Senin, 27 Februari 2017

“Sana..., keluar...!”


Tahukah Anda, bagaimana rasanya jika disuruh dosen keluar (ruangan) ketika ujian semester lisan? Jawaban pertanyaan itu mengingatkanku pada sebuah pengalaman. Pengalaman itu adalah ketika berhadapan dengan dosen Hukum Perkawinan dalam sebuah ujian lisan.
Hukum Perkawinan adalah salah satu mata kuliah dalam semester enam di fakultas kami, Fakultas Teologi – Universitas Sanata Dharma. Ada yang menarik dan sekaligus menakutkan bila berbicara tentang mata kuliah ini. Dosennya diampu oleh salah satu romo projo Keuskupan Agung Semarang; sebut saja Romo Ruki namanya.
Jika dipandang, raut mukanya menandakan bahwa ia humoris. Rambutnya selalu disisir rapi. Tatapan matanya terasa bersahabat; dan kalau bicara nadanya rendah membuat perasaan tenang. Tapi siapa sangka bahwa dia dikenal sebagai dosen killer ketika menguji mahasiswa.

Saat ujian
Mendengar omongan mengenai ujian lisan Hukum Perkawinan membuat nyaliku menjadi ciut. Kata beberapa kakak kelasku, tidak sedikit mahasiswa yang harus mengulang ujian. Alasannya adalah sama, yakni banyak mahasiswa sudah takut duluan sebelum mengikuti ujian.
Ada kakak kelas yang mengatakan, “Romo Ruki itu pintar untuk membuat bingung ketika ujian”.
Kakak kelas yang lain mengatakan, “Romo Ruki itu, sulit ditebak. Ia kadang setuju dengan jawaban mahasiswa, tapi ternyata mahasiswa yang bersangkutan itu salah dan harus ujian ulang. Kadang ia tidak setuju, tapi ternyata itu jawaban yang benar”.
Yang lain lagi menambahkan, “Pokoknya dengan Romo Ruki itu banyak yang her (ujian ulang)”.
Teringat sore itu, aku harus berhadapan dengan Romo Ruki. Untuk persiapan, segala jurus sudah kusiapkan. Mulai dari menghafal nomor kanon hingga bagaimana menjawab pelbagai pertanyaan yang diprediksikan bakal ditanya.
Ketika kaki masuk ruangan, kulangkahkan dengan tegas. Dengan begitu aku ingin mengatakan bahwa telah siap untuk ujian; dan mentalku tidak ciut meski berhadapan dengan Romo Ruki sekalipun.
“Jen...,” nada sapaannya padaku yang menandakan bahwa aku dipersilahkan untuk duduk di kursi eksekusi.
Baru beberapa detik setelah duduk, Romo Ruki menyodorkanku satu kasus umat. Dari kasus itu, pertanyaan utama yang harus kujawab adalah: “Apakah pasangan itu dapat menikah dalam Gereja? Jika bisa, apa alasannya; jika tidak, apa alasannya”.
Namun dengan melihat kasus dan menganalisanya, aku yakin bahwa pasangan yang menjadi pembicaraan utama dalam soal itu dapat menikah dalam Gereja Katolik. Atas dasar itu, aku menjawab, “Bisa, Mo”.
“Opo (apa) dasarmu...?”, tanya Romo Ruki.
“Berdasarkan kanon ini, Mo... (sambil menyebut beberapa kanon dalam Kitab Hukum Kanonik/KHK)”, jawabku membela.
Selain menunjukkan beberapa kanon, aku juga menyebut beberapa dokumen Gereja.
Namun, dengan nada rendah dan tatapan mata yang tajam, Romo Ruki meminta ketegasanku, “Ah... tenane (apa benar)...”?
Mendengar itu aku merasa bimbang; bimbang pada jawabanku yang mengatakan bahwa pasangan itu dapat menikah secara Katolik.
“Apa jawabanku salah ya, sehingga Romo Ruki bertanya demikian?”, tanyaku dalam hati.
“Mungkin benar..., jawabanku kurang memuaskan, atau bahkan malah salah....”, yakinku dalam hati.
Sontak aku langsung terdiam sambil mencari argumen lain sebagai dasar jawabanku. Namun belum lama aku membolak-balik halaman KHK, Romo Ruki berkata padaku, “Wes (sudah)..., sana..., keluar! Jawabanmu mbulet ra jelas (berputar-putar tidak jelas)!”.
Perkataan Romo Ruki begitu tegas menghantam gendang telinga hingga membuatku bimbang dan tanpa harapan.
“Aku pasti her... ujian ulang!”, kataku dalam hati.
Detak jantung terasa begitu hebat. Panas tubuh serasa naik di atas 35 derajat celcius. Aku sungguh takut pada saat itu juga.
“Wah... berarti saya harus ketemu lagi di semester depan ya, Romo?”, tanyaku memastikan apakah aku akan ujian ulang atau tidak.
“Ya..., ketemu lagi!”, jawab Romo Ruki.
“Berarti saya pulang tanpa damai ya...?” tanyaku kemudian.
“Tanpa damai..., sana..., keluar!”, jawab dan perintahnya dengan nada tinggi.  
Aku pun langsung keluar dari ruangan ujian itu tanpa harapan dan kepastian.
“Aku pasti ngulang...”, gumamku dalam hati.

Menanti kepastian dalam ketidakpastian
Jujur, selama ini aku tidak pernah ujian ulang. Bahkan nilai ujian semesterku selama ini selalu baik. Untuk itu, sejauh mungkin aku berusaha agar ujian ulang tidak pernah kualami .
Pengalaman setelah ujian Hukum Perkawinan menjadi pengalaman khusus. Aku tidak tahu dengan pasti apakah aku akan ujian ulang atau tidak. Memang, aku berharap bahwa aku terhindari dari “bencana” itu. Tapi kemungkinan itu tetap ada. Apalagi jika mengingat kata-kata terakhir Romo Ruki: “Tanpa damai..., sana..., keluar”!
Menanti pengumuman nilai Hukum Perkawinan diumumkan adalah masa menanti kepastian dalam ketidakpastian. Dalam masa penantian ini, aku rajin untuk pergi ke ruang sekretariat dan bertanya kepada Mas Wawan, karyawan kampus yang mengurusi pelaporan nilai para mahasiswa. Aku selalu mencari tahu apakah nilai dari Romo Ruki sudah keluar. Hampir setiap hari aku melakukannya.
Hingga jelang beberapa hari kemudian, aku melihat bahwa Romo Ruki tengah masuk di ruang sekretariat. Dari tempatku duduk, dari balik jendela kaca transparan, aku melihat bahwa ia bertemu dengan Mas Wawan.
“Pasti Romo Ruki menyerahkan nilai ujian kepada Mas Wawan...”, terkaku dalam hati.
Jika memang itu yang terjadi, aku sendiri merasa takut untuk bertanya kepada Mas Wawan. Rasa takut itu muncul karena, entah mengapa, ada keyakinan diri bahwa aku ujian ulang.
“Ton..., kayaknya (sepertinya) Romo Ruki menyerahkan nilai kepada Mas Wawan tuh...”, kataku pada Anton, salah seorang teman yang juga tengah menanti pengumuman nilai Hukum Perkawinan.
“Sana Ton..., tanya ya. Siapa tahu bahwa Romo Ruki benar telah menyerahkannya. Emm..., sekalian tanyakan pada Mas Wawan ya, berapa nilaiku”, pintaku pada Anton untuk datang kepada Mas Wawan.
Aku senang ketika Anton melangkah kakinya menuju ke ruangan Mas Wawan. Sungguh, suasana hati saat itu terasa dag, dig, dug. Suasana hati semakin tak menentu ketika aku melihat Anton bertemu dengan Mas Wawan.
Memang sebelumnya aku telah banyak cerita padanya bahwa aku pasti ujian ulang untuk mata kuliah Hukum Perkawinan. Untuk menghibur, ia selalu menyakinkanku bahwa aku tidak akan her.
Anton tahu pasti bagaimana perasaanku saat itu. Mungkin ia mengerti mengapa aku tidak ikut bersamanya untuk bertanya langsung soal nilai Hukum Perkawinan, jika memang itu sudah ada.
Tak lama aku menunggu. Hingga, ia berjalan kembali ke tempat kami duduk bersama. Dari kejauhan Anton terlihat berjalan ke arahku. Ia rasanya melihat dengan jelas ratapan wajahku yang penuh harap akan pengumuman nilai itu.
Langkahnya semakin mendekat, meski masih jauh. Lantas aku pun bertanya padanya dengan gerak mulut tanpa suara, “Piro (berapa) nilaiku....”?
Anton tahu bahwa yang aku tanyakan padanya adalah tentang nilai Hukum Perkawinan.

Sebuah kepastian
Dari kejauhan, Anton tersenyum padaku. Dalam hati, aku bertanya-tanya, “Apa dia tersenyum karena aku tidak her, atau bahkan sebaliknya? Ia tersenyum supaya aku tidak sedih karena aku harus ujian ulang?”
Tanya dalam hati mendapat jawabnya. Dengan menggunakan jari-jari kedua tangan, ia sebanyak dua kali memperlihatkan padaku. Pertama, ia menunjukkan jumlah jari “tujuh”; dan pada kali yang kedua, ia menunjukkan jumlah jari “enam”.
“Tujuh koma enam...?”, tebakku dalam hati.
Ketika Anton semakin mendekat, aku langsung bertanya padanya, menegaskan apa yang ia katakan melalui jari-jari tangannya tadi.
“Apa Ton..., nilai Hukum Perkawinanku tujuh koma enam?”, tanyaku tegas.
“Iya Jen..., kamu dapat nilai tujuh koma enam. Selamat ya.... Benar kan, kamu nggak her. Selamat ya”, katanya dengan nada tenang dan menyejukkan.
Serasa tidak percaya namun tercampur dengan rasa senang dan bahagia, aku sungguh merasa menjadi pemenang pada saat itu. Kuakui, Romo Ruki memang jago dalam “membolak-balik” jawaban mahasiswa ketika ujian. Itu aku alami sendiri, meski jawabanku sebenarnya benar. Peristiwa ini aku maknai sebagai pengalaman untuk berani tegas dan teguh pada pendirian, sekalipun ada yang mencoba untuk menyangsikannya.
Terima kasih, Romo Ruki!


jenli imawan, scj





Bukan Aku Yang Menyuapi, Tapi Dia


“Keinginan untuk menyuapi merupakan rasa spontan
yang muncul ketika aku melihatnya sedang sarapan....”
-- catatan harian di hari keenam --

Kebersamaan dengan yang lain memungkinkan adanya perjumpaan. Setiap perjumpaan memiliki keberagaman sikap dan tindakan seturut dengan suasana hati yang menjadi inti dari hidup yang bermakna. Perjumpaan dengan seorang kakek di Rumah Sakit Palang Biru – Gombong (Jawa Tengah) adalah pengalamanku. Pengalaman itu adalah bagian dari live in yang diadakan oleh Fakultas Teologi – Sanata Dharma, untuk menunjang mata kuliah Proyek Harapan.
Bila ditanya siapa nama kakek itu, aku tidak ingat! Namun ada beberapa hal yang masih tertinggal dalam ingatanku tentangnya. Ia berumur tujuh puluh dua tahun. Selama masa muda, ia mengabdikan diri sebagai pengajar, khususnya sebagai guru agama Budha. Keahliannya dalam dunia pendidikan menjadi bekal untuk mencari rejeki. Ia bekerja sebagai guru di sebuah propinsi yang terkenal karena keindahan danaunya, Danau Toba.
Sumatera Utara, propinsi itu merupakan tempat perantauan dan lahan mata pencaharian untuk menghidupi istri serta anak-anaknya yang berada di Jawa. Perjuangannya di tanah rantau menandakan bahwa ia adalah seorang kepala keluarga yang bertanggungjawab. Menjadi tenaga pengajar telah dilaluinya selama belasan tahun. Kesempatan untuk berlibur ke tanah Jawa tentunya tidak sering dialami. Namun, kerinduan untuk bercengkerama dengan keluarga membulatkan tekad untuk selalu berlibur ke Jawa, sekurang-kurangnya tiga bulan sekali.
Kini si kakek telah lanjut usia. Umurnya sudah tidak lagi muda. Kerapuhan tubuh yang sekarang dialami membuatnya terbaring tak berdaya di salah satu sudut rumah sakit. Tak banyak kata yang keluar dari mulutnya sebab yang ada hanya kepasrahan pada Sang Kuasa dan kerelaan hati orang-orang sekitar yang menjaga.

Hari keenam
Di awal hari, hari keenam dalam live in, aku mengunjungi si kakek. Ia terbaring dan menunggu sarapan yang akan diantar oleh petugas rumah sakit. Dalam ruangan itu, ia ditemani istri dan adik iparnya. Perjumpaan di pagi itu mengarahkan pandanganku kepada keadaan si kakek.
Saat aku sedang berbicara dengan istri dan adik iparnya, kakek itu terbujur lemas dan berbaring menghadap ke kiri. Pikirku saat itu adalah bahwa ia mungkin sedang tertidur. Untuk itu, kugunakan waktu kunjungan dalam sebuah pembicaraan dengan istri dan adik iparnya.
Tak terasa hampir lima belas menit berlalu di mana kami larut dalam pembicaraan. Tiba-tiba terdengarlah pintu kamar yang diketuk; dan masuklah seorang petugas rumah sakit yang membawakan piring rantang. Dengan segera istri si kakek menerima dan menaruhnya di meja, tepat di sebelah tempat tidur suaminya. Ia kemudian membuka piring rantang itu dan melihat bahwa menu sarapan suaminya adalah bubur nasi. Kemudian ia membuka lemari pasien dan mengambil botol plastik kecil.
Sempat aku bertanya, “Apa isi botol itu, mbah?”
Kemudian dijawabnya bahwa botol itu berisi kecap. Kecap itulah yang kemudian ia campurkan dengan bubur nasi agar dapat memberikan rasa.
Sarapan telah siap! Ia kemudian menyajikannya kepada si kakek. Aku terkejut ketika ia hanya menaruh piring rantang yang berisi bubur nasi dan sendok di tempat tidur si kakek.
“Lantas, siapa yang akan menyuapinya?”, tanyaku dalam hati.
Keterkejutan itu semakin menjadi ketika aku melihat gerakan tubuh si kakek. Ia membalikkan badannya ke kanan dan berusaha mengambil bubur nasi dengan sendok serta memasukkannya ke dalam mulut.
Saat itu merasa trenyuh dan bertanya-tanya tentang sikap nenek, istri si kakek, yang membiarkannya begitu saja: “Kenapa ia tidak menyuapinya?; Bukankah si kakek membutuhkan pertolongan?; Kenapa ia meninggalkan suaminya dan sibuk dengan membereskan barang-barang di lemari?”
Aku tertegun melihat situasi itu. Rasa kemanusiaanku membawa pada kesadaran bahwa setiap orang yang kuat dan sehat harus membantu sesama yang membutuhkan. Kiranya prinsip ini merupakan prinsip kemanusiaan yang secara umum telah dikenal.
Kesadaran itu kemudian menyentuh hatiku dengan bertanya, “Apa yang dapat kamu lakukan untuk si kakek, Jen”?
Tanpa sepengetahuan si nenek, yang saat itu sedang sibuk membereskan barang-barang di lemari, aku kemudian membantu si kakek. Tahu bahwa aku akan membantunya, ia meletakkan sendok yang saat itu di tangan kiri dan memberikan kesempatan padaku untuk menyuapinya. Betapa senangnya hatiku ketika melihat si kakek memakan setiap sendokan bubur yang kusuapkan.
Setelah beberapa kali kuberikan suapan, istri si kakek melihat. Ia kemudian berkata dan memintaku untuk tidak melanjutkan karena (baginya) si kakek dapat melakukan sendiri: “Biar Mas…, ia bisa melakukannya sendiri koq…. Sudah Mas…sudah…”! Karena ia melihat bahwa aku tidak menghiraukan perkataannya, ia meminta dengan sangat untuk memberikan sendok dan kemudian menyuapi si kakek. Mungkin karena merasa malu bahwa aku menyuapi si kakek, sedangkan ia sendiri sibuk dengan hal-hal lain, maka ia melakukannya. Namun bagiku, jika nenek,  istri si kakek tidak menyuapi, aku siap untuk melakukannya.

Bukan aku yang menyuapi, tapi dia
“Keinginan untuk menyuapi merupakan rasa spontan yang muncul ketika aku melihatnya sedang sarapan. Betapa tidak kasihan (si kakek), ketika mbah putri (istrinya) hanya meletakkan piring rantang yang berisi bubur nasi dan membiarkan si kakek makan dengan cara memiringkan tubuhnya?”, itulah catatan harian yang kutulis atas pengalaman perjumpaan dengan si kakek.
Catatan harian dalam masa live in di hari keenam tersebut membawaku pada sebuah pengalaman hidup yang bermakna. Pengalaman itu menatapkanku pada sebuah realitas kerapuhan manusiawi yang menggerakkan sisi kemanusiaan. Derita sakit yang dialami si kakek sungguh menggerakkan hatiku – sebagai sesamanya – untuk berbuat sesuatu.
Mungkin pilihan tindakan dengan menyuapi si kakek adalah tindakan yang sederhana. Namun di balik kesederhanaan itu, aku memaknainya sebagai sesuatu yang luar biasa. Sebenarnya, si kakek sendirilah yang “menyuapiku” dengan sebuah nilai kehidupan. Ia menyadarkanku untuk berani memberikan hati kepada sesama yang membutuhkan. Bisa jadi karena pelbagai kesibukan dalam keseharian telah menutup rasa kemanusiaan dalam hatiku; dan sekarang hatiku diketuk dengan kehadirannya. Kehadiran dengan kerapuhan tubuhnya telah menghantarkanku pada sebuah pemaknaan hidup sebagai sesama bagi yang menderita.
Ya…, sesungguhnya bukan aku, tapi dia, si kakek yang “menyuapiku”.


jenli imawan, scj





“Ti-ti-ti-ti-tit...”, telepon berbunyi lagi


Jika ada orang yang berkali-kali menelepon HP (handphone) atau telepon rumah Anda, harap hati-hati. Mungkin ada orang yang ingin mengerjai Anda. Rasanya pengalaman itulah yang terjadi pada Sigit, kakak kelasku.
Sore itu, tepatnya pukul 17.15 WIB, kami larut dalam obrolan dan santai bersama. Suasana senja dengan sinar matahari yang mulai meredup mewarnai obrolan di teras depan kamarku, tepat di sebelah telepon rumah terletak.
Sembari memegang HP komunitas dan melihat-lihat apakah ada SMS yang masuk, aku larut dalam obrolan. Selain aku, di situ ada Sigit dan Heru; keduanya adalah kakak kelasku.
Di tengah obrolan, terbesit ide jahil dalam pikiran.
“He...he..., aku akan menelepon telepon rumah dengan HP yang kupegang. Pasti Sigit akan ngangkat, terus akan kumatikan lagi. Terus akan telepon lagi; dan Sigit pasti akan ngangkat lagi... dan seterusnya..... Pasti seru deh....!”, bisikku dalam hati sambil senyum-senyum. 
Untuk menjalankan ide itu, aku sendiri lupa berapa nomor telepon rumah.
Supaya menghilangkan curiga, aku pura-pura masuk ke kamar sebentar. Di kamar aku mencari buku Elenchus yang di dalamnya tercatat nomor telepon rumah VVP.
“Ini dia... 0724 588700”, kataku dalam hati sambil mengetik angka-angka itu ke dalam HP.
Ketika keluar kamar, sambil nggabung lagi dalam obrolan, kutelepon nomor itu dari HP.
“Ti-ti-ti-ti-tit....”, suara telepon rumah, tepat di sebelah Sigit berbunyi dengan keras.
Serentak Sigit langsung meninggalkan kami dan mengangkatnya. Ketika ia akan mengangkat, aku langsung mematikan “panggilan” dalam HP yang kupegang.
“Ha...ha.... kenaaaa....”, tawaku dalam hati.
Tahu bahwa panggilan itu tidak jadi, Sigit pun kembali bergabung dengan kami.
Baru saja ia bergabung, aku pun menelepon lagi.
“Ti-ti-ti-ti-tit....”, suara telepon rumah berbunyi kedua kalinya.
Mendengar itu, Sigit kembali ingin mengangkat. Ketika ia akan mengangkat, lagi-lagi kumatikan “panggilan” dalam HP.
“Ha... ha... ha ....”, tawaku lagi dalam hati.
Seperti yang pertama, Sigit pun kembali bergabung dengan kami.
Namun untuk yang ini, ia bertanya dengan nada tinggi, “Sopo yo...?”
Mungkin pertanyaannya itu memuat perasaan jengkel.
Tahu situasi itu, aku pun kembali menelepon untuk ketiga kalinya.
“Ti-ti-ti-ti-tit....”, suara telepon rumah berbunyi ketiga kalinya.
Dipenuhi rasa penasaran dan jengkel, Sigit pun berlari dan langsung mengangkat telepon dengan begitu cepat.
Tahu itu, aku pun langsung segera  mematikan “panggilan” HP yang kupegang.
Karena tidak kuat menahan tawa dalam hati, aku pun langsung mengaku, “Ha... ha... ha...., kui aku seng ket mau nelpon (itu aku yang menelepon sejak tadi)...”!
“Asem tenan (sekali)...!”, umpat Sigit setelah tahu bahwa dirinya kukerjai.
Suasana obrolan pun semakin “renyah” hingga waktu menunjukkan hampir pukul 18.00 WIB. Kami mengakhiri obrolan itu. Aku bergegas mandi dengan perasaan “menang” atas kejahilanku.


jenli imawan, scj


Asem tenan...!

Bagaiamana rasanya jika dikerjai oleh teman? Mungkin tidak sedikit dari kita yang pernah mengalaminya. Begitu juga denganku.
Pagi itu, aku telah siap untuk berangkat kuliah. Tas berisi buku yang kupersiapkan semalam, kini akan kubawa. Seperti biasa, aku menambah isi tas dengan termos air, yang berisi kopi hangat, dan botol air minum. Pikirku, meski tas agak sedikit berat karena ditambah dua wadah minuman, namun dua minuman itu akan menjadi teman sepanjang kuliah. Maklum, kuliah di hari itu sampai siang.
Kukayuh sepeda bersama salah satu teman angkatan. Jarak yang harus kami tempuh untuk sampai di kampus, kurang lebih lima kilometer. Waktu yang dibutuhkan sekitar sepuluh menit; malah bisa kurang dari itu jika bersepedanya tidak dengan santai.
Sesampainya di lingkungan kampus, kami pergi ke sudut belakang. Di sana ada sebuah bangunan kayu yang didirikan di atas kolam ikan. Bagi kami, itu menjadi tempat pertama sebelum memasuki area parkir kampus. Mengapa? Karena di situ kami dapat beristirahat sebentar, minum dan ambil nafas setelah perjalanan yang kadang melelahkan.
“Akhirnya sampai...”, gumamku sambil turun dari sepeda.
Bersama dengan temanku tadi, kami memulai ‘ritual istirahat’ sebagaimana dengan hari-hari biasanya.
Setelah istirahat sejenak, aku terasa haus dan ingin meneguk air minum.
“Hmmm..., pasti tambah segar nih setelah minum”, kataku dalam hati.
Maka, kubuka tas untuk mengambil botol air minum. Tapi, apa yang terjadi? Terlihat dengan jelas, tasku menjadi penuh; penuh bukan karena buku-buku atau dua wadah air tadi, melainkan beberapa ‘barang-barang asing’.
“Asem tenan (sekali)..., aku dikerjai...!”, umpatku dalam hati.
Betapa jengkel rasanya setelah melihat beberapa ‘barang asing’ yang memenuhi tas.
“Wah jannn..., ada piring dan gelas plastik, toples plastik, kain lap dan sulak...”, kataku dalam hati sambil mengamati isi tas.
Sungguh, sejak berangkat dari rumah, aku tidak menaruh curiga sama sekali bahwa akan ada orang yang akan mengerjai.
“Siapa ya kira-kira yang memasukkannya, hmmm...?”, tanyaku dalam hati sambil menerka pelaku di balik peristiwa itu.
Aku berusaha menutupi kejadian itu agar orang lain tidak tahu. Sebab jika yang lain tahu pasti akan menjadi bahan tertawaan.
Sambil terus mencari siapa pelakunya, ada niat jahat muncul, “Awas... tunggu pembalasanku!”.


jenli imawan, scj

Jumat, 24 Februari 2017

Judul Buku     :    Vocation Management: Opening Heart to Life Transformation, Revolusi Mental, Seni Berperang Mengalahkan Diri Sendiri
Penulis            :    Andreas Hartono
Penerbit          :    Sinergi Aksara - Jakarta
Tahun Terbit  :    2016

Dalam buku ini, Andreas Hartono menyajikan kepada para pembaca informasi yang dijadikan sebagai “amunisi” untuk melakukan peperangan mengalahkan diri sendiri. Memahami strategi peperangan mengalahkan diri sendiri, pertama-tama harus mendalami beberapa pandangan filosofis yang selanjutnya diinternalisasikan ke dalam diri. Dua pandangan filosofis yang dijadikan pijakan adalah: 1) Manusia bukanlah makhluk fisik yang mengalami pengalaman spirit tetapi manusia adalah makhluk spirit yang mengalamai pengalaman fisik; 2) Siapapun dan apapun yang dapat menyakiti hati atau melukai hati kita, dia adalah guru spiritual kita (hal. 2).
Pada bagian awal, penulis menjelaskan bahwa apapun kepercayaan atau agama kita, kita semua dipanggil Tuhan untuk melakukan sesuatu sepanjang hidup agar spirit kita bisa tumbuh dewasa sehingga layak untuk bersama kembali dengan-Nya. Untuk mendukung tugas pelaksanaan panggilan Tuhan, penulis mengajak pembaca untuk menggunakan potensi diri yang telah diberikan Tuhan, yakni kecerdasan emosi dan spiritual (yang dibahas dalam bab Tiga). Panggilan untuk melaksanan sesuatu sepanjang hidup harus dibekali dengan “kecerdasan yang memampukan seseorang untuk mengenali, menyadari, merasakan dan mengalami adanya pertalian antara pikiran, perasaan, tubuh dan spirit serta kesanggupan untuk melakukan pemulihan keterhubungan kembali untuk mendewasakan spirit-nya” (hal. 107).
Setelah memberikan informasi yang menjadi bahan pijakan pengenalan diri yang mendalam, pada bagian selanjutnya penulis menjelaskan tentang transformasi diri. Tidak hanya menjelaskan pada tataran teori, penulis juga menyampaikan contoh kasus bagaimana proses transformasi diri itu berlangsung dan menyampaikan bukti bagaimana kecerdasan emosional maupun kecerdasan spiritual, berproses dalam diri seseorang.
Selanjutnya, pada bab-bab akhir, disajikan tentang kemanfaatan vocation management dalam pelbagai keperluan dan ragam kehidupan: rumah tangga, sekolah, dunia kerja dan lainnya. Pada bagian terakhir, penulis menyajikan artikel yang bertajuk “Indonesia Generasi Baru” sebagai puncak mimpi dan cita-citanya. Itulah mimpinya, mimpi yang hendak diwujudkan sebagaimana yang dikatakan oleh Walt Disney: “If you can dream it, you can do it”. Selogan itu ingin mengajak penulis sendiri dan para pembaca untuk memiliki niat bersama: “Setelah kita bermimpi bersama maka selanjutnya kita harus mulai memikirkan, merenungkan, merencanakan dan bahkan melakukan kegiatan untuk mewujudkan mimpi besar itu” (hal. 278).
Siapapun Anda, apa pun kedudukan Anda dalam lingkungan masyarakat dan jabatan apa pun dalam korporasi, apabila Anda ingin lebih maju dalam memahami dan mengembangkan diri, sangat baiklah jika meluangkan waktu sejenak membaca buku ini. Keputusan itu sangat membantu penulis untuk meneruskan “mimpi besar” tidak hanya pada tataran teoritis, tapi sampai pada tataran praksis.

Jadilah pelopor yang ber-revolusi mental dengan opening heart to life transformation.

Rabu, 22 Februari 2017

Keluarga sebagai Gereja Rumah Tangga

Konsili Vatikan II menamakan keluarga sebagai Ecclesia Domestica (Gereja rumah tangga). Keluarga sebagai Gereja rumah tangga adalah tempat Yesus Kristus hidup dan berkarya untuk keselamatan manusia dan berkembangnya Kerajaan Allah. Dalam pandangan ini, Gereja dipahami sebagai tempat perwujudan konkret iman di mana yang menjadi pelaku utamanya adalah setiap anggota keluarga yang tinggal di dalamnya. Keluarga sebagai Gereja rumah tangga memiliki beberapa tugas dan peran, di antaranya adalah sebagai berikut.
Membangun persekutuan cinta di antara pribadi-pribadi dalam keluarga. Dalam membangun dan menjalani hidup berkeluarga tidak lepas dengan realitas yang satu ini, yakni masalah. Banyak kasus menunjukkan bahwa ada begitu banyak keluarga Katolik yang kandas karena tidak mampu menghadapi dan menyelesaikan permasalahan keluarga. Masalah-masalah yang muncul dalam hidup keluarga sebenarnya menjadi kesempatan untuk semakin mengasihi atau memperdalam kasih antara antar anggota keluarga. Namun sayangnya, banyak yang lupa akan hal ini. Bukankan dengan ada masalah-masalah itu, akan menjadi nyatalah peran setiap anggota keluarga untuk mewujudkan semangat kasih dengan menghormati dan mengampuni? Di sinilah sebenarnya letak perwujudan keluarga sebagai persekutan cinta.
Memberikan pendidikan iman yang baik kepada anak-anak; demikian yang ditekankan dalam Katekismus Gereja Katolik. Dalam artikel 2226 dijelaskan:  “Pendidikan iman oleh orang tua sudah harus mulai sejak masa anak-anak. Ia mulai (dikenalkan) dengan kebiasaan bahwa anggota-anggota keluarga saling membantu, supaya dapat tumbuh dalam iman melalui kesaksian hidup yang sesuai dengan Injil.” Orang tua memilii peran dalam memberikan semua pokok iman yang anak butuhkan untuk pencapaian kedewasaan pribadi secara Kristiani. Pokok iman yang diberikan hendaknya sampai menyentuh inti iman: pengenalan terhadap Yesus Kristus sebagai Juru Selamat dan bagaimana mewujudkan apa yang diajarkan-Nya – yakni ajaran kasih – dalam kehidupan nyata.
Orang tua juga perlu untuk menyadari tugas mereka dalam menjalankan fungsi keluarga: mempersiapkan, memelihara dan melindungi berbagai panggilan yang ditumbuhkan Allah dalam diri anak-anak mereka. Perlu pagi orang tua mengenalkan panggilan hidup Kristiani, tidak hanya pada panggilan hidup berkeluarga, tetapi juga ada panggilan hidup yang khusus (menjadi romo, bruder, frater dan suster).
Peran dan tugas terakhir dari keluarga adalah ikut serta dalam kehidupan dan misi Gereja. Bersama dengan gerak dinamika lingkungan, stasi dan paroki, hendaknya setiap anggota keluarga (yang dipelopori oleh orang tua) mendorong setiap anggota keluarga untuk terlibat aktif dalam kehidupan menggereja. Dalam ranah ini, orang tua memainkan peran penting. Peran penting ini ditunjukkan dengan menjadi dan memberikan teladan kepada anak-anak. Keteladanan itu dapat dilakukan dengan keikutsertaan orang tua dalam setiap kegiatan menggereja, baik dalam lingkup lingkungan, stasi dan paroki. Harapannya, anak-anak pun akan melihat dan meneladani keaktifan hidup menggereja orang tua. Tapi, bagaimana jika orang tua malah tidak aktif dalam hidup menggereja?

rm. jenli, scj
Misdinar

Kata "misdinar" berasal dari bahasa Belanda yaitu misdienaar, yang berarti “asisten Misa”. Sesuai dengan namanya, tugas-tugas misdinar adalah membantu imam dalam  merayakan Ekaristi. Misdinar tidak hanya berfungsi sebagai pelayan Tuhan pada saat Misa, tetapi juga di luar pelayanan Misa (misal: membantu imam dalam pelayanan sakraman-sakramental dan ibadat-ibadat lain). Di lain pihak, ada yang mengenal istilah misdinar dengan sebutan putera-puteri Altar
Adapun janji-janji misdinar yang harus selalu dipegang adalah sebagai berikut: 1) bertanggung jawab penuh atas tugas yang diberikan dan dipercayakan; 2) menaati peraturan dan tata tertib organisasi misdinar; 3) menjaga nama baik misdinar; 4) menjadi pewarta kabar gembira di dalam keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat; 5) berkelakuan baik.

frd. jenli, scj


La présence de Dieu qui accompagne toujours nos vies est un mystère. Sa présence réelle qu'Il soit là ou ici, nous ne pourrons peut-être...