Selasa, 17 Juli 2018


SADAR RAHMAT TUHAN
    
Renungan Singkat Dehonian (26 Juli 2018)
Mat 13: 16-17


Saudara-saudari yang diberkati, Yesus Tuhan kita pada hari ini mengundang para murid untuk menyadari kehadiran rahmat Allah yang sudah mereka terima. Rahmat Allah itu nyata di hadapan dan bersama mereka, yakni kehadiran Yesus sendiri. Yesus Kristus, Sang Mesias yang dinantikan, kala itu sudah hadir di hadapan dan bahkan menjalani kebersamaan hidup selama beberapa tahun bersama dengan mereka.
Penegasan Yesus kepada mereka: “Berbahagialah matamu karena telah melihat, berbahagialah telingamu karena telah mendengar” menunjuk pada undangan penyadaran secara manusiawi. Kehadiran rahmat Allah yang para murid sudah miliki adalah kehadiran rahmat manusiawi; kehadiran rahmat yang bukan tidak dapat dialami, tetapi kehadiran yang sungguh dapat dialami secara inderawi (dengan mata dan telinga).
Mata dan telinga adalah dua alat tubuh manusia yang mempunyai fungsi untuk mengetahui keadaan luar dari tubuh manusia itu sendiri. Mata adalah indera yang memiliki fungsi untuk melihat lingkungan sekitarnya dalam bentuk gambar. Menggunakan mata, manusia bisa mengenali dan mendefinisikan benda-benda serta orang-orang yang ada di sekitarnya dengan cepat. Telinga merupakan alat indera manusia yang berfungsi untuk mendengar bunyi atau suara yang ada di sekitar. Telinga adalah indera pendengar yang menerima rangsangan berupa bunyi atau suara. Untuk menunjang kerja telinga, Tuhan memberikan daun telinga yang mempunyai fungsi untuk menangkap dan mengumpulkan gelombang bunyi atau suara sehingga bunyi atau suara dapat didengar dengan lebih jelas.
 Penegasan Yesus kepada murid untuk menggunakan mata dan telinga dengan baik merupakan bentuk undangan agar mereka sungguh menyadari apa yang sudah mereka lihat dan apa yang sudah mereka dengar dari kehadiran Guru Sejati mereka. Kesadaran akan Rahmat yang saat itu berada dan bersama dengan mereka – yang dapat dialami melalui alat inderawi – menjadi modal utama untuk berbahagia. Mereka berbahagia karena bisa melihat kehadiran Allah secara manusiawi; dapat dilihat dengan mata. Mereka berbahagia karena bisa mendengar Sabda Allah secara manusiawi; dapat didengar menggunakan telinga.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, ada teladan dari dua orang kudus yang mampu menggunakan mata dan telinga mereka untuk menyadari kehadiran rahmat dalam hidup. Mereka adalah Santo Yoakim dan Santa Anna, orang tua Santa Perawan Maria yang kita rayakan pada tanggal ini. Dalam buku-buku umat Kristen abad kedua, nama Anna sangat harum. Diceritakan bahwa sejak perkawinannya dengan Yoakim, Anna tiada henti mengharapkan rahmat karunia Allah berupa seorang anak. Cukup lama ia menantikan karunia anak itu. Karena itu diceritakan bahwa ia tiada putus asa berdoa kepada Allah agar mendengar harapannya. Setiap tahun, Anna bersama Yoakim, suaminya, berziarah ke Bait Allah (Yerusalem) untuk berdoa. Dalam doa ia berjanji kalau Tuhan menganugerahkan anak kepada mereka, maka anak itu akan dipersembahkan kembali kepada Allah. Allah mendengar doa Anna dan juga Yoakim. Allah menganugerahkan rahmat kepada mereka dengan melahirkan seorang anak perempuan yang manis. Inilah kehadiran rahmat Allah yang dapat dilihat dan didengar secara manusiawi. Bayi itu diberi nama Maria yang kemudian dipersembahkan kembali kepada Allah. Maria inilah yang akan mengandung dan melahirkan Putera Allah, yakni Yesus Kristus, Tuhan kita.
Saudara-saudariku yang diberkati, dalam kesempatan hari ini kita pun mendapat undangan Tuhan Yesus: “Berbahagialah matamu karena telah melihat, berbahagialah telingamu karena telah mendengar”. Ia mengajak kita untuk menggunakan mata dan telinga supaya menyadari kehadiran rahmat yang sudah kita terima. Kadang karena kesibukan dan keinginan-nafsu yang tanpa batas, kita lupa bahwa setiap kali Allah mengasihi kita dengan memberikan rahmat-Nya. Kita kadang lebih tak acuh terhadap rahmat-Nya.
Pertanyaan yang patut kita renungkan adalah: “Sadarkah kita terhadap rahmat Allah yang sudah kita terima selama ini? Rahmat itu dapat berupa kehidupan, kesehatan, keluarga, pekerjaan, makanan, sahabat dan lainnya. Kita patut sadar akan rahmat itu semua. Kesadaran itu yang membuat kita untuk selalu bersyukur dan kemudian menggerakkan hati mengucap terima kasih kepada-Nya dengan berkata: Tuhan, terima kasih atas rahmat-Mu selama hari yang lalu, hari ini dan esok.

Semoga Hati Kudus Yesus senantiasa merajai hati saudara dan saudari. Amin!


Senin, 18 Juni 2018


Menunjukkan sebagai Orang yang Diselamatkan

Renungan Singkat Dehonian 
Yoh 6: 36-38


Sahabat dehonian yang terkasih, saya paling tidak setuju jika dalam sebuah upacara kematian umat Katolik, ada orang Katolik sendiri yang berdoa dan berharap: “Semoga, saudara kita diterima di sisi Tuhan, sesuai dengan amal dan ibadahnya”. Yang menjadi ketidaksetujuan saya adalah syarat untuk masuk ke surga adalah amal dan ibadah. Jika benar-benar dihitung atau ditimbang, amal dan ibadah manusia pasti tidak sebanding dengan dosa karena kedosaan yang lebih berat.
Kita sebagai orang Katolik mengimani dan mengamini Yesus Kristus sebagai Juru Selamat. Keyakinan iman ini yang mengantarkan kita bahwa jaminan hidup setelah kematian duniawi ini adalah surga, yakni hidup bersama Bapa. Sebab Yesus sendiri mengatakan kepada kita bahwa Dialah Jalan, Kebenaran dan Kehidupan; melalui dan hanya lewat Dia, kita dapat sampai kepada Bapa.
Dengan menyadari nama baptis yang kita miliki, kita diingatkan akan rahmat dan sekaligus martabat jaminan kepastian hidup setelah kematian duniawi. Dengan menyematkan diri sebagai anak-anak Bapa, kita sudah mendapatkan jaminan dari Bapa melalui Yesus Kristus, Putera-Nya. Kesadaran ini yang kemudian menjadi tugas kita untuk menunjukkannya dalam praksis hidup keseharian. Sebagai orang yang sudah diselamatkan dengan menerima jaminan hidup ke surga, kita memiliki tanggung jawab menunjukkan diri sebagai orang yang sudah diselamatkan. Cara dan tindak hidup kita semestinya menunjukkan jati diri orang-orang yang sudah diselamatkan.
Yesus pada Injil hari ini mengatakan: “Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah, dan kamu akan diberi;....”. Cara dan tindak hidup untuk tidak menghakimi, tidak menghukum, mengampuni dan memberi diharap menjadi model hidup kita, sebagai orang Katolik jaman sekarang; yakni orang-orang yang sudah diselamatkan. Kadang untuk mewujudkannya, kita berhadapan dengan keegoan diri yang maunya ingin menang sendiri. Pertanyaan dasar yang patut kita renungkan adalah: “Mau, apa tidak, kita melakukannya sebagai wujud bahwa aku adalah orang-orang yang diselamatkan; orang-orang yang sudah mendapatkan jaminan hidup setelah kematian”? Jika jawabannya “ya”, berarti kita pun meng-iya-kan dan menjaga martabat hidup ke surga. Namun, jika sebaliknya, berarti kita pun menolaknya.
Tuhan memberkati. Amin!


Jadikan hati kami seperti Hati-Mu

Renungan Singkat Dehonian 
Yoh 12: 1-11


Sahabat dehonian yang terkasih, ada seorang umat yang datang kepada saya dan berkata: “Romo, saya telah bersalah kepada Tuhan karena selama ini saya melalaikan ajaran-Nya dan menjauhkan diri dari Gereja. Bahkan, saya pun tidak bertanggung jawab atas istri dan anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada saya. Meski demikian, Tuhan tetap mencintai saya dengan memberikan kehidupan”. Setelah menyudahi kisahnya itu, ia kemudian bertekad untuk akan membaktikan hidupnya ke depan sebagai silih atas kesalahan yang telah dibuat dengan menjadi anggota Gereja yang lebih aktif dan akan juga menjadi kepala keluarga yang lebih bertanggung jawab.
Sahabat dehonian, betapa Tuhan mencintai kita, yakni umat yang selalu berdosa tetapi selalu diberikan kesempatan untuk bertobat. Seperti jika kita memiliki jam tangan yang rusak dan tidak membuangnya, tetapi membawanya ke tukang reparasi jam supaya diperbaiki; demikian pula Tuhan memperlakukan kita. Sumbu yang pudar nyalanya tidak dipadamkannya, buluh yang patah terkulai tidak diputuskannya, manusia yang lemah terkulai karena kesalahan dan dosa tidak dibinasakan.
Allah tetap mencintai manusia. Meski manusia menjadi “pudar hidupnya” karena dosa, tidak dimatikan atau dibinasakan hidupnya. Justru karena Ia adalah Tuhan yang Maha Kasih, yang memiliki kuasa untuk membebaskan, maka manusia yang berdosa selalu mendapat Hati-Nya yang memberikan pengampunan dan kesempatan untuk bangkit kembali. Hal yang sama ketika Ia menghadapi perempuan berdosa, yakni Maria, yang meminyaki kaki-Nya dengan minyak narwastu yang mahal dan menyekanya dengan rambutnya. Apa yang dibuat Yesus? Ia tidak menepis dan tidak menolak perlakuan Maria sebagai tindakan yang dapat mencemarkan kekudusan-Nya. Yesus menerima tindakan Maria sebagai laku silih atas kesalahan hidup di masa lalunya: “Biarkan ia melakukan hal ini....”.
Sahabat dehonian yang terkasih, kita sebagai manusia biasa pasti tidak terlepas dengan melakukan kesalahan atau pun dosa. Kita masih lemah dan belum sempurna di hadapan Tuhan. Bila setiap kesalahan dihadapi Tuhan dengan keputusan untuk membinasakan, pasti semua manusia sudah lenyap dari peradaban dunia, termasuk kita. Kita patut bersyukur bahwa Tuhan masih memiliki Hati bagi kita yang selalu membuka pintu pertobatan. Setiap upaya dan usaha menuju pada pertobatan, mendapat tempat bagi karya kasih-Nya.
Demikianlah pula hendaknya dengan kita. Cara bersikap kita terhadap sesama yang kadang juga jatuh dalam kesalahan atau pun dosa hendaknya kita sikapi dengan cara Allah berkarya. Pengalaman diampuni dan diselamatkan – yang nyata dalam pertobatan – kiranya memberi kekuatan bagi kita untuk juga dapat mengampuni sesama yang bertobat dan berjuang untuk kembali menjadi orang yang baik.
Tuhan Yesus, jadikan hati kami seperti Hati-Mu. Amin!




Menjadi Hamba dan Pelayan

Renungan Singkat Dehonian 
Yoh 13: 16-20


Sahabat dehonian yang terkasih, bacaan pada kesempatan ini mengingatkan saya pada pelayanan Kamis Putih dalam Tri Hari Suci yang kita rayakan beberapa minggu yang lalu. Pelayanan Kamis Putih yang saya lakukan meliputi tiga stasi dengan jarak cukup berjauhan. Dengan melakukan pelayanan Misa atau Ekaristi Kamis Putih sebanyak tiga kali, maka kita dapat menghitung bahwa jumlah umat – yang menjadi murid – dalam upacara pembasuhan kaki berarti cukup banyak.
Berhadapan dengan pelayanan ini, saya mengalami ada situasi yang dirasakan. Saya secara pribadi merasa harus melepas ego diri sebagai seorang romo, yang salama ini biasa mendapat penghormatan dan penghargaan dari umat. Ego harus dilepaskan agar dapat menundukkan diri di hadapan umat supaya menjadi lebih rendah di hadapan mereka. Situasi ini berbanding terbalik ketika selama ini saya harus berada “di atas” umat karena status imamat yang saya sandang. Setelah menundukkan diri, ego pun harus semakin ditinggal tatkala harus mencuci kaki umat. Diri merasa dan disadarkan bahwa, kaki-kaki inilah yang menjadi penegak kehidupan umat.
Upacara pembasuhan kaki yang saya lakukan kepada umat di tiga stasi itu mengingatkan bahwa saya adalah seorang hamba; dan sejatinya adalah seorang hamba, pelayan Tuhan dan umat yang Dia percayakan kepada saya. Dalam Injil hari ini Tuhan bersabda: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, atau seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya”. Sabda itu menyadarkan saya bahwa saya-lah hamba-Nya, saya-lah utusan-Nya. Jika ia sudah melakukan hal yang sama kepada kedua belas murid pada waktu itu, maka saya pun harus melakukan hal sama sebagaimana yang dilakukan oleh-Nya.
Dalam hal ini saya berefleksi bahwa saya adalah seorang hamba yang menerima tugas perutusan seturut teladan Kristus; dan hamba itu tidak hanya saya, tetapi Anda juga. Kita semua diundang pada kesempatan ini untuk menjadi seorang hamba dan sekaligus utusan yang berani untuk membebaskan diri dari keinginan menyalahgunakan suatu hal yang dipercayakan kepada kita. Bila kita, Anda dan saya selalu dalam semangat kesetiaan dan kerendahan hati, melaksanakan tugas perutusan yang dipercayakan (baik itu sebagai imam, biarawan/biarawati, atau pun awam), maka Tuhan Yesus pun akan menyebut kita berbahagia sebagaimana Sabda-Nya: “... berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya”.
Tuhan memberkati. Amin!



Yesus Cinta Anak-anak
    
Renungan Singkat Dehonian 
Mrk 10: 13-16


Sahabat dehonian yang terkasih, dalam warta Injil hari ini kita mendengar bagaimana Tuhan Yesus mencintai anak-anak kecil. Saat itu ditunjukkan dengan dua pengalaman manusiawi. Pertama, Tuhan marah kepada para murid yang menghalangi mereka yang akan membawa anak-anak kecil kepada-Nya: “Biarlah anak-anak itu datang kepada-Ku! Jangan menghalang-halangi mereka”! Kasih Tuhan kepada anak-anak kecil semakin terlihat ketika setelah anak-anak itu sampai kepada-Nya, Tuhan memeluk mereka dan meletakkan tangan atas mereka dan memberkati mereka semua. Inilah pengalaman manusiawi kedua dalam Injil yang menunjuk cinta Tuhan yang sangat dalam kepada anak-anak kecil.
Jika kita boleh bertanya: Apa alasan Tuhan mencintai anak-anak kecil? Dengan merenungkan dua pengalaman tadi, saya merasa bahwa ada alasan mendasar yang membuat Tuhan mencintai mereka (yang termasuk dalam bilangan anak-anak kecil). Apa itu? Jawabannya adalah kasih-Nya yang amat begitu besar bagi manusia. Allah mengutus Putera-Nya untuk menebus manusia karena Allah sangat mencintainya. Allah sangat mencintai manusia karena manusia berdosa; di mana posisi itu meletakkan manusia pada sisi pribadi yang lemah dan tidak dapat bertindak. Posisi inilah yang menjadikan Allah berinisiatif bergerak untuk datang kepada manusia dengan mengutus Yesus, Putera-Nya; Dia yang bersedia berkorban demi keselamatan manusia.
Posisi manusia yang lemah dan tidak dapat bertindak untuk berbuat ini rasanya juga menunjuk pada diri anak-anak. Mereka termasuk dalam bilangan yang sangat membutuhkan bantuan dari yang lebih kuat. Mereka butuh ditemani, dipeluk dan disayang. Kehadiran Putera Allah semakin nyata di mana Ia hadir untuk manusia yang tebatas, untuk manusia yang lemah dan tidak dapat berbuat apa-apa; dan mereka itu adalah anak-anak kecil. Jadi bagi saya, alasan utama Tuhan Yesus untuk mencintai anak-anak kecil adalah karena Kasih-Nya.
Sahabat dehonian, apa yang dapat menjadi bahan permenungan kita atas warta Injil hari ini? Tuhan sungguh mencintai anak-anak, ya...anak-anak kecil. Dalam hal ini, saya mengundang setiap orang tua – dan mungkin Anda, sahabat dehonian adalah di antaranya – untuk menyadari peran Anda atas kehadiran anak-anak dalam keluarga. Kembali saya mengajak untuk menyadari bahwa kehadiran anak-anak dalam keluarga adalah sebuah hadiah atau anugerah yang Tuhan Allah berikan. Maka, tugas setiap orang tua atas anak-anak untuk mencintai dan mendidik mereka adalah pelaksanaan kewajiban yang harus dilakukan. Bagi saya, pelaksanaan tugas itu tidak hanya semata-mata adalah kewajiban sebagai orang tua, namun menjadi keikutsertaan Anda, sahabat dehonian, untuk melanjutkan karya Tuhan mencintai manusia, yakni mencintai anak-anak yang hadir dalam keluarga Anda.
Ada dua hal yang dapat dilakukan berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan kewajiban sebagai orang tua terhadap anak-anak. Pertama adalah mendidik mereka secara iman. Adalah tugas setiap orang tua untuk mendidik iman anak secara Katolik; dan ini harus dilakukan sejak mereka usia dini. Anak-anak diajari untuk berdoa, menghafal beberapa doa pokok (Salam Maria, Bapa Kami) dan juga setia untuk diajak mengikuti kegiatan rohani di Gereja. Kedua adalah mendidik anak-anak secara akademis. Dalam hal ini setiap orang tua berkewajiban menjamin pendidikan akademis anak-anak agar mereka dapat mengenyam pendidikan setinggi mungkin.
Sahabat dehonian yang terkasih, Tuhan mencintai anak-anak yang datang kepada-Nya. Sekarang, mari kita pun melanjutkan karya Tuhan ini mulai dalam keluarga kita masih-masing.
Tuhan memberkati. Amin!



Mengasihi Lebih Dahulu
    
Renungan Singkat Dehonian 
Mrk 7: 6. 12-14


Segala sesuatu yang kamu kehendaki diperbuat orang kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan Kitab para nabi.
Sahabat dehonian yang terkasih, Yesus mengajarkan ajaran kasih melalui “Aturan Emas” atau “Golden Rule”. “Aturan Emas” itu pertama-tama memuat ajakan untuk menyadari bahwa setiap manusia pasti ingin diperlakukan baik oleh sesamanya: “segala sesuatu yang kamu kehendaki diperbuat orang kepadamu”. Yesus menyadari bahwa manusia secara alami mencintai dirinya sendiri. Manusia pada umumnya menuntut rasa hormat, kasih dan penghargaan dari yang lain.
Di lain pihak, keinginan manusiawi secara alami adalah tidak ingin diperlakukan secara tidak baik oleh sesamanya. Tentunya manusia tidak ingin jika tidak dihormati, tidak dikasihi dan tidak dihargai. Manusia secara alami tidak ingin jika kehadirannya tidak diperhitungkan oleh yang lain. Dalam hal ini, Yesus sekali lagi memahami keinginan itu dan menggunakannya untuk mengajari tindak kesalehan kepada sesama. 
Inti dari “aturan emas” adalah tindakan aktif: “perbuatlah demikian juga kepada mereka”; “mereka” di sini menunjuk kepada sesama. Setelah menyadari bahwa keinginan setiap manusia adalah ingin diperlakukan secara baik, maka Yesus mengundang untuk melakukan yang baik itu pula kepada sesama. Ajakan untuk melakukan yang baik kepada sesama adalah gerakan aktif untuk pergi ke luar diri dan mengutamakan yang lain bahkan di atas kepentingan diri sendiri. Yesus mengajari bahwa sebelum mendapatkan perlakuan baik dari yang lain, maka pertama-tama haruslah menjadi pelopor untuk melakukan yang baik terlebih dahulu. Apakah Anda ingin dihormati? Maka hormatilah orang lain terlebih dahulu. Apakah Anda ingin dikasihi? Maka kasihilah orang lain terlebih dahulu. Apakah Anda ingin dihargai? Maka hargailah sesama terlebih dahulu.
Dengan ajaran yang memuat tindakan aktif memulai atau melakukan yang baik terlebih dahulu kepada sesama, Yesus sebenarnya menanamkan dalam diri setiap pengikutnya budaya mengasihi. Memprioritaskan diri sebagai pelaku utama berbuat kasih berarti berusaha untuk menghadirkan diri sebagai pribadi yang memiliki komitmen mengasihi sesama. Dalam hal ini, setiap pribadi diharapkan memiliki tindak kebiasaan yang menjadi milik, yang selalu – secara otomatis – mendahulukan orang lain di atas keegoan atau pun kepentingan dirinya sendiri.
Menaati perintah Tuhan untuk mengasihi sesama merupakan tanda dari Orang Katolik sejati. Dengan memiliki budaya mengasihi dalam setiap kehadirannya di tengah sebuah komunitas, ia mencerminkan kasihnya yang sama kepada Allah. Sebab, setiap orang Katolik mengaku mengasihi Allah dengan juga mengasihi sesamanya. “Jikalau seorang berkata: Aku mengasihi Allah; dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya” (1 Yoh 4: 20). “Aturan Emas” yang diajarkan Yesus merangkum gagasan ini.
Pertanyaannya adalah maukan kita, Anda dan saya, menjadi pelaku budaya kasih sebagai perwujudan dari “Aturan Emas” pada hari ini?
Tuhan memberkati. Amin!

Senin, 07 Mei 2018


Judul Buku     :    Self-Leadership: Seni Memimpin Diri bagi Orang Lain
Penulis            :    Anand Krishna
Penerbit          :    Gramedia Pustaka Utama - Jakarta
Tahun Terbit  :    2017

Untuk menjadi seorang Pemimpin yang sejati, di mana pun, di bidang apa pun dan dalam skala apa pun, tak ada jalan lain bagi kita selain memulai dari dalam diri sendiri. Itu dapat tercapai dengan memulainya dari diri sendiri, dengan belajar memimpin diri, menguasai diri dan mengendalikan hawa nafsu yang kadang ingin menguasai diri. Jika kita belum dapat memimpin diri sendiri, maka jangan berharap bisa menjadi pemimpin bagi orang lain.
 Self-Leadership: Seni Memimpin Diri bagi Orang Lain menjadi panduan untuk dapat menuju pencapaian menjadi pemimpin sejati yang dimulai dari dalam diri sendiri. Karya Anand Krisna ini mengajak untuk menyadari bahwa setiap orang dapat menjadi pemimpin, hanya saja, untuk mencapainya dibutuhkan latihan dan seni. Latihan dan seni itu dipraktikkan dengan memimpin diri sendiri terlebih dahulu.
Latihan dan seni memimpin diri sendiri dimulai dengan belajar dari alam semesta sebagai Perguruan Tertinggi. Universe atau alam raya adalah universitas terbuka nan terbesar (hal. 6). Dari alam raya manusia dapat belajar sebagaimana yang pernah dibuat oleh para leluhur pada jaman dahulu. Para leluhur mampu membaca tanda-tanda alam sebab mereka hidup selaras dengan alam. Mereka belajar dari alam, mereka mencintai alam, mereka tidak pernah merusak alam – dan alam pun memberi respon serupa (hal. 7). “Nilai-nilai luhur hasil pengamatan mereka terhadap kinerja alam yang kemudian dijadikan pedoman hidup (hal. 17)” inilah yang disebut dengan Asta Brata atau Ashta Vrata (Sanskrit).
Mastery over self atau menguasai diri merupakan jalan utama untuk belajar memimpin diri: “It is absurd that a man should rule others who cannot rule himself” (hal. 61). Inilah pengendalian diri. Inilah sebuah perjuangan tinggi. Hal yang perlu dibuat adalah mengendalikan hawa nafsu, barulah terjun ke tengah masyarakat bukan untuk memimpin, tetapi untuk melayani. Seorang pemimpin sejati sesungguhnya seorang pelayan, seorang pengabdi tanpa pamrih (hal. 65)! Selain menjadi pelayan, seorang pemimpin hendaknya memiliki pendidikan yang berwawasan. Pendidikan di sini tidak hanya sebatas pendidikan pada konsep logika atau penalaran, namun juga memuat pendidikan yang bernuansa character building.
Seorang pemimpin sejati juga adalah orang yang berbudaya. Seorang yang berbudaya adalah seorang yang berpikiran jernih, berperasaan halus dan wataknya berlandaskan kasih (hal. 130). Ia pun memiliki kepercayaan diri. Seorang pemimpin sejati tidak takut menghadapi orang-orang yang berpandangan lain, berpandangan berbeda bahkan yang berseberangan dengan dirinya, karena ia percaya diri (hal. 155). Meski demikian, ia tetap berusaha untuk terbuka; belajar dari setiap orang dan tidak keras kepala. Ia tidak takut mengubah pandangannya jika memang terbukti bahwa pandangan lain lebih tepat atau lebih baik (hal. 155).  
Dari pelbagai latihan dan seni yang termuat dalam buku ini, Anand berharap akan banyak lahir para pemimpin sejati yang baru. Para pemimpin itu diharap memiliki pengendalian diri, semangat untuk melayani, kemampuan untuk mengoreksi diri serta menguasai seni kepemimpinan yang pada akhirnya akan membuat masyarakat, bangsa dan negara menjadi lebih beradab dan sejahtera.
Mau menjadi Pemimpin Sejati?

La présence de Dieu qui accompagne toujours nos vies est un mystère. Sa présence réelle qu'Il soit là ou ici, nous ne pourrons peut-être...