayah sekitarnya. Matius menyebut bahwa Yusuf adalah seorang yang kaya. Alkitab memang tidak memberikan indikasi apa yang ia lakukan untuk mencari nafkah, namun, dari informasi yang didapat menyatakan bahwa Yusuf adalah seorang pedagang barang-barang logam.
Informasi dari Alkitab yang dapat membantu kita untuk mengenal pribadi ini adalah bahwa Injil mengkonfirmasi Yusuf sebagai murid Yesus Kristus. Meskipun dalam hal ini, Yohanes menekankan bahwa Yusuf menunjukkan jati dirinya sebagai murid dengan cara diam-diam karena takut kepada orang-orang Yahudi (Yoh 19: 38) sampai pada pemakaman Kristus.
Untuk memastikan Yesus menerima pemakaman yang layak, Yusuf dari Arimatea dengan berani meminta Pilatus untuk mendapatkan hak pemakaman jenazah Yesus. Keinginannya itu berhadapan dengan risiko. Dia tidak hanya mengambil risiko kenajisan ritual dengan memasuki tempat para penyembah berhala (orang-orang Romawi pada waktu itu), tetapi bersama dengan Nikodemus, anggota Sanhedrin lainnya, ia juga berisiko mencemari dirinya di bawah hukum Musa, dengan menyentuh jenazah. Meski berisiko, namun ia menunjukkan itu sebagai kasih tulusnya bagi Yesus, seorang Pribadi yang telah menyentuh seluruh kemanusiannya.
Sabahat yang terkasih, pelajaran hidup dari Yusuf Arimatea yang dapat kita renungkan di sini adalah kadang-kadang iman kita kepada Yesus Kristus pun sangat menuntut pengorbanan dan risiko. Tidak diragukan bahwa Yusuf akan dijauhi oleh teman-temannya karena merawat tubuh Yesus. Namun, ia tetap mengikuti apa yang menjadi kata hati atau keyakinannya. Melakukan hal yang benar bagi Allah dapat mendatangkan penderitaan dan pengorbanan dalam hidup ini, tetapi itu akan membawa imbalan kekal di kehidupan selanjutnya.
Amin.



La présence de Dieu qui accompagne toujours nos vies est un mystère. Sa présence réelle qu'Il soit là ou ici, nous ne pourrons peut-être...