Imamat menjadi tanda Kasih-Nya bahwa Ia mencintai. Anugerah ini sebenarnya menjadikanku sebagai pribadi yang peka, peka akan ketidak-sucian yang menyebabkan imamat ternodai.
Ya..., peka akan dosa; seharusnya imamat menjadikanku peka akan realitas itu. Sisi manusia kuakui memang tidak mudah untuk “menjinakkannya”. Aku tak jarang masuk dalam kejatuhan akan kelemahan. Di tengah situasi itu, suara hati berseru, “Itu salah”!
Meski demikian, Kasih Allah memang tiada batas. Ia tetap mengasihi dengan rahmat sakramen pengampunan yang dalam sisi pandang-Nya ingin mengatakan, “Aku tetap mengasihimu”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar