Selasa, 18 Juli 2017

Jika Sabda Berdaya dalam Diri


Tuhan Yesus menyebut para murid-Nya sebagai pribadi-pribadi yang berbahagia. Mengapa? Ya..., karena mereka dapat melihat dan mendengar Sabda Allah; bahwa mereka dapat mengalami kebersamaan dengan Sabda Allah, yang telah menjadi Manusia. Pengalaman kebersamaan secara manusiawi itu menjadi dasar bagi para murid untuk mengalami pengalaman penyelamatan dalam hidup. Momentum kebersamaan dengan Sang Sabda yang telah menjadi Manusia menjadikan mereka berbahagia dan sekaligus mendorong mereka untuk mewartakan kesaksian kabar bahagia-gembira kepada dunia.
Lantas, bagaimana dengan kita? Marilah sekarang kita coba untuk merenungkan sikap kita akan Sabda Allah yang sering kita dengar (dalam setiap liturgi Sabda) dan kita terima Rupa-Nya (yang telah menjadi Tubuh dan Darah dalam Perayaan Ekaristi). Apakah Sabda Allah sungguh berdaya guna dan efektif bagi hidup serta tindak sosial kita? Apakah Sabda Allah berpengaruh positif dalam hidup dan berpengaruh besar dalam kata-kata serta perbuatanku sehari-hari; secara khusus bagaimana pengaruhnya bagi komunitas, keluarga dan orang-orang di sekitar?
Jika dalam praksis kehidupan kita tetap setia berdoa dan membangun relasi yang personal dengan Allah; jika kita mampu membangun relasi yang baik dengan komunitas, keluarga dan orang-orang di sekitar kita; jika kita mampu untuk melaksanakan dengan setia dan tanggung jawab setiap tugas atau pekerjaan yang dipercayakan kepada kita; jika kita peduli dan bertindak nyata atas kedukaan orang di sekitar kita; itu semua menandakan bahwa kita sudah menyambut Sabda Allah dengan baik dalam diri. Seperti para murid mendengar dan melihat, serta menunjukkan panggilan perutusan karena Sabda yang telah mereka alami; kita jika sudah melakukan beberapa hal di atas pun demikian. Namun bila yang terjadi sebaliknya, maka kita perlu bertanya pada diri: “Mengapa Sabda Allah yang sering saya dengar dan terima tidak berdaya guna”?
Untuk itu, marilah kita berdoa dan mohon kekuatan Roh Allah dan doa Santo Yoakim serta Santa Anna, orang tua Bunda Maria, supaya kita mempu merawat dan mengelola Sabda Allah dalam diri sehingga kita mampu menjadi pribadi yang berkenan bagi Allah, keluarga dan sesama.

Tuhan memberkati.

Senin, 19 Juni 2017

 Renungan Singkat Dehonian (26 Jun 2017)
Mat 7: 1-5

Sahabat dehonian yang terkasih, Tuhan Yesus mengajak kita untuk merenungkan dan membuat sebuah evaluasi diri. Hal ini tampak dalam bacaan Injil yang baru saja kita dengar. Bacaan Injil dengan menampilkan topik: “penghakiman yang mungkin sering kita berikan kepada sesama”. Yesus mengajak agar kita tidak dengan begitu mudah menghakimi orang lain. Kita, mungkin sering atau mudah menghakimi kata-kata, karakter dan perbuatan orang lain yang bersalah terhadap kita. Kadang kita bahkan mencela dan sampai menghukum kesalahan yang telah diperbuat oleh sesama; tapi kita “buta” atas kesalahan atau kelemahan diri. Atas realitas itu, sangat relevan pribahasa yang mengatakan: “Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak”.
Kita perlu sadar bahwa kita bukanlah manusia yang sempurna, yang tidak menutup kemungkinan untuk berbuat salah. Kita pun perlu sadar bahwa setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing. Kita ingat Sabda Tuhan: “Ada balok di mata kita”. Sabda ini mengajak untuk menyadari kelemahan kita yang harus dikeluarkan terlebih dahulu sebelum memberikan penghakiman kepada orang lain atau sesama.
Lantas, sikap apa yang perlu dan tepat dilakukan saat kita berhadapan dengan prilaku orang lain, apalagi terhadap mereka yang terang-terangan melakukan kesalahan? Berusaha memahami mengapa orang itu berbuat kesalahan adalah langkah bijak. Memahami kesalahan orang lain dengan penuh kasih adalah upaya untuk memahami dan membantu untuk mengatasi kelemahan yang dimilikinya. Dengan berusaha memahami pihak lain, kita pun akan mengalami kedamaian jika jatuh dalam kelemahan yang sama. Ini akan berbeda jika yang kita kembangkan adalah semangat menghakimi. Jika yang terjadi demikian, kita akan selalu merasa cemas dan gelisah, bila kita sendiri jatuh dalam kesalahan.
Maka, ukuran yang perlu kita kenakan dalam menghadapi kesalahan orang lain adalah kasih Tuhan sendiri; yakni kasih kepada kita semua sebagai umat-Nya. Kasih Tuhan perlu dijadikan sebagai dasar yang akan selalu menggerakkan kita untuk memahami dan mengerti sesama yang bersalah kepada kita. Bukankah Ia membuat matahari-Nya terbit bagi orang yang jahat dan juga bagi orang yang baik? Bukankah hujan pun diturunkan-Nya bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar? Kasih Allah adalah kasih sempurna untuk semua; dan kita pun diundang untuk menjadi seperti-Nya.

Tuhan memberkati.

Selasa, 23 Mei 2017


act to LITURGY


Pre Event AYD 2017
catholic youth of BELITUGUBATU




The 7th Asian Youth Day 2017

·         Asian Youth Day (AYD) is a Catholic youth summit in Asian Region.
·         The event is held in every three years and attend by more than two thousand Catholic youth from various countries in Asia.
·         The spirit of evangelization is built through any activities in this event.





Joyful Asian Youth!
Living The Gospel In Multicultural Asia





P = Priest, A = All, L = Lector

Introductory Rites
Greeting
P:    In the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit. 
A:   Amen.
P:    The grace of our Lord Jesus Christ,
and the love of God,
and the communion of the Holy Spirit
be with you all.
A:   And with your spirit.

P:    Brethren (brothers and sisters), let us acknowledge our sins, and so prepare ourselves to celebrate the sacred mysteries.
A:   I confess to almighty God
and to you, my brothers and sisters,
that I have greatly sinned,
in my thoughts and in my words,
in what I have done and in what I have failed to do,
through my fault, through my fault,
through my most grievous fault
;
therefore I ask blessed Mary ever-Virgin,
all the Angels and Saints,
and you, my brothers and sisters,
to pray for me to the Lord our God.
P:    May almighty God have mercy on us, 
forgive us our sins, 
and bring us to everlasting life.
A:   Amen.

P:    Lord have mercy. 
A:   Lord have mercy.
P:    Christ have mercy. 
A:   Christ have mercy.
P:    Lord have mercy. 
A:   Lord have mercy.

P:    Let us pray,
Father in heaven, let your Spirit come upon us with power to fill us with his gift. May he make our hearts pleasing to you, and ready to do your will. May your Spirit also motivate us to have a spirit of evangelization which is built through many activities in our daily life. Through our Lord Jesus Christ, your Son, who lives and reigns with you in the unity of the Holy Spirit, one God, for ever and ever.
A:   Amen.

Liturgy of the Word
First Reading  Acts 22:30; 23:6-11

L:    Paul is cross-examined by the Jewish Council, in Jerusalem

since he wanted to find out what Paul was being accused of by the Jews, the next day he released him and ordered the chief priests and the entire council to meet. He brought Paul down and had him stand before them.
When Paul noticed that some were Sadducees and others were Pharisees, he called out in the council, “Brothers, I am a Pharisee, a son of Pharisees. I am on trial concerning the hope of the resurrection of the dead.” When he said this, a dissension began between the Pharisees and the Sadducees, and the assembly was divided. (The Sadducees say that there is no resurrection, or angel, or spirit; but the Pharisees acknowledge all three.) Then a great clamor arose, and certain scribes of the Pharisees” group stood up and contended, “We find nothing wrong with this man. What if a spirit or an angel has spoken to him?” When the dissension became violent, the tribune, fearing that they would tear Paul to pieces, ordered the soldiers to go down, take him by force, and bring him into the barracks. That night the Lord stood near him and said, “Keep up your courage! For just as you have testified for me in Jerusalem, so you must bear witness also in Rome.”
L:    The word of the Lord.
A:   Thanks be to God.

Responsorial Psalm

R) Preserve me, God, I take refuge in you.

1.        Preserve me, God, I take refuge in you. I say to the Lord: “You are my God”. O, Lord, it is you who are my portion and cup; it is you yourself who are my prize. R)

2.        I will bless the Lord who gives me counsel, who even at night directs my heart. I keep the Lord ever in my sight: since he is at my right hand, I shall stand firm. R)

3.        And so my heart rejoices, my soul is glad; even my body shall rest in safety. For your will not leave my soul among the dead, nor let your beloved know decay. R)

 

Alleluia

P:    Alleluia.

A:   Alleluia.

I ask not only on behalf of these, but also on behalf of those who will believe in me through their word,

       that they may all be one.

A:   Alleluia.

 

 

Gospel

P:    The Lord be with you. 
A:   And with your spirit.
P:    A reading from the holy Gospel according to John. 
A:   Glory to you, Lord.

 

Gospel: John 17:20-26

Jesus prayed, 
“I ask not only on behalf of these, but also on behalf of those who will believe in me through their word, that they may all be one. As you, Father, are in me and I am in you, may they also be in us, so that the world may believe that you have sent me. The glory that you have given me I have given them, so that they may be one, as we are one, I in them and you in me, that they may become completely one, so that the world may know that you have sent me and have loved them even as you have loved me. Father, I desire that those also, whom you have given me, may be with me where I am, to see my glory,  which you have given me because you loved me before the foundation of the world.
“Righteous Father, the world does not know you, but I know you; and these know that you have sent me I made your name known to them, and I will make it known, so that the love with which you have loved me may be in them, and I in them.”
P:    The Gospel of the Lord. 
A:   Praise to you, Lord Jesus Christ.

Homily 

 

Liturgy of the Eucharist
Preparation of the Altar and the Gifts
P:    Blessed are you, Lord God of all creation,
for through your goodness we have received
the bread we offer you:
fruit of the earth and work of human hands,
it will become for us the bread of life.
A:   Blessed be God for ever.

P:    By the mystery of this water and wine
may we come to share in the divinity of Christ
who humbled himself to share in our humanity.
P:    Blessed are you, Lord God of all creation,
for through your goodness we have received
the wine we offer you:
fruit of the vine and work of human hands,
it will become our spiritual drink.
A:   Blessed be God for ever.

Invitation to Prayer
P:    With humble spirit and contrite heart
may we be accepted by you, O Lord,
and may our sacrifice in your sight this day
be pleasing to you, Lord God.
P:    Wash me, O Lord, from my iniquity
and cleanse me from my sin.

P:    Pray, brethren (brothers and sisters),
that my sacrifice and yours
may be acceptable to God,
the almighty Father.
A:   May the Lord accept the sacrifice at your hands
for the praise and glory of his name,
for our good
and the good of all his holy Church.


The Prayer over the Offerings
P:    Merciful Lord, make holy these gifts, and let our spiritual sacrifice make us en everlasting gift to you.
C:   Amen.

Eucharistic Prayer II

P:    The Lord be with you. 
A:   And with your spirit.
P:    Lift up your hearts.
A:   We lift them up to the Lord.
P:    Let us give thanks to the Lord our God.
A:   It is right and just.

P:    It is truly right and just, our duty and our salvation,
always and everywhere to give you thanks, Father most holy,
through your beloved Son, Jesus Christ,
your Word through whom you made all things,
whom you sent as our Savior and Redeemer,
incarnate by the Holy Spirit and born of the Virgin.
Fulfilling your will and gaining for you a holy people,
he stretched out his hands as he endured his Passion,
so as to break the bonds of death and manifest the resurrection.
And so, with the Angels and all the Saints
we declare your glory, as with one voice we acclaim:

P-A:Holy, Holy, Holy Lord God of hosts.
Heaven and earth are full of your glory.
Hosanna in the highest.
Blessed is he who comes in the name of the Lord.
Hosanna in the highest.

P:    You are indeed Holy, O Lord,
the fount of all holiness.
     Make holy, therefore, these gifts, we pray,
by sending down your Spirit upon them like the dewfall,
so that they may become for us
the Body and (+) Blood of our Lord Jesus Christ.
     At the time he was betrayed
and entered willingly into his Passion,

he took bread and, giving thanks, broke it,
and gave it to his disciples, saying:

TAKE THIS, ALL OF YOU, AND EAT OF IT,
FOR THIS IS MY BODY,
WHICH WILL BE GIVEN UP FOR YOU.


In a similar way, when supper was ended,
he took the chalice
and, once more giving thanks,
he gave it to his disciples, saying:

TAKE THIS, ALL OF YOU, AND DRINK FROM IT,
FOR THIS IS THE CHALICE OF MY BLOOD,
THE BLOOD OF THE NEW AND ETERNAL COVENANT,
WHICH WILL BE POURED OUT FOR YOU AND FOR MANY
FOR THE FORGIVENESS OF SINS.
DO THIS IN MEMORY OF ME.


The mystery of faith.

A:   We proclaim your Death, O Lord,
and profess your Resurrection
until you come again.

P:    Therefore, as we celebrate
the memorial of his Death and Resurrection,
we offer you, Lord,
the Bread of life and the Chalice of salvation,
giving thanks that you have held us worthy
to be in your presence and minister to you.
Humbly we pray
that, partaking of the Body and Blood of Christ,
we may be gathered into one by the Holy Spirit.
Remember, Lord, your Church,
spread throughout the world,
and bring her to the fullness of charity,
together with N. our Pope and N. our Bishop
and all the clergy.

     Remember our brothers and sisters
who have fallen asleep in the hope of the resurrection,
and all who have died in your mercy:
welcome them into the light of your face.
Have mercy on us all, we pray,
that with the Blessed Virgin Mary, Mother of God,
with saint Joseph her spouse, the blessed Apostles,
and all the Saints who have pleased you throughout
the ages, we may merit to be coheirs to eternal life,
and may praise and glorify you
through your Son, Jesus Christ.

Through him, and with him, and in him,
O God, almighty Father,
in the unity of the Holy Spirit,
all glory and honor is yours,
for ever and ever.
A:             Amen.

Communion Rite

P:    At the Savior’s command 
and formed by divine teaching, 
we dare to say:
A:   Our Father, who art in heaven,
hallowed be thy name;
thy kingdom come,
thy will be done
on earth as it is in heaven.
Give us this day our daily bread,
and forgive us our trespasses,
as we forgive those who trespass against us;
and lead us not into temptation,
but deliver us from evil.

P:    Deliver us, Lord, we pray, from every evil,
graciously grant peace in our days,
that, by the help of your mercy,
we may be always free from sin
and safe from all distress,
as we await the blessed hope
and the coming of our Savior, Jesus Christ.
A:   For the kingdom, the power and the glory are yours now and forever.

 

Sign of Peace

P:    Lord Jesus Christ,
who said to your Apostles;
Peace I leave you, my peace I give you;
look not on our sins,
but on the faith of your Church,
and graciously grant her peace and unity
in accordance with your will.
Who live and reign forever and ever.
A:   Amen.

P:    The peace of the Lord be with you always.
A:   And with your spirit.

P:    May this mingling of the Body and Blood
of our Lord Jesus Christ
bring eternal life to us who receive it.

 

Breaking of the Bread

A:   Lamb of God, you take away the sins of the world,
have mercy on us.
Lamb of God, you take away the sins of the world,
have mercy on us.
Lamb of God, you take away the sins of the world,
grant us peace.

P:    Lord Jesus Christ, Son of the living God,
who, by the will of the Father
and the work of the Holy Spirit,
through your Death gave life to the world,
free me by this, your most holy Body and Blood,
from all my sins and from every evil;
keep me always faithful to your commandments,
and never let me be parted from you.

Communion

P:    Behold the Lamb of God,
behold him who takes away the sins of the world.
Blessed are those called to the supper of the Lamb.
A:   Lord, I am not worthy
that you should enter under my roof,
but only say the word
and my soul shall be healed.

P:    Let us pray,
Lord Jesus, renew us by the mysteries we have shared. Help us to know you and prepare us for the gifts of the Spirit. Lord, we are proud and glad to be the host country of AYD 2017. Therefore, help us to dare joining in this event to be participants in each our parish. We also pray for the goodness of the event. Lord Jesus, we praise your name, now and forever.
A:   Amen.

 

Concluding Rite

Blessing

P:    The Lord be with you.
A:   And with your spirit.
P:    May almighty God bless you, 
Spirit and the Holy and the Son the Father,
A:   Amen.

 

Dismissal
P:    Go forth, the Mass is ended.

A:   Thanks be to God.

P:    Go in peace, glorifying the Lord by your life.

A:   Amen.



Kamis, 18 Mei 2017

Renungan Singkat Dehonian (26 Mei 2017)
Yoh 16: 20-23a


Sahabat dehonian yang terkasih, dalam Injil yang baru saja kita dengar tadi, Yesus mengatakan bahwa para murid-Nya akan mengalami dukacita. Para murid akan meratapi dan menangisi kepergian Yesus – yang mereka kasihi sebagai Guru dan Sahabat – yang sangat mencintai mereka. Pengalaman ke depan ini menunjuk pada peristiwa di mana setelah kebangkitan, Yesus akan naik ke surga. Meski demikian, dukacita itu akan berubah menjadi sukacita. Walau Yesus meninggalkan, namun Ia sebenarnya pergi untuk memohon kepada Bapa agar mengutus Roh Kudus supaya menyertai tugas pewartaan para murid. Penyertaan Roh Kudus inilay yang menjadikan para murid bersukacita; sebab mereka tidak sendiri.
Sukacita para murid itu perlu kita hayati. Dalam kehidupan ini, tidak sedikit orang yang bersukacita karena kekayaan yang mereka miliki, jabatan yang dipegang (walau tak jarang mendapatkannya dengan mengorbankan iman dan suara hati), popularitas yang disandang, dan kenyataan duniawi lainnya yang sebenarnya memberikan sukacita fana. Semuanya itu sebenarnya adalah sukacita atau kekayaan fana-duniawi yang bias hilang lenyap seketika karena gempa, kebakaran, bencana lain, atau bahkan dicuri orang lain. Jabatan tidak akan selamanya disandang karena suatu saat harus diberikan kepada orang lain. Popularitas tidak akan selamanya bisa dirasakan. Hormat tidak akan selamanya dapat kita terima dari orang lain. Namun, sukacita pernyertaan Tuhan Yesus yang melalui Roh Kudus-lah yang sebenarnya menjadi sukacita sejati.
Kata “Penyertaan Tuhan” dalam bahasa Ibrani menggunakan kata Immanuel/Emmanuel (El=Allah, Immanu=Dengan Kita), mau menekankan bahwa dengan keikutsertaan Tuhan dalam hidup, kita dimampukan dan ditabahkan untuk menghadapi pelbagai badai dan cobaan. Bukan berarti tantangan hidup akan hilang, tatapi penyertaan Tuhan memampukan kita untuk menghadapinya, tidak menghindari atau lari darinya.
Di lain pihak, arti penyertaan Tuhan ini mengingatkan tugas pewartaan kita sebagai orang Kristiani sejati yang diundang untuk mewartakan karya penyertaan Ilahi kepada sesama dan alam semesta. Sukacita penyertaan Tuhan hendaknya kita bagikan kepada orang-orang di sekitar – baik itu dengan berbagi, tersenyum, menyapa dan bahkan memaafkan – agar sesama pun mengalami sukacita yang sama. Sukacita Tuhan itu pula hendaknya kita bagikan kepada alam semesta, yakni dengan mencintai ibu bumi, lingkungan tempat kita tinggal, agar tetap terlihat asri dan menyejukkan. Akhirnya, marilah kita menjadi pribadi yang selalu bersukacita, karena sukacita sejati itu hanya berasal dan dari Allah yang Ilahi.

Tuhan memberkati.

Jumat, 21 April 2017

Renungan Singkat Dehonian (26 Februari 2017)
Yoh 3: 16-21

Sahabat dehonian yang terkasih, setelah beberapa waktu Yesus memulai pelayanan-Nya di bumi, Nikodemus mengakui Yesus ‘sebagai guru yang datang dari Allah’. Terkesan oleh mukjizat-mukjizat yang Yesus lakukan belum lama berselang di Yerusalem, Nikodemus datang malam-malam, untuk menyatakan keyakinannya kepada Yesus dan mempelajari lebih banyak tentang Sang Guru ini. Sebagai tanggapan, Yesus – Sang Guru – memberi tahu Nikodemus suatu kebenaran yang maknanya dalam tentang perlunya seseorang ”dilahirkan kembali” agar dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. ‘Dilahirkan kembali dalam air dan Roh’ menunjuk pada semangat pembabtisan dalam nama Bapa, Putera dan Roh yang membuat setiap pribadi menjadi manusia baru; manusia yang dibenarkan dan diutus untuk menjadi pewarta keselamatan.
Pada kesempatan itu juga, Yesus mengucapkan kata-kata: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”. Pernyataan Yesus ini mau mengatakan bahwa kasih Allah itu ditunjukkan juga kepada Nekodemus, yang pada saat itu berhadapan dengan Sang Putera. Dalam hal ini, Nekodemus pun tidak hanya mendengar warta keselamatan, tetapi juga mendapat tawaran untuk ‘meng-amini’ undangan keselamatan.
Betapa menakjubkan prospek yang terbentang di hadapan Nikodemus! Ia bisa menjadi rekan akrab Yesus; dapat secara langsung menyaksikan berbagai aspek kehidupan Yesus. Sebagai seorang penguasa masyarakat Yahudi dan guru di Israel, Nikodemus memiliki pengetahuan yang luas tentang Firman Allah. Ia juga memiliki pemahaman yang tajam, sebagaimana terlihat dari sapaan yang ia gunakan untuk Yesus, yakni ‘Guru, Utusan Allah’. Nikodemus berminat pada perkara-perkara rohani, dan kerendahan hatinya sangatlah luar biasa. Pasti sangat sulit bagi seorang anggota mahkamah tertinggi Yahudi untuk mengakui seorang putera tukang kayu rendahan sebagai pribadi yang diutus oleh Allah! Semua sifat pribadi ini sangat bernilai untuk dapat diteladani bagi mereka semua yang ingin menjadi murid Yesus, termasuk kita semua.
Belajar dari Nikodemus, kita pun diundang untuk datang kepada Yesus dengan membangun relasi intim dengan-Nya. Usaha untuk berada dekat dengan Sang Guru mengingatkan kita pada saat di mana Nekodemus datang malam-malam, memilih waktu yang sepi dan tenang. Gambaran ini sebenarnya menunjuk pada saat tepat di mana kita dapat menjalin relasi dengan Dia, Allah kita.
Pertemuan dengan Tuhan, di mana kita dapat dengan jelas mengalami kehadiran-Nya, dapat dilakukan dengan salah satu cara ini, yakni berdoa. Berdoa merupakan jembatan bagi kita untuk berjumpa dengan Tuhan. Doa merupakan sarana komunikasi yang efektif untuk berdialog dengan Tuhan. Sarana ini sangat murah dan mudah dilakukan. Tapi, sayang kita sering mengabaikannya. Kita terlalu sibuk dengan urusan kita saja; dan lupa untuk sejenak berdoa kepada Tuhan memohon hikmat dan bimbingan-Nya. Oleh sebab itu siapkanlah waktu, kapan, dimana saja dan dalam keadaan apa saja, selalu-lah ingat untuk berdoa kepada Tuhan.
Paulus ketika berbicara tentang doa, ia selalu memberi nasihat, motivasi dan bimbingan supaya setiap orang Kristen pada segala zaman, di semua tempat di seluruh dunia, agar senantiasa berdoa kepada Tuhan. Kepada jemaat di Efesus, Paulus menulis demikian: “…dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang kudus” (Ef 6:18).
Doa adalah tempat dimana kita dapat berkomunikasi dengan Tuhan. Di dalam doa kita bisa bersyukur, bahkan curhat dengan Tuhan. Di saat kita berdoa, Tuhan tahu situasi dan keadaan kita; bahwa kita sedang berusaha, berharap, sedih atau bergembira. Dan saat itulah, Tuhan mengerti bahwa kita sebagai anaknya sedang mengandalkan Dia.
Tuhan memberkati.


Selasa, 18 April 2017





FALL: IBU, TENGOKLAN KAMI!
Analisa Narasi (Labov)
Atas Karya Mutaroh Akmal






1.      Abstraksi
Ragil adalah anak bungsu dari empat bersaudara dalam keluarga Pak Pandi (13). Sebagai seorang anak, ia sangat senang memiliki teman sepermainan. Teman sepermainannya adalah Suci yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Ragil (10). Kehadiran Suci dalam keseharian Ragil sungguh memberikan suasana kasih sayang sebagai pengganti kasih sayang orang tuanya yang kadang jarang ditemui.
Pak Pandi dan Bu Pandi adalah orang yang sibuk sehingga mereka jarang sekali memiliki waktu untuk bercengkerama dengan keempat anak mereka (secara berurutan: Darma, Dewi, Meity dan Ragil). Bagi Ragil, ia merindukan kehadiran ayah dan ibunya seperti yang dialami oleh Suci. Keadaan tersebut membuatnya iri terhadap Suci, “Aku malah ingin seperti kamu, Ci” (9). Kebersamaan dengan kedua orang tua merupakan dambaan Ragil dan ketiga kakaknya. Namun karena pulang larut malam dan berangkat pagi-pagi buta, menyebabkan kejengkelan hati dalam diri mereka, yang salah satunya diungkapkan Meity, “Yaa… pulang nggak pulang kan sama saja. Nggak ada bedanya” (12). Bagi Ragil, perjumpaan dengan kedua orang tua merupakan sebuah kerinduan, “Padahal aku kan beneran pengen ketemu Bapak sama Ibu….”; “Buk…. Ragil kangen…. Pengen ditemenin tidur” (15).

2.      Orientasi
Kerinduan untuk mengalami kasih dari orang tua sebagaimana anak-anak kebanyakan, merupakan kerinduan empat bersaudara itu: Darma, Dewi, Meity dan Ragil. Hanya saja, dibutuhkan usaha untuk mencari jalan yang terbaik. Salah satunya adalah usaha yang dilontarkan Dewi, “Hei! Siapa yang tahu besok minggu depan ulang tahun siapa…” (12)? Hal itu disadari Ragil, “Ulang tahunmu, Mbak. Memang kenapa” (12)? Namun karena merasa bahwa hal itu merupakan jalan yang sia-sia, Darma kemudian mengejeknya, “Jangan harap, deh….” (13). Ungkapan itu muncul karena Darma merasa bahwa ayah dan ibu mereka juga tidak merayakan ulang tahunnya, bahkan memberikan kado pun tidak: “Kenapa? Memang bener kan. Ulang tahunku kemaren aja nggak dirayain sama sekali, kok! Dikasih hadiah juga enggak. Ya kan” (13).

3.      Komplikasi
Keesokan harinya, Dewi bangun sangat pagi-pagi sekali agar dapat berbicara dengan ibunya (16) mengenai harapan supaya Pak Pandi dan Bu Pandi merayakan hari ulang tahunnya. Rasanya Dewi tahu bahwa sosok sang ibu merupakan kunci berhasil atau tidaknya rencana. Dengan penuh rengekan, Dewi memohon kepada ibunya, “Bu… ayo, dong! Masa’ ultahku nggak dirayain” (16). Bu Pandi ternyata menolak permintaan Dewi, “Nggak bisa! Berkali-kali juga nggak bisa” (16); “Pokoknya enggak! Titik” (17)! Melihat bahwa sang suami, Pak Pandi, bertanya mengapa mereka berdua ribut, Bu Pandi menolak dengan tegas permintaan Dewi, “Ini si Dewi kepengen ngerayain ultah. Kita kan nggak ada dana buat kayak gituan. Ya kan, Pak” (17)!
Kerinduan untuk mengalami kasih dari kedua orang tua merupakan harapan keempat anak itu, setidaknya diperlihatkan oleh Dewi yang memperjuangkan perayaan hari ulang tahunnya. Kerinduan itu pupus seketika hanya karena masalah ekonomi yang tidak memungkinkan Bu Pandi mengeluarkan uang untuk mengadakan pesta (19).
Ada sebuah harapan, harapan untuk mengalami kasih orang tua ketika keluarga Pak Pandi pindah ke Jogjakarta (26). Usaha untuk menjadi keluarga yang bahagia – setidaknya dalam hal ekonomi – membulatkan niat Pak Pandi dan Bu Pandi untuk memulai usaha di Jogja. Awalnya kelurga itu hanya memiliki rumah kecil seperti warung (32). Namun, karena usaha kerja yang keras, Pak Pandi dan istrinya mampu membeli rumah yang baru dan lebih besar dari sebelumnya (46). Rumah itu kemudian dipakai sebagai usaha warung makan dengan nama “Lesehan Pesona Wisata” (47).
Keluarga itu semakin berkecukupan. Bahkan, pegawai Pesona Wisata bertambah dari 8 orang menjadi 24 orang (48). Bu Pandi menjadi pengelola utama usaha keluarga itu, sedangkan Pak Pandi sendiri lebih mengalah dan memilih untuk menjadi orang nomor dua dalam pengelolaan warung lesehan. Pak Pandi merasa kalah dari istrinya yang mengurusi begitu banyak bisnis, sementara dirinya hanya menunggui lesehan (157).
Kesuskesan keluarga dalam mengelola usaha warung lesehan, memampukan keluarga tersebut membeli rumah yang baru lagi beserta dengan seisinya Hal itu sungguh memberikan kebahagiaan bagi Darma, Dewi, Meity dan terlebih Ragil (67). Kesuksesan itu tidak hanya memberikan dampak positif bagi kehidupan ekonomi keluarga, tetapi juga memiliki dampak negatif. Dampak negatif bagi keluarga adalah bahwa ayah dan ibu mereka semakin sibuk dan sibuk (47). Ketiga kakak Ragil juga sama (47), mereka mencari kesibukan masing-masing sebab tidak ada yang perlu dipikirkan oleh karena keadaan ekonomi yang berkelimpahan. Nampaknya, kehidupan ekonomi yang lebih baik tidak menjamin untuk mengalami kasih orang tua. Hal itu dirasakan oleh Darma, Dewi, Meity dan Ragil. Mereka sibuk sendiri-sendiri sehingga melupakan kebersamaan dalam keluarga.
Kesibukan meliputi keluarga Pak Pandi, terlebih ia dan istrinya. Mereka berdua sangat sibuk karena mengurusi pengelolaan warung lesehan (47). Hal yang sangat kentara terlihat dalam diri Bu Pandi. Sebagai seorang ibu, ia lebih menghabiskan waktu hanya dengan kerjanya dan melupakan betapa pentingnya untuk berada dengan suami serta keempat anaknya. Untuk saat itu, ia sibuk pada persiapan acara promosi warung lesehan Pesona Wisata – diganti nama menjadi “Lesehan Bu Pandi” (100) – dengan mengadakan maraton berskala nasional di Malioboro (86).
Kesibukan kerja dan hasil yang diperoleh pada kenyataannya dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Hanya saja, sentuhan sebagai seorang ibu kepada anak-anak dilupakan oleh Bu Pandi. Ia merasa bahwa anak-anaknya sudah besar (87). Ia telah memberi mereka kebutuhan materi yang lebih dari cukup, juga pendidikan yang baik (87). Sesekali ibu mereka pulang ke rumah hanya untuk melihat keadaan rumah, setelah itu meninggalkan anak-anak lagi. “Ibu mau kerja lagi. Kalian rawat rumah baik-baik, ngerti”, perintah Bu Pandi kepada Meity dan Ragil yang kemudian meninggalkan rumah tanpa menoleh lagi (110).
Keadaan ekonomi yang baik karena kesuksesan dalam pengelolaan usaha warung lesehan ternyata juga berakibat buruk bagi keempat anak itu. Bagi Darma, Dewi, Meity dan Ragil, kesibukan orang tua menjauhkan mereka untuk memiliki kesempatan bertemu atau untuk mengalami kasih langsung dari orang tua. Pak Pandi dan Bu Pandi jarang di rumah dan lebih banyak menghabiskan waktu di tempat usaha. Rasanya, harapan keempat anak itu untuk mengalami kasih orang tua, terlebih dari sang ibu, hanyalah harapan belaka. Sepertinya mereka tidak memiliki orang tua yang senantiasa menjaga.
Kesibukan dalam pengelolaan usaha warung lesehan itu ternyata juga memberi dampak negatif pada hubungan perkawinan Pak Pandi dan Bu Pandi. Kesibukan Bu Pandi dalam mencurahkan hampir seluruh waktu, ternyata mengabaikan kehadiran sang suami: “Ibu (Bu Pandi) tidak pernah meminta izin Bapak (Pak Pandi) atau berusaha untuk mendiskusikan dengan Bapak untuk hal apapun juga. Padahal dia seorang istri. Ibu berjalan sendiri” (157). Karena alasan itu, Pak Pandi lebih mencari perempuan lain yang bisa menghargai dan membuatnya merasa benar-benar sebagai seorang suami (157). Keputusan Pak Pandi itu ditentang keras Bu Pandi. “Mereka bertengkar hebat; Penuh dengan kata-kata kotor” (141), hingga akhirnya, pertengkaran tersebut berujung pada perceraian (156).
Perceraian itu ternyata awal dari keruntuhan keluarga. Selang beberapa waktu kemudian, bangunan warung lesehan Bu Pandi akan digusur (148). Ia bersama para pemilik usaha kecil dan menengah yang mendapat peringatan penggusuran melakukan aksi protes kepada pemerintah (149). Namun, usahanya itu tanpa arti setelah mengetahui bahwa aksi tersebut tidak membuahkan hasil. Akhirnya, penggusuran pun terjadi (159). Darma, Dewi, Meity dan Ragil memandangi dinding Pesona Wisata roboh satu persatu. Bu Pandi melihat dengan ratapan tak berdaya (159). Pemerintah memberikan sedikit ganti rugi, tapi itu belum cukup untuk menutupi hutang-hutangnya di bank; setengahnya saja tidak. Bu Pandi terpaksa menjual semua hartanya untuk menutupi hutang-hutang itu dan juga untuk memberikan pesangon pada karyawan (159).

4.      Resolusi
Peristiwa kebangkrutan Bu Pandi memaksanya untuk berpindah, “Besok kita pindah, Rumah ini sudah ibu jual” (159). Melihat hal itu, Darma sebagai anak sulung, lebih memilih untuk tidak ikut dengan ibunya dan berusaha akan hidup mandiri (159). Kini tinggallah Dewi (yang saat itu sedang hamil karena pergaulan bebas), Meity dan Ragil yang bersama dengan Bu Pandi. Mereka tinggal dalam sebuah rumah kecil di Mangkubumi (162). Bu Pandi menggunakan sebagian rumah itu untuk membuka warung makan (162). Di balik peristiwa kebangkrutan itu, sebenarnya Bu Pandi memiliki kesempatan untuk tinggal bersama anak-anaknya. Harapan anak-anak untuk mengalami kasih dari sang ibu berada di depan mata!
Berada pada situasi yang sangat sederhana bersama dengan keempat anaknya, ternyata membentuk sikap dan tindakan Bu Pandi menjadi kasar dan mudah marah. Kemarahan itu memuncak pada Meity yang membuat anak ketiga itu lebih memilih untuk pergi dari ibunya (163-164). “Bagus! Minggat sana! Ibu tidak butuh anak malas seperti kamu!”, teriak Bu Pandi bagai kesetanan atas kepergian Meity (164). Kepergian Meity atas kekasaran dan sikap yang mudah marah itu juga membujuk Dewi untuk pergi (164). Hingga pada akhirnya, Ragil pun juga meninggalkan ibunya: “Tanpa pikir panjang lagi, Ragil melarikan diri. Ia berlari sekuat tenaga hingga nafasnya seolah habis dan lehernya terasa tercekik” (167).

5.      Evaluasi
Meninggalkan Bu Pandi merupakan keputusan bulat keempat anaknya. Darma memang lebih memilih untuk hidup mandiri ketimbang hidup bersama sang ibu (159). Meity tinggal bersama Cakra, teman dekatnya (164). Dewi dan Ragil tinggal bersama dengan kakak laki-laki mereka, Darma.
Lima tahun pun berlalu atas peristiwa itu. Sekarang, Darma sudah menikah, begitu juga dengan Dewi (175). Bahkan Meity telah mendahului mereka berdua (175). Kini tinggallah Ragil yang belum menikah. Kapan ia menyusul menikah seperti kakak-kakanya? Ia sendiri tidak tahu. Semua ia pasrahkan kepada Tuhan. Meski tidak dapat ia pungkiri, terdapat perasaan bimbang dan cemas mengenai hal itu. Ia cemas jika nanti berakhir seperti ayah dan ibunya. Cemas bila menjadi hilang kendali seperti ibunya. Kenangan akan sosok ibu ternyata membekas dalam diri Ragil. Bila mengingatnya, kesedihan dan kebencian menyergapnya. Membuat tubuhnya terasa nyeri. Ia teringat perlakuan ibunya.
Tentang ibu, Ragil mendengar bahwa ibunya tinggal dengan seorang pria (175). Tidak ada yang tahu apakah ibunya itu menikah secara sah atau tidak. Mengingat tentang ibu, memunculkan perasaan sedih dan benci dalam sudut ruang hatinya yang paling gelap. Ia tidak membiarkan orang lain mengetahui kesedihan dan kebencian akan ibunya. Ia menyimpan rapat dan hanya untuk dirinya sendiri (175). Sebenarnya, Ragil-lah yang mampu meredam ketidak-sukaan pada ibunya dibandingkan dengan kakak-kakanya. “Bohong kalau ia tidak ingin pergi. Ia ingin sekali ke sebuah tempat yang bisa membuatnya merasa nyaman. Tapi jika ia pergi, ke mana ia harus pergi? Tak mungkin ia mengikuti kakaknya, Darma, karena ia tidak mau menambah beban kakaknya lagi. Tak mungkin pula ia mengikuti Meity, karena hidupnya juga sudah susah. Ayahnya? Dari lubuk hatinya yang paling dalam, terbesit rasa tidak suka pada ayahnya yang telah meninggalkannya itu. Sebesar rasa benci pada sikap ibunya yang makin tidak sanggup ia hadapi lagi” (166).

6.      Coda
Akhirnya, Ragil tinggal bersama dengan Darma. Ia memilih untuk tetap tidak tinggal dengan ibunya. Bahkan, untuk bertemu dengan ibunya pun ia enggan (175). Ibunya telah memperlakukan Ragil dengan sangat kasar. Hal itulah yang sungguh membekas dalam hati Ragil, seperti juga anak-anak lain yang memiliki luka batin atas tindakan kasar orang tua mereka.
Dalam seluruh kisah, sosok Ragil mewakili ketiga kakaknya yang kehilangan asa untuk mengalami kasih orang tua dalam keluarga. Dengan tinggal bersama Darma, kakaknya tertua, ia mengalami kebahagian karena “tinggal di sebuh tempat yang bisa membuatnya merasa nyaman” (166). Itulah kebahagian seorang anak yang seharusnya ia dapatkan dari ayah dan ibu.


La présence de Dieu qui accompagne toujours nos vies est un mystère. Sa présence réelle qu'Il soit là ou ici, nous ne pourrons peut-être...