Jumat, 18 November 2016

Orang Tuaku HEBAT!



Ada kata-kata bijak yang mengatakan demikian: “Hal-hal terbaik yang dapat orang tua berikan kepada anak-anak, selain tingkah laku yang baik adalah kenangan indah”. Kata-kata itu memuat makna mendalam yang ingin mengatakan bahwa salah satu tugas dari orang tua bagi anak adalah memberikan teladan. Keteladanan itu dikonretkan dengan menunjukkan kepada mereka cara berada dan cara hidup sebagai ayah-ibu yang baik.
Tentunya, masing-masing dari kita tahu pasti menjadi yang baik itu seperti apa. Menjadi yang baik sebenarnya mengarah pada penghadiran diri sebagai figur atau sosok yang dapat diterima. Dalam hal ini, kehadiran dan cara berada orang tua sudah sepantasnya bukan menjadi penghalang bagi perkembangan kepribadian anak, melainkan semestinya menjadi pendukung. Namun, bagaimana dengan praksisnya?
Kita tidak menutup mata bahwa menuju orang tua yang ideal, orang tua yang menjadi kebanggaan anak, bukanlah sesuatu hal yang mudah; mungkin mudah untuk diucapkan tapi sulit untuk dikonkretkan. Ada begitu banyak tantangan dan halangan – belum lagi godaan dari dalam diri – yang mengaburkan orang tua untuk menjadi “idola” anak; sebut saja misalnya dalam keteladanan hidup beriman. Banyak orang tua ingin anak mereka rajin dalam hidup beriman, yakni dengan mendorong anak untuk rajin ke Gereja; padahal mereka sendiri – sebagai orang tua – malah jarang dan sering absen ke Gereja. Bila melihatnya, patutlah jika anak tidak menunjukkan harapan orang tua sebab mereka belum melihat teladan konkret dari orang tua mereka sendiri. Di sini, orang tua tidak seharusnya menuntut anak, padahal orang tua itu sendiri tidak menunjukkan keteladanan yang diharapkan.
Kita juga patut untuk tidak hilang asa tatkala harapan untuk menjadi orang tua yang “di-idolakan” anak belum tercapai. Yang ditekankan di sini adalah kata “belum”, bukan “tidak”. Untuk itu, upaya dan usaha pencapaian penghadiran diri sebagai orang tua kebanggaan anak masih ada. Orang tua – yakni suami dan istri yang bertekad menjadi “satu” dengan konsekuensi pada tugas mendidik anak – diharap selalu memberikan teladan atau contoh konkret sebelum memerintahkan kepada anak untuk bertindak sesuatu.
Yang ditekankan di sini adalah “orang tua harus memberikan keteladanan kepada anak”. Contoh konkretnya: jika orang tua ingin anak mereka rajin ke Gereja, maka mereka harus rajin ke Gereja dulu; jika orang tua mengharapkan anak mereka tidak merokok, maka mereka harus menunjukkan bahwa mereka juga tidak merokok; jika orang tua mengharapkan anak rajin bekerja di rumah, maka orang tua juga diharap menunjukkan semangat kerja mereka.
Cita-cita semua orang tua adalah supaya anak mereka menjadi pribadi yang baik sesuai dengan harapan. Tentunya, harapan ini juga harus di-barengi dengan keteladanan dari orang tua itu sendiri. Bentuk keteladanan yang dikonkretkan pada akhirnya membuat anak bangga terhadap orang tua dengan mengakui “orang tuaku HEBAT”! Semoga Anda pun menjadi orang tua demikian.


jenli, scj

Jumat, 11 November 2016

Rp 10.000 untuk Kolekte dan Rp 1.000 untuk Jajan Ataukah Sebaliknya?


Keluaga merupakan lingkup pertama dan utama di mana anak-anak belajar untuk mendapat pendidikan serta pengalaman hidup. Tidak dapat disangkal bahwa keluarga menjadi basic atau dasar pembentukan kepribadian anak sebelum mereka mampu beradaptasi dengan baik di lingkungan luar. Korelasinya adalah bahwa jika anak sudah diajari dengan baik apa yang menjadi nilai atau norma hidup di lingkungan keluarga, maka anak pun (diharapkan) akan mampu untuk beradaptasi – menghadirkan diri – di lingkungan luar (bersosial dengan masyarakat luas). Anak pun akan dapat menyerap dan mengolah nilai-nilai hidup yang mereka temui ketika berjumpa dengan teman atau pun masyarakat.
Jika memang keluarga dapat dikatakan sebagai “tempat pendidikan awal” bagi anak-anak, maka peran orang tua sangat tepat disebut. Sebagai penanggung jawab utama dalam hidup berkeluarga, orang tua – yakni: suami dan istri – memiliki kewajiban moral untuk mendidik anak-anak sesuai dengan semangat hidup perkawinan. Salah satu bentuk konkret mendidik anak sebenarnya dapat dilakukan dengan menghadirkan diri sebagai figur yang patut diteladani dan ditiru; bukan malah sebaliknya.
Dalam keluarga, kecenderungan anak untuk meniru kebiasaan orang tua lebih besar dari pada meniru anggota keluarga lain seperti kakek, nenek atau saudara yang lain. Ini terjadi karena keberadaan orang tua menjadi sosok yang intensitas pertemuannya lebih rapat dengan mereka, terutama pada anak-anak yang masih berada di golden age zone (usia emas: 0-5 tahun). Pada tahap ini anak akan menyerap apa saja yang mereka dapat dari orang tua sebagai suatu stimulus (rangsangan), memprosesnya dalam bentuk skema dan pola informasi yang mereka bangun dalam pikiran, lalu mengeluarkannya dalam bentuk respon konkret (tindakan).
Lantas, apa contohnya? Sadarkah Anda ketika memberikan uang untuk anak Anda? Misalkan uang itu adalah sebagai berikut: Rp 10.000 diberikan untuk kolekte dan Rp 1.000 untuk jajan. Tentu anak akan meresponnya dengan menggunakan uang itu sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh orang tua. Anak tidak akan berfikir panjang mengapa jumlahnya berbeda: antara untuk kolekte dan untuk jajan. Di balik itu semua, sebenarnya orang tua memberikan pengajaran kepada anak untuk memberikan yang terbaik kepada Gereja; meski kadang orang tua tidak menyadarinya. Sisi bawah sadar anak akan merekam pengalaman itu: bahwa untuk Gereja harus lebih baik, harus lebih besar, harus yang terbaik. Inilah yang akan dipelajari oleh anak dan akan terbawa dalam pengalaman bawah sadarnya di mana pengalaman ini akan selalu mengajari dan mendorong mereka untuk memberikan diri yang terbaik bagi Gereja.
Saya yakin bahwa Anda adalah salah satu dari orang tua yang memberikan Rp 10.000 untuk kolekte dan Rp 1.000 untuk jajan. Ataukah sebaliknya?


jenli, scj

Senin, 07 November 2016

Sadar Kaya

Judul Buku     :    Sadar Kaya
Penulis            :    Mardigu WP
Penerbit          :    TransMedia Pustaka - Jakarta
Tahun Terbit  :    2015

“Aku bisa”! Seruan ungkapan itu memuat kesadaran diri bahwa tujuan atau capaian yang hendak diinginkan pasti dapat dimiliki. Itulah salah satu sisi motivasi diri yang ingin ditekankan Mardigu dalam bukunya yang berjudul Sadar Kaya. Ketika kita mengatakan bahwa “Aku Bisa”, hal itu menunjukkan kemampuan dan kapasitas diri sebagai pribadi yang memiliki kualitas. Kualitas yang dimiliki berkaitan dengan talenta atau bakat-bakat yang disadari dan dijadikan sebagai modal dalam bertindak aktif.
Ketika berbicara mengenai kesadaran diri sebagai pribadi yang kaya atau pribadi yang makmur (prosperity consciousness), seseorang diingatkan bahwa dalam diri setiap manusia – setidaknya dalam dirinya – memiliki kemampuan. Hanya saja yang patut menjadi perhatian adalah pada titik pengambilan keputusan: Apakah dia mau menggunakannya atau tidak. Seseorang yang menyadari diri sebagai pribadi yang kaya dan bernilai, sebenarnya bertitik pada orang itu sendiri, tergantung cara kerja otaknya: “Jadi, bagaimana Anda bisa memprogram otak Anda untuk menjadi orang kaya, Anda-lah yang menentukannya” (hal 1).
Kualitas pribadi yang kaya juga terletak pada kemampuan yang dimiliki untuk berfikir jauh ke depan; bahkan mampu untuk mengatasi dan mendobrak situasi sekarang menuju lebih baik. Dengan kata lain, pribadi demikian berani untuk “bermimpi”. Ia berani untuk membuat cita hidup dan itu yang akan menjadi “rel” perjalanan langkahnya. Ia meyakini bahwa dengan berani bermimpi sebenarnya ia pun sudah memulai mengubah hidup: “Impian bisa mengubah fakta, selama kamu percaya dan tidak menyerah” (hal 171).
Dalam pemrograman pikiran bawah sadar, ada satu kunci yang harus dipahami dalam cara otak bekerja. “Peranti lunak” dalam pikiran itu hanya mengenal kalimat “sekarang” atau “present tense”. Otak kecil manusia yang berada di belahan dalam, amigdala yang membuat pemrograman, tidak mengenal kata “akan”, “seandainya”, “mudah-mudahan”, “nanti” dan sebagainya. Yang dikenal adalah kekinian, sekarang. Untuk itu, pribadi sadar kaya mengetahui celah ini. Ia akan mengerjakan apa yang menjadi impian atau tujuan hidupnya, seakan ia sudah memilikinya. “Apa pun yang Anda percayai dan inginkan dalam pikiran, Anda ulangi berkali-kali bahwa Anda sudah di sana dan sudah memilikinya” (hal 183).
Buku Sadar Kaya tulisan Mardigu WP ini sangat baik dibaca untuk siapa saja yang memiliki keyakinan pada perkembangan diri. Baik untuk siapa saja karena semua orang memiliki hak untuk menyadari diri sebagai pribadi yang kaya. Hanya saja, tidak semua orang bisa menyadarinya dan butuh disadarkan oleh yang lain. 

Kamis, 03 November 2016

Anak Ribut Ketika Misa?



Mungkin bagi sebagian umat sudah menjadi hal yang lumrah ketika mendengar dan menyaksikan tingkah laku anak-anak ketika Misa sedang berlangsung. Bagi sebagian umat memandangnya sebagai hal yang wajar, sebab bagi mereka seperti itulah anak-anak. Namun ada juga sebagian umat yang memandang sangat mengganggu berjalannya Misa. Di lain pihak, bagi romo yang memimpin Misa pun kadang memiliki pandangan yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Ada romo yang bisa menerimanya dan tidak jarang juga ada romo yang menentangnya dengan keras, bahkan menyuruh orang tua untuk membawa anak mereka keluar atau diikutsertakan dalam kegiatan anak-anak (yang biasanya di paroki-paroki tertentu ada pembimbingnya sendiri).
Menghadapi hal itu, banyak orang tua merasa tertekan dan memiliki perasaan tidak enak ketika melihat anak mereka dipandang sebagai sumber “keributan” Misa. Dalam hal ini, orang tua tentu tidak dapat menyalahkan umat atau romo. Orang tua tentu tidak disarankan untuk menyalahkan anak karena pada umur itu, anak berada pada tahap perkembangan diri: melakukan partisipasi dalam pelbagi kegiatan fisik dan mampu mengambil inisiatif untuk suatu tindakan yang akan dilakukan. Pada tahap ini, anak akan lebih menghabiskan waktunya untuk melakukan gerak fisik atau pun wicara. Melalui tindakan-tindakan tersebut, mereka ingin merealisasikan apa yang menjadi kebutuhan diri; meski tak jarang membuat suasana ribut.
Banyak orang tua lebih memilih membawa anak mereka keluar dari Gereja dan momong mereka. Bahkan, ada orang tua yang memberikan makanan dan minuman kepada anak agar mereka diam-tenang. Itu semua dilakukan agar anak tidak menjadi sumber keributan dan tidak mengganggu umat lain yang sedang khusuk berdoa. Namun apa langkah itu bijak bagi perkembangan diri anak?
Sebenarnya, langkah orang tua untuk berusaha menjaga anak agar tidak ribut selama misa dengan pelbagai kegiatan yang dilakukan – seperti contoh di atas – cukup baik. Tapi hal itu tentu harus dipertimbangkan lebih lanjut: Apakah dengan mengajak mereka ke luar Gereja bisa membiasakan anak untuk menjadi pribadi yang merasa betah di dalam Gereja? Bukankan mereka nantinya malah terasing dengan kegiatan Misa itu sendiri? Apakah dengan memberikan mereka minuman dan makanan akan mendidik mereka menjadi dewasa? Bukankan hal itu malah menjauhkan pengenalan mereka terhadap pemahaman doa yang khusuk?
Salah satu tugas orang tua Katolik adalah mendidik iman anak. Dalam ranah ini, adalah tugas orang tua untuk mendampingin anak, secara khusus mengikut-sertakan mereka dalam pelbagai kegiatan rohani (misal: Misa). Maka, peran orang tua yang bijak dalam memilih solusi ketika menghadapi tahap perkembangan anak sungguh diperlukan. Di satu sisi, orang tua tidak harus selalu meng-iya-kan apa yang menjadi kehendak anak: bermain, makan, minum, ribut dan lain sebagainya. Di lain sisi, orang tua tentu juga tidak boleh mengekang apa yang menjadi kebutuhan anak. Maka, menyeimbangkan antara apa yang baik dan yang menjadi kebutuhan anak adalah langkah pilihan yang bijak.
Ketika anak ingin bermain dan ingin ke luar dari Gereja; ketika anak ingin makan dan minum ketika Misa sedang berlangsung; berhadapan dengan situasi itu, orang tua diajak untuk memilih tindakan yang bijak. Tindakan yang bijak lebih menekankan pada pertimbangan: “Apakah dengan tindakanku, iman anak akan terdidik? Apakah hal itu malah sekadar memenuhi kebutuhan mereka semata tanpa ada didikan iman?


jenli, scj

Kamis, 27 Oktober 2016

Resep 8 Keluarga Katolik Bahagia:


Cinta yang Tak Berkesudahan

Jika Anda sekarang adalah seorang suami atau istri, mari saatnya untuk bernostalgia sejenak. Masih ingatkah Anda dengan masa pacaran Anda? Bukankah pada masa itu, dunia serasa milik Anda berdua? Bukankan pada masa itu, Anda selalu berani untuk berkorban demi pasangan Anda – yang sekarang menjadi istri Anda? Pelbagai pertanyaan itu akan mengingatkan pada sebuah pengalaman mencinta; mencinta seseorang yang kini menjadi pendamping hidup dalam membangun keluarga.
 Mungkin jika bukan karena cinta, setiap dari Anda merasa sulit untuk mengerti mengapa Anda berani berkorban dan memilih pasangan hidup. Cinta menjadi dasar untuk berani memilih dan memutuskan “ya” bahwa “dia” adalah pendamping hidupku. Cinta bukan hanya sebatas kata yang tak ada daya, melainkan sebuah realitas yang memiliki daya pacu dan picu hidup berkeluarga. Jika saja semua itu tanpa didasari cinta, mungkin Anda tidak akan hidup bersama dengan suami atau istri yang sampai detik ini menjadi pendamping hidup.
Saya teringat dengan pengalaman beberapa hari yang lalu di mana saya mengunjungi kakak dari teman saya yang sedang sakit dan sedang dirawat di salah satu rumah sakit Jakarta. Memang, sakit yang diderita sungguh akut dan kemungkinan untuk hidup sangatlah kecil. Namun, saya sendiri kagum oleh ibu yang adalah istri dari kakak teman saya yang sedang sakit. Meski tidak hanya sesekali saya melihat guratan wajah kesedihan di muka ibu itu, namun saya takjub oleh penghiburan dan kesetiaan yang dibuat olehnya bagi suami tercinta: “Tetap semangat ya Pak.... besok kita pulang....”. Kata-kata pengharapan itu mungkin bagi saya hanyalah sebatas penghiburan belaka, tapi bagi sang suami, kata-kata itu menjadi motivasi untuk tenang dan bersemangat; sekalipun menahan sakit dan penyakit yang terus menggerogoti raganya.
Saudara-saudariku terkasih, adakalanya Tuhan melatih cinta Anda kepada pasangan hidup Anda masing-masing dengan jalan yang berbeda-beda; dan pengalaman tadi adalah salah satunya. Dengan caranya, Tuhan ingin melatih cinta Anda supaya tidak pupus tergerus oleh pengalaman kegundahan dan tanpa harapan. Tuhan ingin cinta pada pasangan Anda tetap terjaga dan tanpa berkesudahan.Harapannya, Anda dan pasangan hidup Anda pun demikian!


jenli, scj

Rabu, 19 Oktober 2016

Etika Umum: Kajian tentang Beberapa Masalah Pokok dan Teori Etika Normatif


Judul Buku        : Etika Umum: Kajian tentang Beberapa Masalah Pokok dan Teori Etika Normatif
Pengarang         : J. Sudarminta
Penerbit            : Kanisius
Tempat terbit    : Yogyakarta
Tahun               : 2013
Tebal buku        : 186 halaman

Etika sebagai salah satu cabang ilmu filsafat yang secara khusus mengkaji perilaku manusia dari segi baik-buruknya atau benar-salahnya tindakan manusia sebagai manusia, dewasa ini telah cukup berkembang dan memiliki pelbagai cabang atau spesialisasi. Di antara pelbagai cabang atau spesialisasi itu, secara umum dapat dibedakan dua cabang besar etika, yakni etika umum dan etika khusus. Etika umum adalah etika yang menyajikan beberapa pengertian dasar dan mengkaji beberapa masalah pokok dalam filsafat moral. Sedangkan etika khusus adalah etika yang mengkaji beberapa permasalahan moral dalam bidang-bidang khusus, misalnya: etika sosial, etika biomedis, etika bisnis, etika profesi dan etika jurnalistik.
Buku Etika Umum: Kajian tentang Beberapa Masalah Pokok dan Teori Etika Normatif merupakan sebuah karya tulis yang secara khusus membicarakan salah satu dari cabang besar dari etika, yakni etika umum. Seperti yang tertulis dari anak judul, buku ini dibagi ke dalam dua bagian utama. Bagian pertama membahas tentang beberapa persoalan pokok yang dikaji dalam etika umum. Bagian yang kedua menyajikan garis besar pemikiran beberapa teori etika normatif pokok yang berpengaruh dalam sejarah etika dan mencoba untuk memberikan tanggapan kritis atasnya.
Bagian pertama terdiri dari enam bab. Bab pertama berbicara tentang “Beberapa Pengertian Dasar dan Relevansi Etika”. Bagian ini menyajikan keterangan tentang pelbagai  pengertian dasar dalam etika dan menunjukkan relevansi untuk mempelajari etika. Bab kedua berbicara mengenai “Moralitas, Hukum dan Agama” yang menyajikan uraian penjelasan tentang norma umum dalam masyarakat. Bab ketiga menjelaskan “Relativisme Moral” sebagai salah satu aliran pemikiran yang belakangan ini cukup memberikan pengaruh terhadap perkembangan konsep etika. Bab keempat menyajikan pembahasan tentang “Kebebasan dan Tanggung Jawab Moral”. Bagian ini memberikan konsep pemikiran bahwa pengertian ‘tanggung jawab moral’ mengandaikan adanya kebebasan dari pelaku tindakan moral. “Suara Hati” menjadi pokok pembahasan dalam bab kelima. Bab ini menjelaskan apa itu suara hati, manakah ciri pokok yang menandainya serta bagaimana cara dan mengembangkannya. Bagian pertama dalam buku ini ditutup dengan bab yang keenam. Bab keenam mengkaji tentang “Tahap-tahap Perkembangan Kesadaran Moral munurut L. Kohlberg”.
Bagian kedua dalam buku ini secara khusus membahas beberapa teori etika normatif yang berpengaruh dalam sejarah etika. Bagian kedua ini mengulas tentang enam teori etika normatif dan dicoba untuk dijelaskan serta ditunjukkan, baik kekuatan maupun kelemahannya. Enam teori etika normatif itu adalah: 1) Egoisme etis sebagai paham yang menilai baik-buruknya perilaku orang dari apa yang paling menguntungan atau menunjang pengembangan dirinya sendiri sebagai individu; 2) Eudaimonisme atau paham yang menekankan pencarian kebahagiaan sebagai tujuan hidup manusia; 3) Utilitarianisme atau paham yang dalam melakukan penilaian moral menekankan keuntungan yang lebih besar bagi semakin banyak orang; 4) Teori etika deontologis dari Immanuel Kant yang mendasarkan penilaian moral pada motif dasar sikap hormat terhadap kewajiban atau hukum moral yang secara mutlak mengikat manusia sebagai makhluk rasional dan otonom; 5) Teori etika nilai dari Max Scheler yang menggarisbawahi sumbangan dan kelemahan etika deontologis Immanuel Kant; 6) Etika keutamaan, dari model Aristoteles dan Thomas Aquinas, yang mengutamakan kualitas kemanusiaan berikut watak luhur yang layak untuk menjadi cita-cita. Bagian kedua dalam buku ini ditutup dengan bab yang kedelapan sebagai penyimpulan dari pelbagai teori etika normatif yang dibahas dalam bab-bab sebelumnya. Bab kedelapan ini juga memuat beberapa prinsip moral dasar yang layak diperhatikan dalam menilai moralitas suatu tindakan atau kebijakan serta menilai baik-buruknya perilaku manusia sebagai manusia.
Buku ini sungguh memberikan sumbangan khusus karena mengantar pembaca ke pelbagai persoalan pokok yang dikaji dalam etika umum. Selain itu, buku ini juga memperkenalkan teori-teori etika normatif kepada pembaca yang dalam perjalanan sejarah filsafat banyak dirujuk untuk menilai moralitas suatu tindakan atau kebijakan. Tanggapan penulis pada setiap akhir kajian tentang etika normatif diharapkan dapat merangsang pembaca untuk secara kritis mengambil butiran gagasan yang disumbangkan oleh setiap teori pembahasan dan sekaligus melihat keterbatasannya.
Pada akhirnya, buku ini sungguh sangat berguna bagi siapa saja yang menaruh perhatian terhadap pemikiran etika. Harapannya adalah bahwa buku ini menyediakan ‘alat intelektual’ bagi pembaca untuk menganggapi masalah-masalah moral baru yang muncul sebagai dampak modernisasi dan perkembangan pesat ilmu pengetahuan serta teknologi.




Resep 6 Keluarga Katolik Bahagia:


MEMAAFKAN

Sebagai manusia, kita sadar bahwa Allah menciptakan kita sebagai citra-Nya. Keadaan ini tidak ingin mengatakan bahwa kita sudah seperti Dia. Keadaan ini juga tidak ingin mengatakan bahwa kita – sebagai manusia – adalah ciptaan yang sepadan dan bahkan berani untuk menyamakan diri dengan-Nya. Kesadaran bahwa kita, sebagai manusia adalah ciptaan-Nya, semestinya mengantar pada pemahaman bahwa Dia itu Pencipta; dan kita adalah ciptaan-Nya. Maka, kita bukanlah tuhan sebagaimana Dia yang sempurna ada-Nya; tapi kita tidak terbebas dari segala kecacatan dan kerapuhan.
Manusia jika ditilik dari sisi duniawi adalah makhluk yang sangat rapuh. Kerapuhannya terletak pada kelemahan dan kecenderungan terhadap prilaku dosa. Kita mengamini bahwa Iblis diciptakan dan memilik misi untuk menggiring manusia agar bertindak dosa. Dan..., karena kerapuhannya, manusia kadang terpengaruh serta terperosok dalam hidup penuh kedosaan.
            Dari dua poin di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan, yakni: meski manusia dicipta sebagai citra Allah, tapi karena kerapuhannya, manusia masih tetap bisa jatuh ke dalam dosa. Salah satu identifikasinya adalah manusia tidak lepas untuk dapat berlaku salah atau melakukan kesalahan.
Sebagai umat Katolik, kita semakin sadar bahwa kita memiliki sifat manusiawi untuk berlaku salah: saling menjatuhkan; melakukan kegagalan; berlaku tidak sesuai dengan kaidah yang ditetapkan. Kecenderungan dan kenyataan berbuat salah rasanya tidak hanya kita temukan dalam lingkup masyarakat luas, tetapi juga dalam keluarga kita masing-masing. Memang, Tuhan menginginkan agar setiap umat-Nya berlaku sempurna “seperti Bapa sempurna”. Namun, kenyataan hidup berkata beda. Keluarga yang seharusnya menjadi paguyuban damai kadang dan bahkan sering ternodai oleh konflik yang berakar pada kesalahan yang telah dibuat; entah konflik antara suami-istri maupun antara orang tua-anak.
Meski demikian, kita harus sadar bahwa kesalahan dalam keluarga adalah sesuatu yang manusiawi dan wajar. Sekarang yang diperlukan adalah kesedian setiap pribadi untuk berani memaafkan; memaafkan anggota keluarga yang telah berbuat salah. Harapannya, keluarga Anda pun demikian!


jenli, scj

La présence de Dieu qui accompagne toujours nos vies est un mystère. Sa présence réelle qu'Il soit là ou ici, nous ne pourrons peut-être...