Kamis, 26 Oktober 2017

Retret Hari Ke-1
[26 Okt 2017]

IMAMAT menjadi titik temu antara awal sejarah hidup dan perjalanan hidup ke depan. Melihatnya dari sudut pandang Dia menjadikan seluruh rangkaian hidup - bukan dipilih secara selektif - menjadi bingkai KASIH. Dia mengikutsertakan diri yang lemah ini dalam "lingkaran keselamatan Ilahi" (berawal dari-Nya kekudusan itu mengalir; hadir di tengah manusia dan akan kembali kepada-Nya). Diri ini sadar bahwa lemah, namun kasih-Nya tak kenal batas.

Kamis, 19 Oktober 2017

          NYALA API SEMANGAT CINTA TUHAN

                             (Luk. 12: 49-53)

Sahabat dehonian yang terkasih, dalam Injil yang baru saja kita baca mengisahkan bagaimana Tuhan Yesus berkarya. Dalam karya-Nya itu, Ia mewartakan bahwa kedatangan-Nya membawa pertentangan, bukan perdamaian. Apa yang dikatakan-Nya tentu membuat kita terkejut dan bahkan bertanya-tanya: apa maksud dari semuanya itu?
Dalam perjalanan karya perutusan, Yesus mengalami banyak pengalaman; dan pengalaman-pengalaman itu meliputi pengalaman penerimaan serta penolakan dari orang-orang yang mendengarkan-Nya. Orang-orang yang mendengarkan pewartaan-Nya menjadi percaya dan mengikuti-Nya; sedangkan orang-orang yang tidak mendengar – bahkan menolak pewartaan-Nya – memusuhi Yesus. Bisa jadi, mereka yang percaya kepada Yesus akan mengalami hal yang sama dengan yang Yesus alami, yakni akan ditolak dan dimusuhi. Inilah konsekuensi dari pilihan yang harus dihadapi.
Tak jarang dan tak terhindar bila konsekuensi dari pilihan yang harus dihadapi itu adalah bagian dari hidup kita, yang percaya kepada Yesus dan menjadi pengikut atau murid-murid-Nya. Maka, sebagai murid-murid Kristus, kita harus terus-menerus mengarahkan diri kepada-Nya. Yesus pun berharap bahwa api kasih-Nya yang dicurahkan kepada kita terus menyala, terus membakar kita untuk setia mengikuti-Nya. Tanda di mana kita setia untuk mengikuti-Nya terwujud dengan usaha dan perjuangan kita untuk mencintai mereka atau apa yang dipercayakan kepada kita: keluarga, teman atau sahabat; mencintai pekerjaan atau tugas perutusan yang dipercayakan kepada kita.
Memang, kesetiaan dalam usaha dan memperjuangkan mencintai mereka atau apa yang dipercayakan kepada kita membutuhkan tekad, bahkan tidak hanya itu; kadang juga membutuhkan pengorbanan. Saya pun demikian. Ketika harus melayani umat di stasi-stasi dengan memberikan pelayanan, pelayanan Misa misalnya, kadang harus disertai dengan tekad bulat dan keharusan untuk berani berkorban.
Berhadapan dengan situasi jarak tempuh 30 sampai 40-an kilometer, belum lagi disertai dengan medan jalan yang penuh dengan lobang (orang menyebut keadaan infrastruktur jalan di tempat kami sebagai “wisata jeglongan sewu”; tapi saya merubahnya menjadi “wisata jeglongan rongewu luwih”); berhadapan dengan situasi tindak kriminal “grandong” (di mana pelaku kejahatan dengan senjata api rakitan meminta paksa kendaraan motor korban di jalan) yang kian merajalela; beberapa situasi di atas memang jika dipandang sebagai situasi yang berisiko. Tapi kesadaran saya bahwa tugas pelayanan umat adalah bagian dari tugas perutusan yang dipercayakan, inilah yang mendorong saya untuk lebih dan lebih berani bertekad untuk terus melangkah; sekalipun pengorbanan memintanya.
Nyala api cinta yang dibawa Tuhan sudah bernyala di dalam diri dalam pelaksanaan tugas pelayanan rasanya menjadi daya pacu dan picu bagi saya; demikian pula dengan Anda, sahabatku. Tuhan pun memberikan nyala api cinta yang sama yang mendorong Anda untuk berusaha dan berjuang untuk mencintai mereka atau apa yang dipecayakan kepada kita; serta mencintai pekerjaan atau tugas perutusan yang dipercayakan.

Tuhan memberkati. Amin!

Selasa, 10 Oktober 2017

Judul Buku     :    The Flat-Earth Conspiracy (Terj.)
Penulis            :    Eric Dubay
Penerbit          :    Bumi Media
Tahun Terbit  :    2017

Terbongkar! Bentuk bumi sebenarnya bukan bulat, tetapi datar.
Selama ini kita meyakini bahwa bentuk bumi yang kita huni ini berbentuk bulat. Pengetahuan tentang bumi bulat diajarkan di semua ruang pendidikan atau sekolah di seluruh dunia. Bahkan sejak kita masih dalam usia anak-anak pun sudah “dijejali” dengan gambaran bahwa bumi itu bulat seperti bola. Konsep bumi yang berbentuk bulat sudah menjadi sistem kepercayaan yang tertanam begitu kuat di otak. Namun, ilmu pengetahuan terus berkembang. Apa yang kita yakini sekarang ini bisa jadi berubah kemudian. Keyakinan bahwa bumi itu bulat, yang sudah mapan selama ratusan tahun, mulai digugat. Selama hampir lima ratus tahun, masyarakat telah benar-benar tertipu oleh dongeng kosmik proposisi astronomi (hal. 5).
Seorang peneliti nasional, Eric Dubay, mengungkapkan fakta bahwa teori bumi bulat adalah ilusi yang ditanam di otak kita lewat kebohongan sains dan propaganda media selama lebih dari 500 tahun. Dalam bukunya, The Flat-Earth Conspiracy, Eric memberikan penjelasan konsep bumi datar beserta bukti-bukti ilmiah yang mengungkapkan bahwa bentuk bumi itu bukan bulat, tapi datar. Baginya, teori bumi bulat merupakan bentuk konspirasi terbesar sepanjang sejarah manusia. Selama lima ratus tahun, dengan menggunakan segala bentuk media mulai dari buku, majalah, televisi, hingga gambar hasil rekayasa komputer, konspirasi multi-generasi ini telah berhasil mengubah pemikiran massa dengan mencomot citra bumi yang bergeming, mengubah bentuk bumi menjadi bulat, membuatnya berputar dalam lintasan berbentuk lingkaran dan membuatnya beredar mengelilingi matahari pada orbitnya (hal. 20).
Dalam penelitian yang dituangkan di buku ini, Eric Dubay mengungkapkan fakta-fakta mencengangkan yang membuktikan bahwa bumi itu datar, bukan bulat. Banyak fakta yang dikupas dari pelbagai disiplin ilmu pengetahuan. Beberapa fakta ilmiah yang kuat dan belum bisa di bantah di antaranya adalah non-kurvatur bumi datar yang dapat diukur; pencerahan bumi datar melalui mercusuar; berbedanya situasi antara Antartika dan Arktika; fenomena gerhana matahari dan bulan dan beberapa bukti ilmiah lainnya.
Bersatu dengan Komunitas Flat-Earth Society, Eric Dubay berusaha untuk memberikan pemahaman real kepada dunia bahwa apa yang banyak orang pahami selama ini – tentang bentuk bumi – adalah sesuatu yang keliru. Dalam menyebarkan pemahamannya, Eric Dubay bersama dengan anggota dalam komunitas pun mendapat tantangan dari beberapa orang – dapat dikatakan sebagai kelompok Tatangan Dunia “globalis” – yang berusaha untuk membungkam agar “rahasia besar penipuan” mereka tidak terbongkar.
Buku ini baik untuk dibaca sebagai penambah wawasan dan sekaligus sebagai pemberi perspektif baru dalam memandang konsep dunia yang sudah terpatri di pikiran kita. Selamat membaca!



Jumat, 29 September 2017

Judul Buku     :    How to Win Friends & Influence People In The Digital Age (terj.)
Penulis            :    Dale Carnagie & Associates
Penerbit          :    PT Gramedia Pustakan Utama - Jakarta
Tahun Terbit  :    2017

Pada tahun 1963, Dale Carnegie melontarkan pernyataan yang menarik kepada para pembaca: “Kemungkinan besar, masalah terbesar yang Anda hadapi adalah berusuan dengan orang lain”. Pernyataan ini menjadi fondasi dari How to Win Friends and Influence People, dan pernyataan ini masih berlaku pada zaman sekarang (hal. x).
Adalah baik untuk mendalami pernyataan tersebut sebagai pijakan untuk membangun sebuah hubungan-relasi komunikasi antar manusia pada era digital seperti sekarang ini. How to Win Friends and Influence People memberikan penjelasan dan sekaligus mengulas kesempatan untuk mendapatkan teman dan memengaruhi orang lain pada masa kini. Dulu, kedua hal itu dapat dicapai dengan tiga cara yang biasa dilakukan, yakni: bertemu secara langsung, melalui surat dan melalui telepon. Orang-orang pada zaman itu menekankan pentingnya pertemuan secara langsung – eksistensi di hadapan yang lain – karena tidak ada sarana lain yang dapat dipakai untuk menggantikannya. Pada zaman sekarang, hal itu menjadi pengecualian. Media sosial yang terbalut dalam koneksi digital menjadi sarana utama. Melalui media ini, kesempatan untuk mendapat teman dan memengaruhi orang lain dapat dilakukan tanpa ada pertemuan dan kehadiran secara langsung.
Memang, karya Carnege ini adalah karya yang ditulis beberapa tahun yang lalu. Namun, dengan beberapa tambahan yang diberikan, pada intinya membuat karya ini dapat diterapkan pada era sekarang. Ada beberapa prinsip utama yang menjadi dasar karya ini dalam membangun hubungan-relasi. Carnage memberikan beberapa resep membangun relasi yang kemudian ia rumuskan ke dalam beberapa cara membangun dan menjaga hubungan-relasi.
Ada enam cara untuk memberikan kesan yang bertahan lama: tunjukkan minat terhadap minat orang lain, tersenyumlah, berkuasa dengan nama, simak lebih lama, bahas apa yang penting bagi mereka, buat orang lain merasa lebih baik. Keenam cara ini adalah resep di mana setiap pribadi diajak untuk menjadi orang yang mampu memberikan kesan baik bagi orang lain yang hadir di depannya. Mungkin di antara itu semua, tersenyum adalah satu hal yang mudah dilakukan. Senyuman, hal itu meningkatkan nilai wajah Anda (hal. 67).
Setelah mendapat kesan dari orang lain, selanjutnya relasi diharapkan mulai terbangun. Selanjutnya, proses terbangunnya relasi itu hendaknya dibarengi dengan mendapatkan dan menjaga kepercayaan yang didapat dari orang lain. Proses ini dapat dilakukan dengan beberapa hal berikut: mengakui kesalahan dengan cepat dan sungguh-sungguh, membiarkan orang lain mendapat pengakuan, memberikan sikap yang ramah dan jangan berkata “Kau salah”; sebab memberitahu orang bahwa mereka atau dia salah hanya akan membuat orang atau pribadi memusuhi Anda (hal. 129).
Pada bagian akhir, diulas seni menuntun perubahan tanpa penolakan atau kebencian. Bagian ini lebih menekankan upaya untuk menjaga hubungan-relasi yang sudah terbangun, lebih sekadar dari penerimaan kepercayaan dari orang lain. Satu hal yang menjadi bagian dari seni ini adalah senantiasa memberian pujian. Pujian menjadi pijakan utama di saat kita akan memberikan masukan atau kritik yang membangun. Pada praksisnya, sebagian besar dari kita tidak harus bersusah payah mencari kesempatan untuk memuji; kita hanya perlu memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang ada setiap harinya (hal. 234).
Meski membutuhkan ketekunan dalam membaca, How to Win Friends and Influence People memberikan sumbangan luar biasa bagi siapa saja yang telah membacanya. Karya ini sungguh dimaksudkan bagi siapa saja yang mau menjadi pribadi yang lebih cerdas dalam membangun dan menjadi hubungan-relasi yang telah dibangun. 

Selasa, 05 September 2017

                                      KELUAR DARI ZONA NYAMAN

Luk 8: 19-21

Terdengar begitu jelas jawaban Yesus: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka yang mendengarkan Sabda Allah dan melaksanakannya”. Jawaban Yesus sebagai tanggapan atas pemberitahuan yang diberikan kepada-Nya tentu mengejutkan orang-orang. Mungkin beberapa orang di sekitarnya bertanya dalam diri: “Mengapa Ia tidak mau bertemu dengan Ibu beserta saudara-saudara-Nya”? Atau bahkan ada yang bertanya: “Apakah ada masalah antara Yesus dengan Ibu serta keluarga-Nya yang menyebabkan Ia tidak mau untuk bertemu”?
Tentu, Yesus sendiri ketika dihadapkan dengan situasi tersebut, sudah secara mendalam memilih apa yang tepat. Rasanya Ia sudah memeriksa diri – kehadiran dan misi-Nya – dan akan menentukan pilihan apa yang akan diambil-Nya. Jawaban Yesus terhadap situasi itu menunjukkan bahwa Ia lebih memilih untuk menemani orang banyak yang sedang mendengarkan Dia bersabda. Mungkin pilihan ini terasa konyol dan tidak masuk akal. Bukankah kerinduan untuk bertemu dengan orang-orang yang dicintai (dalam hal ini adalah keluarga), setelah lama tidak berjumpa, ada di dalam hati setiap manusia; tanpa terkecuali dengan Yesus? Namun, itulah pilihan yang diambil Yesus, sebuah keputusan radikal. Keputusan itu menunjukkan keberanian Yesus untuk keluar dari zona nyaman – kebersamaan dengan keluarga – demi pencapaian tujuan misi-Nya.
Adalah baik bagi kita untuk dapat belajar dari Yesus; tentunya tidak harus dengan konteks yang sama dengan-Nya. Kita bisa membawa sikap dan keberanian pemilihan keputusan yang dibuat Yesus dalam hidup keseharian sebagai orang Kristiani. Kadang dalam menjalani hidup, entah dalam setiap tugas perutusan atau pun karya, kita berada dalam situasi keragu-raguan dan ketidaknyamanan ketika dihadapkan pada suatu pilihan. Misalnya saja, ketika di lingkungan kerja kita dibujuk untuk melakukan tindakan penyelewengan penggunaan keuangan oleh teman atau atasan. Berhadapan dengan itu, nyaman memang jika kita menuruti apalagi jika kita mendapatkan “bagian”. Meski demikian, kita tetap harus berani mengambil sikap seperti yang Yesus lakukan: berani menolak dan bahkan mengingatkan teman atau atasan kita. Itu hanya sekadar contoh saja; mungkin dalam kenyataan kita memiliki pengalaman yang hampir sama.
Untuk itu, sekarang marilah kita hening sejenak; mengingat kembali pengalaman hidup, apakah kita pernah berhadapan atau dihadapkan pada situasi semacam itu? Kalau memang pernah, tindakan apa yang dibuat? Ke depan, beranikah kita, atau saya pribadi, bertindak radikal – memilih keputusan yang baik – seperti yang pernah Yesus buat?
Tuhan memberkati.

Kamis, 24 Agustus 2017

Judul Buku     :    Fokus (Terj.)
Penulis            :    Daniel Goleman
Penerbit          :    PT Gramedia Pustaka Utama - Jakarta
Tahun Terbit  :    2016

Apakah Anda memberikan atensi? Apakah Anda benar-benar berfokus pada buku di tangan Anda? Ataukah Anda sudah mengalihkan perhatian dengan mengecek jam tangan, e-mail, SMS, Facebook, dan sebagainya? Masih menahan dorongan untuk membiarkan pikiran Anda mengembara? Beberapa pertanyaan tersebut merupakan penyadaran kembali terhadap kehadiran Anda kini dan sekarang.
Mungkin setelah kita terhenyak dan sadar, pertanyaan-pertanyaan di atas menyadarkan kembali kehadiran Anda. Anda pun sadar bahwa kadang pikiran mengembara entah ke mana. Itu sangatlah wajar. Mengapa? Karena pada praktiknya, pikiran seorang pembaca pun biasanya mengembara sebanyak 40% dari total waktu saat dia membaca teks. Namun, apa manfaat dari memberikan atensi untuk jangka waktu yang lama? Dalam buku Fokus, Daneil Goleman menunjukkan mengapa fondasi kesuksesan di segala bidang kehidupan kita adalah kemampuan untuk berfokus.
Kesadaran diri salah satu resep yang disebut Goleman dalam memiliki keter-fokus-an. Kesadaran diri, khususnya ketepatan dalam menguraikan petunjuk-petunjuk internal dari gumaman batin kita, memegang kuncinya. Kesadaran diri merupakan lambang fokus yang hakiki, sesuatu yang bisa menyelaraskan diri kita dengan gumaman haus dari batin kita, yang bisa membantu jalan hidup kita (hal. 73). “Radar mental” (baca: kesadaran diri) dapat dijadikan sebagai kunci pengelolaan apa yang kita lakukan; dan tak kalah pentingnya, apa yang tidak kita lakukan. Prinsipnya adalah bahwa kesadaran diri membawa diri kita pada penyadaran, ke-kini-an.
Kesadaran diri sebagai salah satu resep untuk fokus juga harus disertai dengan kemampuan “membaca orang lain”. Kemampuan ini yang menurut Goleman dipahami sebagai kepekaan sosial. Kepekaan sosial memampukan untuk memiliki kesadaran mengenai apa yang pantas secara sosial yang mendatangi kita sebagai perasaan di tubuh; yang memberikan sinyal-sinyal atau perasaan tertentu yang datang dari orang yang sedang bersama dengan kita. Kesadaran akan konteks (sosial) juga membantu di level yang berbeda: memetakan jaringan sosial di suatu kelompok atau sekolah baru atau tempat kerja; kecakapan yang membuat kita bisa mengelola relasi-relasi itu dengan baik (hal. 139).
Untuk menutup bukunya, Goleman berharap bahwa kualitas keter-fokus-an itu dapat menjadikan seseorang menjadi pemimpin. Kepemimpinan itu sendiri bergantung pada kemampuan menarik dan mengarahkan atensi kolektif secara efektif (hal. 245). Adapun atensi yang mengemuka menuntut adanya unsur-unsur: pemusatan pada diri sendiri (fokus diri), menarik dan mengarahkan perhatian dari pihak lain, serta memperoleh dan menjaga perhatian yang dipimpin.
Karya Goleman yang tertuang dalam buku yang berjudul Fokus ini sangat baik dibaca bagi mereka yang menginginkan perubahan dalam diri menjadi lebih baik. Salah satu dasar utama untuk itu adalah membangun kesadaran diri, saat ini dan sekarang.

Selamat membaca!

Minggu, 20 Agustus 2017

MENJADI PELAYAN BAGI SESAMA

Mat 23: 1-12

Sahabat dehonian yang terkasih, pada bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus berhadapan dengan orang-orang yang memusuhi-Nya. Mereka itu adalah para ahli Kitab – yang dikenal sebagai para ahli-ahli Taurat – dan orang-orang Farisi. Para ahi Kitab ini adalah para kaum intelektualis religius yang dengan kemampuan dan kuasanya memberikan penafsiran serta pengajaran yang berdasarkan pada Kitab Perjanjian Lama. Apa yang diajarkan mereka diharapkan menjadi pedoman bagi jemaat untuk diterapkan dalam hidup sehari-hari. Sementara, orang-orang Farisi adalah orang yang membanggakan dirinya sebagai orang-orang yang masuk dalah hitungan mereka yang menaati hukum (agama).
Dalam banyak kasus, sering kita jumpai bahwa mereka – kedua kelompok itu – menentang dan menolak kehadiran Yesus. Kehadiran Yesus bagi mereka dipandang sebagai “pendatang baru” yang menganggu posisi kemapanan mereka di tengah jemaat dan masyarakat.
Sungguh menarik jika kita melihat sikap Yesus terhadap mereka. Yesus mengajak para murid dan orang-orang untuk memiliki sikap kritis terhadap para ahli Kitab dan orang-orang Farisi. Ini tampak pada sikap kritis Yesus: “Turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi jangan turuti perbuatan-perbuatan mereka. Karena, mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya”. Dalam hal ini, Yesus sebenarnya mengajak para murid dan orang-orang yang Ia ajar untuk tidak mengikuti kemunafikan para ahli Taurat. Yesus juga mengecam orang-orang Farisi yang suka menonjolkan diri dan mendapatkan kehormatan di mata banyak orang. Oleh karena itu, Yesus menghendaki supaya para murid dan orang-orang menjadi pribadi yang tidak seperti orang Farisi, melainkan menjadi pribadi yang bersemangat dalam pelayanan dengan memiliki sifat kerendahan hati.
Ajaran dan ajakan Yesus ini menjadi tantangan bagi kita sebagai murid-murid-Nya pada jaman sekarang. Di tengah kecenderungan yang egois untuk menjadi “yang terdepan” di antara yang lain, kadang kita ingin menjadi tuan atas anggota komunitas yang lain, atas istri, suami, anak-anak dan orang-orang yang dipercayakan kepada kita. Dengan menjadi murid Kristus, kita hendaknya menjadi pelayan bagi yang lain. Kita diminta untuk mengutamakan sesama dalam situasi apa dan kapan pun. Dengan menjadikan diri sebagai pelayan bagi sesama, kehadiran kita sungguh menunjukkan jati diri seorang Kristiani sejati yang dapat menumbuhkan rasa kekeluargaan dan persaudaraan yang lebih baik.
Tuhan memberkati.

La présence de Dieu qui accompagne toujours nos vies est un mystère. Sa présence réelle qu'Il soit là ou ici, nous ne pourrons peut-être...