Senin, 18 Juni 2018


Jadikan hati kami seperti Hati-Mu

Renungan Singkat Dehonian 
Yoh 12: 1-11


Sahabat dehonian yang terkasih, ada seorang umat yang datang kepada saya dan berkata: “Romo, saya telah bersalah kepada Tuhan karena selama ini saya melalaikan ajaran-Nya dan menjauhkan diri dari Gereja. Bahkan, saya pun tidak bertanggung jawab atas istri dan anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada saya. Meski demikian, Tuhan tetap mencintai saya dengan memberikan kehidupan”. Setelah menyudahi kisahnya itu, ia kemudian bertekad untuk akan membaktikan hidupnya ke depan sebagai silih atas kesalahan yang telah dibuat dengan menjadi anggota Gereja yang lebih aktif dan akan juga menjadi kepala keluarga yang lebih bertanggung jawab.
Sahabat dehonian, betapa Tuhan mencintai kita, yakni umat yang selalu berdosa tetapi selalu diberikan kesempatan untuk bertobat. Seperti jika kita memiliki jam tangan yang rusak dan tidak membuangnya, tetapi membawanya ke tukang reparasi jam supaya diperbaiki; demikian pula Tuhan memperlakukan kita. Sumbu yang pudar nyalanya tidak dipadamkannya, buluh yang patah terkulai tidak diputuskannya, manusia yang lemah terkulai karena kesalahan dan dosa tidak dibinasakan.
Allah tetap mencintai manusia. Meski manusia menjadi “pudar hidupnya” karena dosa, tidak dimatikan atau dibinasakan hidupnya. Justru karena Ia adalah Tuhan yang Maha Kasih, yang memiliki kuasa untuk membebaskan, maka manusia yang berdosa selalu mendapat Hati-Nya yang memberikan pengampunan dan kesempatan untuk bangkit kembali. Hal yang sama ketika Ia menghadapi perempuan berdosa, yakni Maria, yang meminyaki kaki-Nya dengan minyak narwastu yang mahal dan menyekanya dengan rambutnya. Apa yang dibuat Yesus? Ia tidak menepis dan tidak menolak perlakuan Maria sebagai tindakan yang dapat mencemarkan kekudusan-Nya. Yesus menerima tindakan Maria sebagai laku silih atas kesalahan hidup di masa lalunya: “Biarkan ia melakukan hal ini....”.
Sahabat dehonian yang terkasih, kita sebagai manusia biasa pasti tidak terlepas dengan melakukan kesalahan atau pun dosa. Kita masih lemah dan belum sempurna di hadapan Tuhan. Bila setiap kesalahan dihadapi Tuhan dengan keputusan untuk membinasakan, pasti semua manusia sudah lenyap dari peradaban dunia, termasuk kita. Kita patut bersyukur bahwa Tuhan masih memiliki Hati bagi kita yang selalu membuka pintu pertobatan. Setiap upaya dan usaha menuju pada pertobatan, mendapat tempat bagi karya kasih-Nya.
Demikianlah pula hendaknya dengan kita. Cara bersikap kita terhadap sesama yang kadang juga jatuh dalam kesalahan atau pun dosa hendaknya kita sikapi dengan cara Allah berkarya. Pengalaman diampuni dan diselamatkan – yang nyata dalam pertobatan – kiranya memberi kekuatan bagi kita untuk juga dapat mengampuni sesama yang bertobat dan berjuang untuk kembali menjadi orang yang baik.
Tuhan Yesus, jadikan hati kami seperti Hati-Mu. Amin!




Menjadi Hamba dan Pelayan

Renungan Singkat Dehonian 
Yoh 13: 16-20


Sahabat dehonian yang terkasih, bacaan pada kesempatan ini mengingatkan saya pada pelayanan Kamis Putih dalam Tri Hari Suci yang kita rayakan beberapa minggu yang lalu. Pelayanan Kamis Putih yang saya lakukan meliputi tiga stasi dengan jarak cukup berjauhan. Dengan melakukan pelayanan Misa atau Ekaristi Kamis Putih sebanyak tiga kali, maka kita dapat menghitung bahwa jumlah umat – yang menjadi murid – dalam upacara pembasuhan kaki berarti cukup banyak.
Berhadapan dengan pelayanan ini, saya mengalami ada situasi yang dirasakan. Saya secara pribadi merasa harus melepas ego diri sebagai seorang romo, yang salama ini biasa mendapat penghormatan dan penghargaan dari umat. Ego harus dilepaskan agar dapat menundukkan diri di hadapan umat supaya menjadi lebih rendah di hadapan mereka. Situasi ini berbanding terbalik ketika selama ini saya harus berada “di atas” umat karena status imamat yang saya sandang. Setelah menundukkan diri, ego pun harus semakin ditinggal tatkala harus mencuci kaki umat. Diri merasa dan disadarkan bahwa, kaki-kaki inilah yang menjadi penegak kehidupan umat.
Upacara pembasuhan kaki yang saya lakukan kepada umat di tiga stasi itu mengingatkan bahwa saya adalah seorang hamba; dan sejatinya adalah seorang hamba, pelayan Tuhan dan umat yang Dia percayakan kepada saya. Dalam Injil hari ini Tuhan bersabda: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, atau seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya”. Sabda itu menyadarkan saya bahwa saya-lah hamba-Nya, saya-lah utusan-Nya. Jika ia sudah melakukan hal yang sama kepada kedua belas murid pada waktu itu, maka saya pun harus melakukan hal sama sebagaimana yang dilakukan oleh-Nya.
Dalam hal ini saya berefleksi bahwa saya adalah seorang hamba yang menerima tugas perutusan seturut teladan Kristus; dan hamba itu tidak hanya saya, tetapi Anda juga. Kita semua diundang pada kesempatan ini untuk menjadi seorang hamba dan sekaligus utusan yang berani untuk membebaskan diri dari keinginan menyalahgunakan suatu hal yang dipercayakan kepada kita. Bila kita, Anda dan saya selalu dalam semangat kesetiaan dan kerendahan hati, melaksanakan tugas perutusan yang dipercayakan (baik itu sebagai imam, biarawan/biarawati, atau pun awam), maka Tuhan Yesus pun akan menyebut kita berbahagia sebagaimana Sabda-Nya: “... berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya”.
Tuhan memberkati. Amin!



Yesus Cinta Anak-anak
    
Renungan Singkat Dehonian 
Mrk 10: 13-16


Sahabat dehonian yang terkasih, dalam warta Injil hari ini kita mendengar bagaimana Tuhan Yesus mencintai anak-anak kecil. Saat itu ditunjukkan dengan dua pengalaman manusiawi. Pertama, Tuhan marah kepada para murid yang menghalangi mereka yang akan membawa anak-anak kecil kepada-Nya: “Biarlah anak-anak itu datang kepada-Ku! Jangan menghalang-halangi mereka”! Kasih Tuhan kepada anak-anak kecil semakin terlihat ketika setelah anak-anak itu sampai kepada-Nya, Tuhan memeluk mereka dan meletakkan tangan atas mereka dan memberkati mereka semua. Inilah pengalaman manusiawi kedua dalam Injil yang menunjuk cinta Tuhan yang sangat dalam kepada anak-anak kecil.
Jika kita boleh bertanya: Apa alasan Tuhan mencintai anak-anak kecil? Dengan merenungkan dua pengalaman tadi, saya merasa bahwa ada alasan mendasar yang membuat Tuhan mencintai mereka (yang termasuk dalam bilangan anak-anak kecil). Apa itu? Jawabannya adalah kasih-Nya yang amat begitu besar bagi manusia. Allah mengutus Putera-Nya untuk menebus manusia karena Allah sangat mencintainya. Allah sangat mencintai manusia karena manusia berdosa; di mana posisi itu meletakkan manusia pada sisi pribadi yang lemah dan tidak dapat bertindak. Posisi inilah yang menjadikan Allah berinisiatif bergerak untuk datang kepada manusia dengan mengutus Yesus, Putera-Nya; Dia yang bersedia berkorban demi keselamatan manusia.
Posisi manusia yang lemah dan tidak dapat bertindak untuk berbuat ini rasanya juga menunjuk pada diri anak-anak. Mereka termasuk dalam bilangan yang sangat membutuhkan bantuan dari yang lebih kuat. Mereka butuh ditemani, dipeluk dan disayang. Kehadiran Putera Allah semakin nyata di mana Ia hadir untuk manusia yang tebatas, untuk manusia yang lemah dan tidak dapat berbuat apa-apa; dan mereka itu adalah anak-anak kecil. Jadi bagi saya, alasan utama Tuhan Yesus untuk mencintai anak-anak kecil adalah karena Kasih-Nya.
Sahabat dehonian, apa yang dapat menjadi bahan permenungan kita atas warta Injil hari ini? Tuhan sungguh mencintai anak-anak, ya...anak-anak kecil. Dalam hal ini, saya mengundang setiap orang tua – dan mungkin Anda, sahabat dehonian adalah di antaranya – untuk menyadari peran Anda atas kehadiran anak-anak dalam keluarga. Kembali saya mengajak untuk menyadari bahwa kehadiran anak-anak dalam keluarga adalah sebuah hadiah atau anugerah yang Tuhan Allah berikan. Maka, tugas setiap orang tua atas anak-anak untuk mencintai dan mendidik mereka adalah pelaksanaan kewajiban yang harus dilakukan. Bagi saya, pelaksanaan tugas itu tidak hanya semata-mata adalah kewajiban sebagai orang tua, namun menjadi keikutsertaan Anda, sahabat dehonian, untuk melanjutkan karya Tuhan mencintai manusia, yakni mencintai anak-anak yang hadir dalam keluarga Anda.
Ada dua hal yang dapat dilakukan berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan kewajiban sebagai orang tua terhadap anak-anak. Pertama adalah mendidik mereka secara iman. Adalah tugas setiap orang tua untuk mendidik iman anak secara Katolik; dan ini harus dilakukan sejak mereka usia dini. Anak-anak diajari untuk berdoa, menghafal beberapa doa pokok (Salam Maria, Bapa Kami) dan juga setia untuk diajak mengikuti kegiatan rohani di Gereja. Kedua adalah mendidik anak-anak secara akademis. Dalam hal ini setiap orang tua berkewajiban menjamin pendidikan akademis anak-anak agar mereka dapat mengenyam pendidikan setinggi mungkin.
Sahabat dehonian yang terkasih, Tuhan mencintai anak-anak yang datang kepada-Nya. Sekarang, mari kita pun melanjutkan karya Tuhan ini mulai dalam keluarga kita masih-masing.
Tuhan memberkati. Amin!



Mengasihi Lebih Dahulu
    
Renungan Singkat Dehonian 
Mrk 7: 6. 12-14


Segala sesuatu yang kamu kehendaki diperbuat orang kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan Kitab para nabi.
Sahabat dehonian yang terkasih, Yesus mengajarkan ajaran kasih melalui “Aturan Emas” atau “Golden Rule”. “Aturan Emas” itu pertama-tama memuat ajakan untuk menyadari bahwa setiap manusia pasti ingin diperlakukan baik oleh sesamanya: “segala sesuatu yang kamu kehendaki diperbuat orang kepadamu”. Yesus menyadari bahwa manusia secara alami mencintai dirinya sendiri. Manusia pada umumnya menuntut rasa hormat, kasih dan penghargaan dari yang lain.
Di lain pihak, keinginan manusiawi secara alami adalah tidak ingin diperlakukan secara tidak baik oleh sesamanya. Tentunya manusia tidak ingin jika tidak dihormati, tidak dikasihi dan tidak dihargai. Manusia secara alami tidak ingin jika kehadirannya tidak diperhitungkan oleh yang lain. Dalam hal ini, Yesus sekali lagi memahami keinginan itu dan menggunakannya untuk mengajari tindak kesalehan kepada sesama. 
Inti dari “aturan emas” adalah tindakan aktif: “perbuatlah demikian juga kepada mereka”; “mereka” di sini menunjuk kepada sesama. Setelah menyadari bahwa keinginan setiap manusia adalah ingin diperlakukan secara baik, maka Yesus mengundang untuk melakukan yang baik itu pula kepada sesama. Ajakan untuk melakukan yang baik kepada sesama adalah gerakan aktif untuk pergi ke luar diri dan mengutamakan yang lain bahkan di atas kepentingan diri sendiri. Yesus mengajari bahwa sebelum mendapatkan perlakuan baik dari yang lain, maka pertama-tama haruslah menjadi pelopor untuk melakukan yang baik terlebih dahulu. Apakah Anda ingin dihormati? Maka hormatilah orang lain terlebih dahulu. Apakah Anda ingin dikasihi? Maka kasihilah orang lain terlebih dahulu. Apakah Anda ingin dihargai? Maka hargailah sesama terlebih dahulu.
Dengan ajaran yang memuat tindakan aktif memulai atau melakukan yang baik terlebih dahulu kepada sesama, Yesus sebenarnya menanamkan dalam diri setiap pengikutnya budaya mengasihi. Memprioritaskan diri sebagai pelaku utama berbuat kasih berarti berusaha untuk menghadirkan diri sebagai pribadi yang memiliki komitmen mengasihi sesama. Dalam hal ini, setiap pribadi diharapkan memiliki tindak kebiasaan yang menjadi milik, yang selalu – secara otomatis – mendahulukan orang lain di atas keegoan atau pun kepentingan dirinya sendiri.
Menaati perintah Tuhan untuk mengasihi sesama merupakan tanda dari Orang Katolik sejati. Dengan memiliki budaya mengasihi dalam setiap kehadirannya di tengah sebuah komunitas, ia mencerminkan kasihnya yang sama kepada Allah. Sebab, setiap orang Katolik mengaku mengasihi Allah dengan juga mengasihi sesamanya. “Jikalau seorang berkata: Aku mengasihi Allah; dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya” (1 Yoh 4: 20). “Aturan Emas” yang diajarkan Yesus merangkum gagasan ini.
Pertanyaannya adalah maukan kita, Anda dan saya, menjadi pelaku budaya kasih sebagai perwujudan dari “Aturan Emas” pada hari ini?
Tuhan memberkati. Amin!

Senin, 07 Mei 2018


Judul Buku     :    Self-Leadership: Seni Memimpin Diri bagi Orang Lain
Penulis            :    Anand Krishna
Penerbit          :    Gramedia Pustaka Utama - Jakarta
Tahun Terbit  :    2017

Untuk menjadi seorang Pemimpin yang sejati, di mana pun, di bidang apa pun dan dalam skala apa pun, tak ada jalan lain bagi kita selain memulai dari dalam diri sendiri. Itu dapat tercapai dengan memulainya dari diri sendiri, dengan belajar memimpin diri, menguasai diri dan mengendalikan hawa nafsu yang kadang ingin menguasai diri. Jika kita belum dapat memimpin diri sendiri, maka jangan berharap bisa menjadi pemimpin bagi orang lain.
 Self-Leadership: Seni Memimpin Diri bagi Orang Lain menjadi panduan untuk dapat menuju pencapaian menjadi pemimpin sejati yang dimulai dari dalam diri sendiri. Karya Anand Krisna ini mengajak untuk menyadari bahwa setiap orang dapat menjadi pemimpin, hanya saja, untuk mencapainya dibutuhkan latihan dan seni. Latihan dan seni itu dipraktikkan dengan memimpin diri sendiri terlebih dahulu.
Latihan dan seni memimpin diri sendiri dimulai dengan belajar dari alam semesta sebagai Perguruan Tertinggi. Universe atau alam raya adalah universitas terbuka nan terbesar (hal. 6). Dari alam raya manusia dapat belajar sebagaimana yang pernah dibuat oleh para leluhur pada jaman dahulu. Para leluhur mampu membaca tanda-tanda alam sebab mereka hidup selaras dengan alam. Mereka belajar dari alam, mereka mencintai alam, mereka tidak pernah merusak alam – dan alam pun memberi respon serupa (hal. 7). “Nilai-nilai luhur hasil pengamatan mereka terhadap kinerja alam yang kemudian dijadikan pedoman hidup (hal. 17)” inilah yang disebut dengan Asta Brata atau Ashta Vrata (Sanskrit).
Mastery over self atau menguasai diri merupakan jalan utama untuk belajar memimpin diri: “It is absurd that a man should rule others who cannot rule himself” (hal. 61). Inilah pengendalian diri. Inilah sebuah perjuangan tinggi. Hal yang perlu dibuat adalah mengendalikan hawa nafsu, barulah terjun ke tengah masyarakat bukan untuk memimpin, tetapi untuk melayani. Seorang pemimpin sejati sesungguhnya seorang pelayan, seorang pengabdi tanpa pamrih (hal. 65)! Selain menjadi pelayan, seorang pemimpin hendaknya memiliki pendidikan yang berwawasan. Pendidikan di sini tidak hanya sebatas pendidikan pada konsep logika atau penalaran, namun juga memuat pendidikan yang bernuansa character building.
Seorang pemimpin sejati juga adalah orang yang berbudaya. Seorang yang berbudaya adalah seorang yang berpikiran jernih, berperasaan halus dan wataknya berlandaskan kasih (hal. 130). Ia pun memiliki kepercayaan diri. Seorang pemimpin sejati tidak takut menghadapi orang-orang yang berpandangan lain, berpandangan berbeda bahkan yang berseberangan dengan dirinya, karena ia percaya diri (hal. 155). Meski demikian, ia tetap berusaha untuk terbuka; belajar dari setiap orang dan tidak keras kepala. Ia tidak takut mengubah pandangannya jika memang terbukti bahwa pandangan lain lebih tepat atau lebih baik (hal. 155).  
Dari pelbagai latihan dan seni yang termuat dalam buku ini, Anand berharap akan banyak lahir para pemimpin sejati yang baru. Para pemimpin itu diharap memiliki pengendalian diri, semangat untuk melayani, kemampuan untuk mengoreksi diri serta menguasai seni kepemimpinan yang pada akhirnya akan membuat masyarakat, bangsa dan negara menjadi lebih beradab dan sejahtera.
Mau menjadi Pemimpin Sejati?

Senin, 09 April 2018


Judul Buku     :    The 7 Habits of Highly Effective People  (terj.)
Penulis            :    Stephen R. Covey
Penerbit          :    Dunamis Intra Sarana - Jakarta
Tahun Terbit  :    2015

Salah satu buku paling menginspirasi dan berpengaruh yang pernah ditulis, The 7 Habits of Highly Effective People (7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif) telah memikat para pembacanya selama 25 tahun. Karya tulis yang digarap oleh Stehen R. Covey ini menghadirkan “tips” bagi pribadi manusia untuk dapat menjadi pribadi yang terus berkembang secara lebih maksimal supaya tidak mengalami kemandegan kepribadian.
Stephen, dalam karyanya ini menghadirkan tujuh jalan yang dapat dijadikan sebagai pedoman perkembangan kepribadian. Dari ketujuh jalan atau lebih tepatnya “kebiasaan” itu dibagi ke dalam 3 bagian utama. Bagian pertama adalah “Kemenangan Pribadi” yang meliputi kebiasaan-kebiasaan: Jadilah Proaktif, Mulai dengan Tujuan Akhir dan Dahulukan yang Utama. Bagian kedua adalah “Kemenangan Publik” yang meliputi kebiasaan-kebiasaan: Berpikir Menang-menang, Berusaha Mengerti Lebih Dahulu Baru Dimengerti dan Wujudkan Sinergi. Bagian ketiga adalah “Pembaruan” yang tercapai dengan melakukan kebiasaan ketujuh, yakni: Asahlah Gergaji.
 Bagian pertama yang memuat pencapaian untuk Kemenangan Pribadi, dimulai dengan meng-konkretkan Kebiasan 1: Jadilah Proaktif. Salah satu tindakan yang dapat dilatih terus menerus yang berkaitan dengan menjadi pribadi yang proaktif adalah berani untuk berinisiatif, entah dengan ide-ide atau pun tindakan yang menginspirasi. Proaktivitas merupakan bagian dari sifat manusia, dan walaupun otot-otot proaktivitas kita mungkin sedang tertidur, namun otak proaktif itu tetap ada (hal. 102). Selain menjadi pribadi yang proaktif, kebiasaan selanjutnya – kebijakan kedua – dikonkretkan melalui Mulai dengan Tujuan Akhir. Kebiasaan ini dibuat untuk melatih jiwa kepemimpinan dalam diri yang termuat dalam prinsip-prinsip pokok. Kebiasaan ketiga sebagai penutup dari bagian pertama adalah Dahulukan yang Utama. Prinsip-prinsip yang tertuang dalam kebiasaan ketiga memuat beberapa prinsip tentang manajemen diri. Penekanan yang ingin disampaikan adalah “hal-lah yang paling penting jangan sampai dikalahkan oleh hal-hal yang sepele (Goethe)” (hal. 191).
Bagian kedua dalam The 7 Habits of Highly Effective People (7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif) adalah Kemenangan Publik. Kebiasaan keempat yang diasah dalam bagian ini adalah Berpikir Menang-menang. Seni kepemimpinan ini digunakan untuk menjalin relasi sosial antar pribadi. Kebiasaan keempat ini membuat seorang pribadi untuk dapat menjadi orang yang mampu mengerti yang lain, tanpa harus menjadikan dirinya “kalah”. Kebiasaan ini berkaitan dengan kebiasaan yang kelima, yakni: Berusaha Mengerti Lebih Dahulu, Baru Dimengerti. Prinsip-prinsip komunikasi yang empatik dipakai dalam pelaksanaan kebiasaan ini. Apa yang dibuat dalam kebiasaan ini adalah berusaha untuk menjadi pendengar supaya dapat mengerti dalam sebuah pengalaman perjumpaan. Meskipun berisiko dan sulit, berusaha memahami lebih dahulu, atau mendiagnosis sebelum membuat resep adalah prinsip yang tepat yang diwujudkan dalam berbagai bidang kehidupan (hal. 316). Dengan melakukan kebiasaan keempat dan kelima, harapan yang terwujud adalah akan membantu untuk mewujudkan kebiasaan yang keenam, yakni: Wujudkan Sinergi. Sinergi dapat dibuat jika dalam hubungan antar pribadi terdapat semangat kerja sama yang baik dan kreatif.
Kebiasaan ketujuh yang menjadi penutup dalam buku ini adalah Asahlah Gergaji; memuat prinsip pembaruan diri yang seimbang. Kebiasaan ini mengelilingi kebiasaan-kebiasaan yang lainnya pada paradigma Tujuh Kebiasaan karena kebiasaan ini adalah kebiasaan yang menjadikan kebiasaan-kebiasaan lainnya mungkin (hal. 374). Ada 4 dimensi yang akan selalu terbarui dengan selalu “mengasah gergaji”: fisik, spiritual, mental dan sosial/emosional.
The 7 Habits of Highly Effective People (7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif) adalah karya yang menginspirasi. Buku  ini sangat baik dibaca bagi semua orang, secara khusus bagi mereka yang ingin selalu membarui diri dengan memberdayakan potensi yang sebenarnya sudah ada dan perlu untuk selalu “dibangungkan”.
Selamat membaca!

Kamis, 21 Desember 2017

Menjadi Pewarta:
Meneladan Santo Stefanus - Martir

Selamat Natal bagi Anda semua. Semoga Damai Sang Kristus, Penyelamat, hadir dalam hati dan keluarga Anda.
Yesus dalam Injil bersabda, “Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu khawatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang akan berbicara, melainkan Roh Bapamu; Dialah yang akan berbicara dalam dirimu”. Sabda itu menjadi nyata dalam diri Santo Stefanus-Martir yang kita peringati pada tanggal 26 Desember.
 Kisah Para Rasul menceritakan bahwa Santo Stefanus diangkat menjadi diakon oleh para rasul. Ia bertugas untuk melayani dan membantu para rasul dalam bentuk pelayanan nyata: mengurus orang miskin, janda dan mengajarkan iman. Terpilihnya Stefanus sebagai pelayan-diakon bagi jemaat menjadikan dia sebagai pribadi yang ber-Roh sehingga dia dapat mengadakan mukjizat dan berbicara secara bijaksana di tengah jemaat. Keberaniannya untuk menjadi pelayan, secara khusus pelayan Tuhan, memiliki konsekuensi. Karena keberaniannya untuk menjadi pelayan dan mewartakan iman, Stefanus rela menyerahkan dirinya kembali kepada Tuhan dalam peristiwa “hukuman rajam-dilempari batu sampai mati” yang diterimanya. Konon, dalam sebuah kisah diceritakan, Santo Stefanus mengampuni orang-orang yang membunuhnya; ketika dilempari batu, Stefanus berdoa, “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka”.
Stefanus yang merupakan martir pertama menjadi teladan kita dalam menghadapi orang-orang yang memusuhi kita. Ia menjadi teladan kita dalam mengampuni orang-orang yang melawan kita. Rasanya inilah panggilan Kristiani kita, yakni mewartakan kasih kepada semua orang, terlebih mereka yang pernah melukai kita, baik lahir maupun secara batin. Mewartakan kasih berarti: memberi maaf dan mendoakan teman, sahabat dan tetangga yang mungkin tindakan atau kata-katanya melukai kita. Rasanya, praksis iman itulah yang akan menjadikan suasana Natal di tahun ini menjadi nyata.

Tuhan memberkati. Amin.

La présence de Dieu qui accompagne toujours nos vies est un mystère. Sa présence réelle qu'Il soit là ou ici, nous ne pourrons peut-être...